Rabu, 16 Februari 2011

Belajar membuat lapbook

Lapbook pertama Syamil
Baru setelah menjani homeschooling aku mengenal apa itu Lapbook, norak yah! Selama disekolah aku belum pernah tau dan tidak pernah dengar sama sekali. Nah..aku juga sempat bingung waktu pertamakali membaca tentang Lapbook di rumah inspirasi.com. Lantas aku coba browsing untuk mengetahui lebih jauh tentang lapbook dan ternyata aku langsung suka banget dengan metode belajar dengan menggunakan Lapbook. Sepertinya Belajar tematik dan kategori menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Kemudian saya langsung mencoba membuat Lapbook untuk Syamil temanya adalah binatang dan Ninis temanya adalah binatang peliharaan. Awalnya saya Cuma mengumpulkan gambar-gambar tentang berbagai spesies binatang dan mengkategorikannya berdasarkan jenisnya, misalnya binatang apa saja yang termasuk mamalia, reptilia, unggas, ampibi, hewan air dan hewan peliharaan. Gambar2 binatangnya kami ambil dari internet dan di print lalu ditempelkan berdasarkan kategori masing-masing.

Hari berikutnya, Syamil membuat lapbook tentang Energi yang dibagi dari energy panas, gerak dan bunyi juga berbagai macam sumber energy, beserta contoh-contohnya. Ninis tidak mau kalah membuat lapbook mengenai Panca indera tentang kegunaan dan cara merawatnya. Mereka senang karena membuat lapbook itu sambil menggambar dan memotong-motong kertas yang merupakan hobinya.


Meski rumah jadi amburadul, tapi anak-anak suka dan merasa bangga dengan karya sederhana mereka, membuat lapbook itu jadi seperti belajar sambil berkarya…..

Point of no return (Tekadku untuk ber Homeschooling)

Sudah hampir sebulan lamanya aku tidak menulis artikel di blog ini, homeschooling anak-anakku berjalan meski sedikit tersendat, Karena aku mulai terjebak dengan metode school at home yang rasanya berat banget buat dijalankan. Memang saya sudah di warning oleh beberapa tulisan seniorku dalam homeschooling seperti mas Aar (Rumah inspirasi.com), yang mengatakan bahwa memindahkan konsep belajar ala sekolah ke rumah itu sangat berat, dan itu memang benar sekali…

Aku sendiri, jadi tidak lebih seperti ibu guru killer yang seringkali marah dan kesal pada anakku bila mengerjakan tugas latihan sambil main-main dan sambil mengerjakan ini itu. Hhhhhh..meski tingkat stressnya beda bila dibanding ketika mereka masih sekolah, lebih santai tapi tetap saja beraaat. Mungkin juga masa-masa awal ini merupakan masa deschooling bagi anak-anakku yang mengalami transisi dari kebiasaan sekolah kepada homeschooling.

Aku sepenuhnya sadar kok awal-awal dalam berHS tentu tidak mudah, aku dan anak-anakku masih mencari bentuk dan metode belajar yang pas dan nyaman buat kami. Karena saya dibesarkan dalam kultur sekolah, tentu yang saya tahu hanya cara belajar ala sekolah, meski sambil mencoba-coba dan mempertimbangkan metode lainnya juga sepeti unschooling, unit studies, Charlote Manson dll. Namun aku nampaknya masih kagok dan harus mulai terbiasa untuk terus mencobanya.

Tapi homeschooling adalah pilihanku, pilihan terbaik bagi anak-anakku. Hal ini tetap membuatku harus terus semangat menjalaninya, Alhamdullilah, suami dan orangtuaku juga mendukungku. Sulit pada awalnya manis pada akhirnya, aku yakin akan hal itu…There is point of no return, aku sudah berada pada suatu titik dimana tidak ada kata untuk kembali dan menyesali keputusanku ber homeschooling, tidak ada kata menyerah dan karena itu semua akan jadi set back bagi hidupku. Tekadku harus selalu diperbarui setiap kali semangatku mengendur. Ini baru awal, it just a beginning, masih panjang waktu terbentang dihadapan anak-anakku, semoga dalam prosesnya berjalan dengan memberikan jejak-jejak terbaik yang memberi makna hidup yang positif bagi mereka kelak. Semoga…Amin ya Rabb