Sabtu, 09 April 2011

Perayaan maulid nabi Muhammad SAW

Ninis memakai baju setelan pink, syamil berpeci kuning sedang bersenandung shalawat
                                           

mengucapkan salam sebelum dan sesudah shalawat
                                             

Selesai tampil, Ninis tertawa senang, doi memang seneng tampil
                                     

Selain homeschooling, kesibukan anak-anakku sehari-hari adalah kursus bahasa Inggris dan mengaji. Tentu semua orangtua menginginkan anak-anaknya belajar, tidak saja ilmu dunia namun juga ilmu akhirat. Harapan orangtua manapun pasti  ingin buah hatinya pandai dan shaleh/shaleha. Sebagai umat muslim tentu bisa membaca alqur'an adalah keharusan, disamping pengetahuan agama yang dapat menjadi pedoman hidup bagi kita.

Sebelum homeschooling, anak-anak biasa mengaji dirumah dengan memanggil guru ngaji. Karena saat itu aku pikir anak-anak tentu sangat lelah karena beraktifitas sekolah dan kursus hingga pelajaran mengaji akhirnya dilakukan dengan memanggil guru ke rumah. Setelah menjalani homeschooling, anak-anak belajar siang atau malam hari, hingga sore hari digunakan untuk kursus dan mengaji di Masjid yang dijadikan TPA (Taman Pendidikan AlQuran) dekat rumah. Kursus bahasa inggris dan mengaji merupakan belajar wajib bagi anak-anakku karena disaat itulah waktu bagi anak-anakku bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. jadi meski tidak sekolah, anak-anakku tidak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan sebayanya.

Saat perayaan Maulid Nabi tempo hari, anak-anak TPA,  termasuk Syamil dan Nisrina didaulat untuk maju ke depan melatunkan senandung shalawat dan asmaul husna, juga pembacaan ayat-ayat Al Quran. Anak-anak senang dan gembira, apalagi setelah turun panggung mereka mendapatkan bingkisan makanan ringan yang dinikmati bersama-sama.

Selasa, 05 April 2011

Ijasah dan sertifikat penting ? yang penting keahlian dong!!! (Curhat colongan)

Memiliki Ijazah apalagi kesarjanaan adalah sebuah kebanggaan bagiku terutama buat orangtuaku, gimana ngga keren, aku memiliki dua lembar ijazah, sarjana psikologi dan ijazah profesi psikolog. Selama 6 tahun lebih aku berjibaku dengan keringat dan air mata untuk meraih gelar kesarjanaan tersebut. Baru sekarang aku sadari sesadar-sadarnya bahwa psikologi bukanlah bidang yang benar-benar kuminati. Meski demikian nilaiku cukup baik dan masa kuliah kulewati dengan lancar. Yah aku hanya sekedar tertarik tapi tidak punya passion yang membuatku mencintai  profesiku ini.

Aku ingat saat itu aku ingin sekali masuk fakultas sastra Inggris, atau paling tidak akademi bahasa asing, karena aku suka menulis dan membaca cerpen atau novel. Namun ortu tercinta dengan setengah memohon agar aku memilih jalur kesarjanaan dan akhirnya pilihanku adalah psikologi, itupun aku pilih karena tidak banyak berhubungan dengan pelajaran yang berkaitan dengan angka-angka yang aku benci..
Aku juga sangat menyukai bidang tata rias rambut dan make up, bahkan sejak SD aku sering main dandan2an dengan teman2 dan aku yang senang hati mendandani teman2. Saat SMP bahkan aku sudah bisa memotong rambut secara otodidak. Pokoknya senang banget deh dan rasanya puas banget melihat hasil karyaku yang kata orang cukup bagus padahal aku tidak pernah kursus lho.

Aku lulus kuliah profesi psikolog dengan IPK yang cukup baik 3.30, namun Ijasah sarjanaku "hanya terpakai" untuk bekerja selama 1,5 tahun saja, karena  aku memilih resign dari pekerjaanku dan memilih mengurus anak pertamaku yang baru aku lahirkan. Entah ilham dari mana, tiba2 terlintas begitu saja keinginan untuk berwira usaha aja ah.., untunglah  Allah memberikan jalan bagiku untuk mewujudkan keinginanku yang terpendam selama ini yaitu menggeluti bidang tata rias wajah dan rambut. Akhirnya menjelang setahun usia anak pertamaku, aku mulai membuka usaha salon kecantikan. Dengan modal minimalis dan kenekatan, karena aku hanya kursus kecantikan 2 bulan saja ditambah seminar dan workshop singkat, aku merasa percaya diri untuk menjadi pengusaha salon rumahan.

Kini sudah hampir 8 tahun usaha salon ku memang berjalan lancar, meski tidak ada kenaikan omset yang signifikan, dikarenakan saat ini prioritasku adalah keluarga, maka usaha salonku cenderung jalan ditempat, namun aku sangat menikmati profesiku. Dengan penghasilan 2-3 juta perbulan lumayanlah buatku, tanpa harus bekerja keluar rumah, berpanas-panas di jalan, pergi pagi pulang malam, mengeluarkan ongkos transport dan makan siang, aku bisa mendampingi anak-anakku 24 jam, dan selalu ada disaat mereka membutuhkanku.

Lalu gimana nasib ijazah sarjanaku dan Sertifikat Izin Praktek Psikolog ku ? hmmm tersimpan manis di lemariku, yaaah....nggak rugi juga sih aku kuliah, karena justru aku mendapatkan jodohku di kampus, dan paling tidak setahun sekali aku kebanjiran job untuk mengadakan psikotes bagi anak2 TK. Meski pekerjaan itu tidak terlalu aku sukai, tapi lumayanlah...asal ga sering2, beteeee abis....mending nyalon ah... hehe..

Makanya aku  akan membebaskan pilihan bagi anak-anaku kelak terhadap  profesi pilihannya yang sungguh-sungguh diminatinya. Aku berkaca pada diriku, lihat nih....justru sertifikat kursus2 singkat kecantikan yang kini selama 8 tahun menghidupiku dan membuatku merasa berarti dan bermanfaat bagi orang lain. Bukan dari  Ijasah sarjana dan profesi psikolog yang aku kejar bertahun-tahun lamanya dan menghabiskan tidak sedikit biaya. menyesal...? tidak juga sih, bagiku semua ilmu bermanfaat kok, namun aku ingin anak-anakku tidak mengalaminya. aku ingin anak2ku hanya mengejar ilmu yang benar-benar disukai dan menyokong kariernya kelak, be efective, be focus, be a specialist, than you'll be a winner, in every way you want to be .....jadi ijazah apa sertifikat? bagiku itu pilihan, sekedar ijazah tanpa keahlian nol besar, sertifikat tanpa keahlian juga sia-sia, kemauan belajar dan fokus pada bidang yang kita minati sangatlah cukup, semuanya hanya selembar kertas thok!,