Rabu, 04 Mei 2011

field trip ke monas

Tanggal 30 April 2011 kemarin kami melakukan field trip ke Monas, seingatku hanya 2 kali aku mengunjungi monas seumur hidupku itupun waktu aku masih sekolah SD dan SMP saat studi tour. kita berangkat menggunakan angkutan umum bis kota, namun ketika tiba dijakarta hujan deras mengguyur dan akhirnya kita melanjutkan perjalanan menggunakan busway hingga stasiun kebon sirih. hujan kembali menderas , tadinya kita berencana untuk langsung ke monas akhirnya kita menuju Megaria untuk mengisi perut dengan bernostalgia dengan ayam bakarnya. wah jadi inget waktu kuliah dulu.

setelahhujan reda, perut sudah terisi dan menunaikan shalat dhuhur,  kami melanjutkan perjalanan ke Monas.
Tidak banyak berubah dari monas terutama interior /bagian dalam nya, diorama masih seperti dulu, kecuali taman diluar monas yang kini sangat terawat dan asri, hanya saja banyaknya pedagang asongan cukup mengganggu. Aku senang sekali bisa mengajak anak-anakku melihat-lihat diorama sambil sedikit banyak kuceritakan secara singkat cerita dalam diorama itu. syamil dan ninis tampak sangat antusias dan menyimak ceritaku dia juga tampak penasaran dan banyak bertanya.

Ketika kami ingin menuju puncak monas, waduh...ngantri boo. karena kebetulan hari ini week end, jadi sedang banyak2nya pengunjung. daripada harus ngantri berjam-jam akhirnya kita memilih beristirahat di pelataran monas, kemudian berkeliling dengan menyewa speda tandem. Dengan membayar Rp.15 ribu untuk 30 menit berkeliling monas, lumayanlah kebetulan cuaca sore ini cerah meski sebelumnya hujan deras. asyik anak-anak enjoy banget.

Setelah puas berkeliling monas saatnya kita menunaikan shalat ashar. karena monas letaknya bersebelahan dengan masjid Istiqlal maka kita shalat disana.  Agak gondok dan kesel juga sih karena sempat nyasar nyari kamar kecil di masjid seluas Istiqlal yang konon terbesar di asia tenggara, udah gitu semua pintu wc terkunci lagi, akhirnya aku nekad aja pipis di pancuran disamping kamar kecil. mumpung sepi.hehehe
eh karena aku ga bawa mukena bingung deh cari2 mukena pinjaman yang biasanya disediakan gratis di masjid. Eh ada ibu2 yang aku kira berbaik hati mau meminjamkan mukenanya, taunya minta imbalan meski katanya seikhlasnya. ditempat penitipan sepatu/sendal juga gitu... seikhlasnya. ga papalah berbagi rezeki.

Setelah selesai shalat kita berencana mencoba es krim Ragusa yang kesohor itu, letaknya di belakang masjid. Tapi penuh banget, jadi batal deh,  malah jadi beli makanan nggak jelas dan mahal pula..uhh
Hari mulai sore, badan mulai capek...akhirnya kita back to Tangerang.  anak-anak  senang banget udah dapat pengalaman menyenangkan hari ini.


Berpose di depan gedung Bank Indonesia

Didepan Monas     
 
Melihat-lihat diorama sambil bercerita

menuju puncak monas, meski akhirnya gagal karena antrean yang membludak
Salah satu diorama yang menggambarkan tentang derita para romusha pada saat penjajahan jepang

Saat teks proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta

Keliling monas dengan sepeda tandem, asyik banget
kring kring goes goes...

Berpose didepan masjid Istiqlal 


Syamil nebeng di depan bareng supir bajaj
Ninis menikmati pengalaman naik bajaj dekat supir

Sabtu, 09 April 2011

Perayaan maulid nabi Muhammad SAW

Ninis memakai baju setelan pink, syamil berpeci kuning sedang bersenandung shalawat
                                           

mengucapkan salam sebelum dan sesudah shalawat
                                             

Selesai tampil, Ninis tertawa senang, doi memang seneng tampil
                                     

Selain homeschooling, kesibukan anak-anakku sehari-hari adalah kursus bahasa Inggris dan mengaji. Tentu semua orangtua menginginkan anak-anaknya belajar, tidak saja ilmu dunia namun juga ilmu akhirat. Harapan orangtua manapun pasti  ingin buah hatinya pandai dan shaleh/shaleha. Sebagai umat muslim tentu bisa membaca alqur'an adalah keharusan, disamping pengetahuan agama yang dapat menjadi pedoman hidup bagi kita.

Sebelum homeschooling, anak-anak biasa mengaji dirumah dengan memanggil guru ngaji. Karena saat itu aku pikir anak-anak tentu sangat lelah karena beraktifitas sekolah dan kursus hingga pelajaran mengaji akhirnya dilakukan dengan memanggil guru ke rumah. Setelah menjalani homeschooling, anak-anak belajar siang atau malam hari, hingga sore hari digunakan untuk kursus dan mengaji di Masjid yang dijadikan TPA (Taman Pendidikan AlQuran) dekat rumah. Kursus bahasa inggris dan mengaji merupakan belajar wajib bagi anak-anakku karena disaat itulah waktu bagi anak-anakku bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. jadi meski tidak sekolah, anak-anakku tidak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan sebayanya.

Saat perayaan Maulid Nabi tempo hari, anak-anak TPA,  termasuk Syamil dan Nisrina didaulat untuk maju ke depan melatunkan senandung shalawat dan asmaul husna, juga pembacaan ayat-ayat Al Quran. Anak-anak senang dan gembira, apalagi setelah turun panggung mereka mendapatkan bingkisan makanan ringan yang dinikmati bersama-sama.

Selasa, 05 April 2011

Ijasah dan sertifikat penting ? yang penting keahlian dong!!! (Curhat colongan)

Memiliki Ijazah apalagi kesarjanaan adalah sebuah kebanggaan bagiku terutama buat orangtuaku, gimana ngga keren, aku memiliki dua lembar ijazah, sarjana psikologi dan ijazah profesi psikolog. Selama 6 tahun lebih aku berjibaku dengan keringat dan air mata untuk meraih gelar kesarjanaan tersebut. Baru sekarang aku sadari sesadar-sadarnya bahwa psikologi bukanlah bidang yang benar-benar kuminati. Meski demikian nilaiku cukup baik dan masa kuliah kulewati dengan lancar. Yah aku hanya sekedar tertarik tapi tidak punya passion yang membuatku mencintai  profesiku ini.

Aku ingat saat itu aku ingin sekali masuk fakultas sastra Inggris, atau paling tidak akademi bahasa asing, karena aku suka menulis dan membaca cerpen atau novel. Namun ortu tercinta dengan setengah memohon agar aku memilih jalur kesarjanaan dan akhirnya pilihanku adalah psikologi, itupun aku pilih karena tidak banyak berhubungan dengan pelajaran yang berkaitan dengan angka-angka yang aku benci..
Aku juga sangat menyukai bidang tata rias rambut dan make up, bahkan sejak SD aku sering main dandan2an dengan teman2 dan aku yang senang hati mendandani teman2. Saat SMP bahkan aku sudah bisa memotong rambut secara otodidak. Pokoknya senang banget deh dan rasanya puas banget melihat hasil karyaku yang kata orang cukup bagus padahal aku tidak pernah kursus lho.

Aku lulus kuliah profesi psikolog dengan IPK yang cukup baik 3.30, namun Ijasah sarjanaku "hanya terpakai" untuk bekerja selama 1,5 tahun saja, karena  aku memilih resign dari pekerjaanku dan memilih mengurus anak pertamaku yang baru aku lahirkan. Entah ilham dari mana, tiba2 terlintas begitu saja keinginan untuk berwira usaha aja ah.., untunglah  Allah memberikan jalan bagiku untuk mewujudkan keinginanku yang terpendam selama ini yaitu menggeluti bidang tata rias wajah dan rambut. Akhirnya menjelang setahun usia anak pertamaku, aku mulai membuka usaha salon kecantikan. Dengan modal minimalis dan kenekatan, karena aku hanya kursus kecantikan 2 bulan saja ditambah seminar dan workshop singkat, aku merasa percaya diri untuk menjadi pengusaha salon rumahan.

Kini sudah hampir 8 tahun usaha salon ku memang berjalan lancar, meski tidak ada kenaikan omset yang signifikan, dikarenakan saat ini prioritasku adalah keluarga, maka usaha salonku cenderung jalan ditempat, namun aku sangat menikmati profesiku. Dengan penghasilan 2-3 juta perbulan lumayanlah buatku, tanpa harus bekerja keluar rumah, berpanas-panas di jalan, pergi pagi pulang malam, mengeluarkan ongkos transport dan makan siang, aku bisa mendampingi anak-anakku 24 jam, dan selalu ada disaat mereka membutuhkanku.

Lalu gimana nasib ijazah sarjanaku dan Sertifikat Izin Praktek Psikolog ku ? hmmm tersimpan manis di lemariku, yaaah....nggak rugi juga sih aku kuliah, karena justru aku mendapatkan jodohku di kampus, dan paling tidak setahun sekali aku kebanjiran job untuk mengadakan psikotes bagi anak2 TK. Meski pekerjaan itu tidak terlalu aku sukai, tapi lumayanlah...asal ga sering2, beteeee abis....mending nyalon ah... hehe..

Makanya aku  akan membebaskan pilihan bagi anak-anaku kelak terhadap  profesi pilihannya yang sungguh-sungguh diminatinya. Aku berkaca pada diriku, lihat nih....justru sertifikat kursus2 singkat kecantikan yang kini selama 8 tahun menghidupiku dan membuatku merasa berarti dan bermanfaat bagi orang lain. Bukan dari  Ijasah sarjana dan profesi psikolog yang aku kejar bertahun-tahun lamanya dan menghabiskan tidak sedikit biaya. menyesal...? tidak juga sih, bagiku semua ilmu bermanfaat kok, namun aku ingin anak-anakku tidak mengalaminya. aku ingin anak2ku hanya mengejar ilmu yang benar-benar disukai dan menyokong kariernya kelak, be efective, be focus, be a specialist, than you'll be a winner, in every way you want to be .....jadi ijazah apa sertifikat? bagiku itu pilihan, sekedar ijazah tanpa keahlian nol besar, sertifikat tanpa keahlian juga sia-sia, kemauan belajar dan fokus pada bidang yang kita minati sangatlah cukup, semuanya hanya selembar kertas thok!,

Selasa, 22 Maret 2011

ujian kenaikan sabuk

baris dulu sesuai kelompok warna sabuknya 

 
mendengarkan pengarahan master sabeum sebelum ujian dimulai 



Siap!....ujian dimulai 

Tanggal 20 Maret kemarin, Pertamakalinya Syamil menghadapi ujian kenaikan tingkat pergantian sabuk dari sabuk putih ke sabuk kuning.  Dengan diantar Abi  ke tempat ujian yaitu di kawasan bandara Soetta. Syamil dengan semangat menghadapi ujian pertamannya. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar..Nak jangan pernsh mengendur semangatmu yahh terus maju dan berlatih sampai sabuk hitam seperti yang kamu cita-citakan...jadi anak yang pemberani dan tangguh!!! selalu jadi jagoan ummi yang tersayang...

Kamis, 03 Maret 2011

field trip ke kebun binatang ragunan

burung pelikan, ternyata besar juga yah... 

 our happy family

waaa...kera mukanya luicu banget kayak siapa ya? 

naik delman, keliling ragunan asyiiik... 

ihhh abi kayaknya yang ketakutan tuh...anaknya sih santai aja hehe.. 

habis keliling, main mobiol-mobilan deh.. 
lihat rusa, Ninis maunya kasih makan daun..jangan ntar rusanya mencret lho.. 

hiiiy ular albino lagi makan tikus,syamil tapi ga takut tuh! 

Rabu, 16 Februari 2011

Belajar membuat lapbook

Lapbook pertama Syamil
Baru setelah menjani homeschooling aku mengenal apa itu Lapbook, norak yah! Selama disekolah aku belum pernah tau dan tidak pernah dengar sama sekali. Nah..aku juga sempat bingung waktu pertamakali membaca tentang Lapbook di rumah inspirasi.com. Lantas aku coba browsing untuk mengetahui lebih jauh tentang lapbook dan ternyata aku langsung suka banget dengan metode belajar dengan menggunakan Lapbook. Sepertinya Belajar tematik dan kategori menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Kemudian saya langsung mencoba membuat Lapbook untuk Syamil temanya adalah binatang dan Ninis temanya adalah binatang peliharaan. Awalnya saya Cuma mengumpulkan gambar-gambar tentang berbagai spesies binatang dan mengkategorikannya berdasarkan jenisnya, misalnya binatang apa saja yang termasuk mamalia, reptilia, unggas, ampibi, hewan air dan hewan peliharaan. Gambar2 binatangnya kami ambil dari internet dan di print lalu ditempelkan berdasarkan kategori masing-masing.

Hari berikutnya, Syamil membuat lapbook tentang Energi yang dibagi dari energy panas, gerak dan bunyi juga berbagai macam sumber energy, beserta contoh-contohnya. Ninis tidak mau kalah membuat lapbook mengenai Panca indera tentang kegunaan dan cara merawatnya. Mereka senang karena membuat lapbook itu sambil menggambar dan memotong-motong kertas yang merupakan hobinya.


Meski rumah jadi amburadul, tapi anak-anak suka dan merasa bangga dengan karya sederhana mereka, membuat lapbook itu jadi seperti belajar sambil berkarya…..

Point of no return (Tekadku untuk ber Homeschooling)

Sudah hampir sebulan lamanya aku tidak menulis artikel di blog ini, homeschooling anak-anakku berjalan meski sedikit tersendat, Karena aku mulai terjebak dengan metode school at home yang rasanya berat banget buat dijalankan. Memang saya sudah di warning oleh beberapa tulisan seniorku dalam homeschooling seperti mas Aar (Rumah inspirasi.com), yang mengatakan bahwa memindahkan konsep belajar ala sekolah ke rumah itu sangat berat, dan itu memang benar sekali…

Aku sendiri, jadi tidak lebih seperti ibu guru killer yang seringkali marah dan kesal pada anakku bila mengerjakan tugas latihan sambil main-main dan sambil mengerjakan ini itu. Hhhhhh..meski tingkat stressnya beda bila dibanding ketika mereka masih sekolah, lebih santai tapi tetap saja beraaat. Mungkin juga masa-masa awal ini merupakan masa deschooling bagi anak-anakku yang mengalami transisi dari kebiasaan sekolah kepada homeschooling.

Aku sepenuhnya sadar kok awal-awal dalam berHS tentu tidak mudah, aku dan anak-anakku masih mencari bentuk dan metode belajar yang pas dan nyaman buat kami. Karena saya dibesarkan dalam kultur sekolah, tentu yang saya tahu hanya cara belajar ala sekolah, meski sambil mencoba-coba dan mempertimbangkan metode lainnya juga sepeti unschooling, unit studies, Charlote Manson dll. Namun aku nampaknya masih kagok dan harus mulai terbiasa untuk terus mencobanya.

Tapi homeschooling adalah pilihanku, pilihan terbaik bagi anak-anakku. Hal ini tetap membuatku harus terus semangat menjalaninya, Alhamdullilah, suami dan orangtuaku juga mendukungku. Sulit pada awalnya manis pada akhirnya, aku yakin akan hal itu…There is point of no return, aku sudah berada pada suatu titik dimana tidak ada kata untuk kembali dan menyesali keputusanku ber homeschooling, tidak ada kata menyerah dan karena itu semua akan jadi set back bagi hidupku. Tekadku harus selalu diperbarui setiap kali semangatku mengendur. Ini baru awal, it just a beginning, masih panjang waktu terbentang dihadapan anak-anakku, semoga dalam prosesnya berjalan dengan memberikan jejak-jejak terbaik yang memberi makna hidup yang positif bagi mereka kelak. Semoga…Amin ya Rabb