Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2010, banyak hal yang terjadi, baik pada diri saya pribadi, keluarga kecil saya, keluarga besar saya dan bangsa Indonesia yang saya cintai ini. Rasanya tidak perlu saya ungkap kaleidoskop 2010 kemarin, banyak yang mungkin sudah terlupakan atau bahkan yang sengaja ingin saya lupakan. Namun banyak juga yang ingin saya kenang dan saya lanjutkan sebagai kontinuitas kegiatan yang harusnya akan lebih baik lagi ditahun-tahun mendatang.
Salah satu hal terpenting yang terjadi di penghujung tahun ini adalah keputusan saya "mengambil" anak-anak saya dari sekolah, dan memaksimalkan peran saya sebagai orangtua yang mendidik dan membimbing mereka. Keberanian mendidik sendiri anak-anak, bukanlah hal yang terjadi begitu saja, saya perlu waktu berbulan-bulan untuk menumbuhkannya.
Berdiskusi dengan suami, mencari informasi melalui internet, berkomunikasi dengan praktisi yang lebih dulu terjun ke dunia homeschooling, bagi saya sudah cukup membekali saya. Agama saya sendiri bahkan menganjurkan bagi seorang ibu untuk menjadi madrasah (sekolah) bagi anak-anaknya. Karena itulah tugas sekaligus kewajiban seorang ibu yang paling mulia.
Harapan kami terhadap masa depan anak-anak kami tidak ingin terlalu muluk, kami hanya ingin agar kelak mereka menjadi orang yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Karena itu kami bertekad untuk membekali mereka dengan berbagai ilmu yang juga bermanfaat bagi kehidupan mereka, tidak hanya pelajaran-pelajaran sekolah, tapi yang terpenting adalah life skill dan kompetensi pada satu bidang pekerjaan yang haruslah mereka minati, agar mereka bisa menikmati dan mencintai profesi mereka karena memiliki "passion" didalamnya.
Mereka masih kecil untuk mengerti "passion" dalam pekerjaan? bagi kami tidak!, semenjak dini mereka kami akan perkenalkan pada berbagai jenis profesi dan kami harus peka terhadap bakat dan minat mereka. anak-anak memang cenderung akan berganti jawaban jika ditanyakan tentang cita-citanya, hari ini jadi dokter, besok jadi polisi, besok lagi jadi guru, itulah anak-anak. Namun pengenalan sejak dini terhadap beragam profesi justru akan membantu mereka mengenali bakat dan minatnya sendiri.
Tugas orangtua adalah memfasilitasi keingintahuan tanpa berusaha mengarahkan keinginan kita, karena merekalah kelak yang akan menjalani profesi tersebut sebagai jalan hidupnya. Learning to work, working to make a living, working with all of passion will do the best result.
Resolusi kami ditahun depan adalah semoga perjalanan Homeschooling kami yang kami canangkan di akhir tahun ini akan berjalan lancar dan diberi kemudahan oleh Allah SWT meski kami yakin pastilah kami akan menapaki jalan yang mungkin terjal berliku ditahun depan, but we'll take that chance.Insya Allah...
Happy homeschooling at new year!!!!
Annisya adalah kependekan dari Anakku Ninis & Syamil, kami membuat blog ini sebagai catatan atau jurnal kegiatan keluarga kecil kami terutama kegiatan belajar kedua buah hati kami sejak kecil sebagai homeschooler hingga beranjak dewasa...bukan hanya anak2 kami tapi kami juga kami sekeluarga masih.senantiasa belajar menyikapi hidup yang fana dan berbekal untuk hidup yang lebih kekal..
Jumat, 31 Desember 2010
Happy (Homeschooling) New Year 2011
Kamis, 30 Desember 2010
Anak bukanlah kertas kosong
Saya menyalin tulisan ini dari blognya praktisi Homeschooling keluarga Sumardiono di Rumahinspirasi.com. Isinya bagus, sekaligus mengubah mind set saya selama ini tentang pendidikan anak.Tabula rasa berasal dari bahasa Latin, artinya kertas kosong. Tabula rasa merujuk pada teori yang menyatakan bahwa anak-anak terlahir tanpa isi, dengan kata lain kosong. Teori ini dipengaruhi oleh pemikiran John Locke, dari abad 17.
Dari potongan singkat posting mbak Lea, yang adalah seorang guru, aku jadi tahu bahwa teori tabula rasa ini menjadi salah satu asumsi dasar dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah kita pada saat ini. Dengan asumsi bahwa anak adalah sebuah kertas kosong, maka tugas guru dan proses pendidikan adalah mengisi kertas kosong itu dengan informasi-informasi (pelajaran) yang penting bagi anak-anak.
**
Dalam pandangan pribadiku, teori yang memandang anak-anak sebagai sebuah kertas kosong adalah sangat reduktif. Hal ini mengakibatkan sentral proses belajar (pendidikan) terletak pada orang dewasa dan anak-anak dikondisikan pasif (karena mereka hanya sebuah kertas kosong yang harus diisi).
Pengetahuan tentang teori tabula rasa ini bagiku menjelaskan fenomena anak-anak sekolah yang pasif dan kegiatan utama guru yang fokusnya mengajar (mengisi kertas kosong). Keterlibatan anak tak dianggap terlalu penting, apalagi pendapat dan inisiatif anak. Kalaupun ada, semua itu hanya bersifat suplemen untuk kegiatan utama tadi, yaitu mengisi pada anak-anak.
Lebih repot lagi, pandangan tentang “kertas kosong” itu terbawa terus dalam pendidikan, walaupun siswa sudah setingkat SMA. Proses belajar tingkat SMA sama saja dengan tingkat SD, seperti menulisi kertas kosong dan anak-anak memperlakukan dirinya seperti kertas kosong (alias pasif). Itulah model belajar yang diketahui dan diyakini kebenarannya, baik oleh guru maupun siswa.
Terus, proses belajar dengan cara “menulisi kertas kosong” itu berlanjut hingga tingkat perguruan tinggi. Dosen mencari cara gampang yaitu hanya mengajar (knowledge transfer). Dosen malas untuk berdiskusi, mahasiswa juga tak mau repot melakukan riset dan belajar sebelum masuk kelas.
Lalu, sampai kapan “kertas kosong” itu berisi?
**
Bagiku, anak-anak adalah individu dengan segala sifatnya. Memang ada bagian individu pada anak-anak yang belum berkembang seperti orang dewasa. Tetapi, individu itu bukan kertas kosong yang pasif menerima apapun pengaruh dari lingkungannya.
Ketika kita memandang anak sebagai individu, itu akan membuat proses pendidikan yang kita lakukan berbeda dibandingkan jika kita memandang anak sebagai kertas kosong. Dengan memandang anak sebagai individu, kita lebih melibatkan anak dalam proses pendidikan untuk dirinya sendiri; kita mendengarkan dan memperhatikan pendapat mereka serta menjadikannya sebuah hal yang penting dalam proses pendidikan anak.
Karena sudut pandang itu, aku merasa lebih setuju dengan pandangan Robert T. Kiyosaki (yang kelihatannya berakar dari pemikiran Plato) yang menyatakan bahwa esensi pendidikan itu adalah mengeluarkan (potensi), bukan mengisi anak dengan potongan-potongan informasi.
Menurutku, pandangan itu lebih tepat. Dan pandangan seperti itulah yang menjadi salah satu spirit di dalam homeschooling kami.
Rabu, 29 Desember 2010
Surat terbuka Untuk Kapten Timnas
Saya menemukan sebuah surat terbuka terhadap timnas sepakbola yang bagus sekali untuk menjadi refleksi kita. Surat ini ditulis oleh ES Ito, seorang novelis penulis buku “Rahasia Meede”, dalam blognya: http://itonesia.com/. Semalam saya membaca surat terbuka ini dan berkaca-kaca saat membacanya, awalnya saya tidak berani menonton pertandingan final leg kedua setelah sebelumnya menelan kekecewaan mendalam pada pertandingan leg pertama di Malaysia.
Terimakasih E.S Ito, tulisanmu menggugah saya untuk melihat kegagalan Timnas kemarin dengan cara yang berbeda. Akhirnya saya berani menyaksikan pertandingan finalnya meski hanya melalui televisi, dan ikut bersorak gembira saat Timnas kita berhasil menggetarkan gawang Timnas Malaysia dengan 2-1. Bagi saya malam ini adalah "The Real Final" bagi Indonesia. Timnas is "The Real Champion" .
Surat untuk Firman Utina
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia.
Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka.
Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita.
Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita.
Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka.
Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal.
Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri.
Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan.
Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan,
kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat.
Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya.
Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita.
Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi,
karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka.
Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua,
bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian.
Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip.
Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya.
Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera.
Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu.
Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket.
Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola.
Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat.
Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas.
Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran.
Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada.
Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita.
Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik.
Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah.
Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar.
Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia,
bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi.
Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu,
sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan.
Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa,
sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan.
Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri.
Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa,
kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang.
Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa.
Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan.
Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan.
Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa.
Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola.
Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu.
Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara.
Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya.
Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan.
Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas.
Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan.
Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!
Terimakasih E.S Ito, tulisanmu menggugah saya untuk melihat kegagalan Timnas kemarin dengan cara yang berbeda. Akhirnya saya berani menyaksikan pertandingan finalnya meski hanya melalui televisi, dan ikut bersorak gembira saat Timnas kita berhasil menggetarkan gawang Timnas Malaysia dengan 2-1. Bagi saya malam ini adalah "The Real Final" bagi Indonesia. Timnas is "The Real Champion" .
Surat untuk Firman Utina
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia.
Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka.
Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita.
Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita.
Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka.
Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal.
Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri.
Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan.
Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan,
kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat.
Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya.
Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita.
Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi,
karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka.
Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua,
bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian.
Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip.
Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya.
Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera.
Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu.
Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket.
Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola.
Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat.
Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas.
Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran.
Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada.
Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita.
Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik.
Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah.
Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar.
Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia,
bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi.
Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu,
sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan.
Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa,
sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan.
Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri.
Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa,
kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang.
Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa.
Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan.
Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan.
Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa.
Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola.
Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu.
Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara.
Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya.
Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan.
Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas.
Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan.
Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!
Belajar dari Timnas Garuda
Setelah semalam Timnas sepakbola kita berhasil "mengalahkan" Malaysia 2-1, rasanya legaaa banget meski kemenangan kita sangat Ironis karena kita tidak bisa menjadi kampiun di ajang AFF kali ini, meski hanya kalah sekali saja dari enam pertandingan. Namun saya sangat bersyukur dan berterimakasih pada Timnas yang tetap bersemangat berjuang dan memberikan permainan yang menghibur sekaligus mendebarkan bagi Indonesia.
Melihat fenomena euphoria masyarakat kita pada sepakbola saat Timnas masih tak terkalahkan, memang terkesan berlebihan dan justru membebani Timnas dengan sejuta pengharapan "harus menang". Segala "ritual" tidak penting yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh Timnas sebelum berangkat ke Malaysia seakan membuat stress tersendiri bagi Timnas dan dibuktikan dengan kekalahan 3-0 di Stadion Bukit Jalil.
Dari Timnas kita belajar bahwa pengharapan yang cenderung jadi tuntutan yang berlebihan dan banyaknya campur tangan pihak-pihak yang sesungguhnya hanya bermuatan politis, hanya membuyarkan konsentrasi bermain dan mematikan kreatifitas timnas. Untunglah Timnas kita lekas bangkit dan kembali menunjukan semangat juangnya semalam. Meskipun kita tidak bisa mengangkat piala, bangsa Indonesia akan terus cinta Timnas.
Kita bisa belajar dari Timnas bila dikaitkan dengan proses belajar anak kita. Harapan dan tuntutan orang tua yang berlebihan terhadap anak kita, tentu akan membebani jiwanya hingga bisa mematikan kreativitasnya, menghilangkan kegembiraannya dalam melewati proses belajarnya. Bisa dibayangkan bila hal itu terjadi, mungkin anak kita tetap bisa mendapat nilai akademis yang memuaskan, karena tuntutan sekolah hanyalah sekedar nilai-nilai tes, yang kebanyakan terdiri hafalan-hafalan tanpa makna, yang buat sebagian anak sekolahan, "belajar" diakukan bila menjelang ulangan atau tes semesteran dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam).
Kerja keras Timnas di lima pertandingan yang dimenangkan sangatlah harus diapresiasi, janganlah hanya dengan satu kekalahan yang membuat piala AFF diraih Jiran kita, membuat semua proses pertandingan dan keringat yang ditumpahkan Timnas jadi tidak berarti. Sama halnya dengan proses belajar anak kita, usahanya, kerja kerasnya jangan sekedar dinilai dari deretan angka-angka raportnya. Karena tidak sedikit anak sekolahan yang nilai raportnya bagus tapi kreativitasnya nol, atau bahkan hanya bisa menghafal pelajaran tapi tidak paham hingga mudah lupa tentang apa yang sudah dipelajarinya.
Karenanya biarlah anak kita belajar tanpa beban, tanpa paksaan dan tuntutan yang berlebihan meski sebagai orangtua kita tetaplah harus membimbing dan menuntun mereka untuk tidak hanya sekedar "melewati" proses belajarnya, tapi juga anak bisa "menikmati" nya dengan gembira.
Sekali lagi "bravo Timnas", bermain bola lah dengan gembira, nikmati setiap pertandingan karena ini hanyalah permainan. Menang ataupun kalah sebagian juga karena keberuntungan, tetaplah semangat........
~saya bukan komentator bola dan bukan penulis, cuma pencinta timnas dan anak-anakku~
Timnas Garuda
Melihat fenomena euphoria masyarakat kita pada sepakbola saat Timnas masih tak terkalahkan, memang terkesan berlebihan dan justru membebani Timnas dengan sejuta pengharapan "harus menang". Segala "ritual" tidak penting yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh Timnas sebelum berangkat ke Malaysia seakan membuat stress tersendiri bagi Timnas dan dibuktikan dengan kekalahan 3-0 di Stadion Bukit Jalil.
Dari Timnas kita belajar bahwa pengharapan yang cenderung jadi tuntutan yang berlebihan dan banyaknya campur tangan pihak-pihak yang sesungguhnya hanya bermuatan politis, hanya membuyarkan konsentrasi bermain dan mematikan kreatifitas timnas. Untunglah Timnas kita lekas bangkit dan kembali menunjukan semangat juangnya semalam. Meskipun kita tidak bisa mengangkat piala, bangsa Indonesia akan terus cinta Timnas.
Kita bisa belajar dari Timnas bila dikaitkan dengan proses belajar anak kita. Harapan dan tuntutan orang tua yang berlebihan terhadap anak kita, tentu akan membebani jiwanya hingga bisa mematikan kreativitasnya, menghilangkan kegembiraannya dalam melewati proses belajarnya. Bisa dibayangkan bila hal itu terjadi, mungkin anak kita tetap bisa mendapat nilai akademis yang memuaskan, karena tuntutan sekolah hanyalah sekedar nilai-nilai tes, yang kebanyakan terdiri hafalan-hafalan tanpa makna, yang buat sebagian anak sekolahan, "belajar" diakukan bila menjelang ulangan atau tes semesteran dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam).
Kerja keras Timnas di lima pertandingan yang dimenangkan sangatlah harus diapresiasi, janganlah hanya dengan satu kekalahan yang membuat piala AFF diraih Jiran kita, membuat semua proses pertandingan dan keringat yang ditumpahkan Timnas jadi tidak berarti. Sama halnya dengan proses belajar anak kita, usahanya, kerja kerasnya jangan sekedar dinilai dari deretan angka-angka raportnya. Karena tidak sedikit anak sekolahan yang nilai raportnya bagus tapi kreativitasnya nol, atau bahkan hanya bisa menghafal pelajaran tapi tidak paham hingga mudah lupa tentang apa yang sudah dipelajarinya.
Karenanya biarlah anak kita belajar tanpa beban, tanpa paksaan dan tuntutan yang berlebihan meski sebagai orangtua kita tetaplah harus membimbing dan menuntun mereka untuk tidak hanya sekedar "melewati" proses belajarnya, tapi juga anak bisa "menikmati" nya dengan gembira.
Sekali lagi "bravo Timnas", bermain bola lah dengan gembira, nikmati setiap pertandingan karena ini hanyalah permainan. Menang ataupun kalah sebagian juga karena keberuntungan, tetaplah semangat........
~saya bukan komentator bola dan bukan penulis, cuma pencinta timnas dan anak-anakku~
Timnas Garuda
Hari pertama homeschooling
belajar apa saja yang disukai, belajar kapan saja yang diinginkan, belajar pada siapa saja yang mencerahkan"
~homeschoolers quote~
Bangun pas jam 12 siang setelah shalat dhuhur berjamaah n makan siang baru diterusin lagi belajarnya. Anak-anak semangat banget dan minta dikasih soal latihan. Memang sih ternyata belajar ala HS bisa sangat fleksibel dan disesuaikan dengan situasi, kalau emang ngantuk dan nggak mood ya mending di stop dulu deh .
Belajar kalau terpaksa percuma aja, nggak ada yang nemplok di otak. bisa dibayangin kalau disekolah ngantuk dan lagi bete, pasti pulang sekolah ga dapat apa-apa kecuali capek dan cuma buang energi. beginilah enaknya HS kita lebih merdeka memilih kapan kita ingin belajar dan apa yang mau kita pelajari.
Saya sengaja membuat jadwal pelajaran bebas minimal 2 mata pelajaran sehari yang bisa dipilih anak-anak. waktu belajar 4 jam sehari yang waktunya diatur pagi sore dan malam hari. Antara lain teori, praktek, diskusi dan latihan. pokoknya bebas tapi karena saya pakai kurikulum diknas jadi buku-buku menyesuaikan dengan KTSP 2006 yang saya beli di gramedia. Tapi saya tidak terlalu harus meyesuaikan dengan target kurikulum, tentu menyesuaikan dengan kecepatan belajar Syamil dan Ninis. Jadi bisa lebih lambat atau bahkan lebih cepat. Saya mempergunakan metode campuran antara school at home dan unschooling supaya tidak terlalu ketat dan menyenangkan bagi anak.
Hari ini Syamil belajar IPA dan Matematika sedangkan Ninis belajar Tematik. Untuk pelajaran IPA sepertinya saya harus mempraktekan tugas Sains mengenai pertumbuhan makluk hidup, jadi prakteknya besok setelah peralatan yang dibutuhkan tersedia. Semoga hari-hari selanjutnya bisa lebih teratur dan terprogram dengan baik.
Syamil dan Ninis sedang ngerjain tugas latihan mata pelajaran yang dipilihnya sendiri
Membuat pigura dari kertas kardus dan korek api
Hari ini Syamil dan Ninis membuat prakarya berupa pigura dari kertas kardus dan korek api. Idenya muncul ketika saya ingat masa SD dulu pernah membuatnya juga. Sebelum HS saya dan anak-anak sudah sering 'bikin-bikin' apa aja dari perhiasan dari manik-manik, origami, tempat pensil dari stik eskrim, kain flanel dsb. Biasanya ide-ide kreatif muncul karena inspirasi dari majalah, internet atau waktu liat-liat barang di pasar atau mall dan saya berpikir kalau saya juga bisa bikin barang itu sendiri.
Setelah Ninis belajar IPA dan Syamil belajar Matematika, untuk membuatnya kembali bersemangat maka saya mengajaknya membuat pigura dari kardus dan korek api. caranya mudah banget, bahannya cuma kertas kardus bekas, korek api, lem fox, cutter dan kertas warna (disini saya pakai kertas origami).
Mula-mula kardus dipotong sesuai ukuran foto yang akan digunakan, diberi space kira-kira lebarnya 5 cm untuk ruang menyusun korek apinya.bagian yang akan ditempel foto diberi garis batas supaya bisa mengatur penyusunan korek apinya. Bentuk penyusunan bervariasi tergantung kreativitas masing-masing. karena masih anak-anak maka pembuatannya disederhanakan supaya mudah diikuti.
Pembuatan prakarya ini juga selain melatih kreativitas juga melatih kemampuan berhitung anak, karena anak disuruh menyusun korek api sesuai pola dan urutan jumlah korek api yang diinginkan, misalnya 5-5 atau 3-3 dengan pola yang dibolak-balik. Penambahan kertas warna-warni sendiri adalah idenya Ninis, katanya supaya seru dan cantik.Setelah selesai hasilnya kemudian ditempel di pintu lockernya masing-masing.
Setelah Ninis belajar IPA dan Syamil belajar Matematika, untuk membuatnya kembali bersemangat maka saya mengajaknya membuat pigura dari kardus dan korek api. caranya mudah banget, bahannya cuma kertas kardus bekas, korek api, lem fox, cutter dan kertas warna (disini saya pakai kertas origami).
Mula-mula kardus dipotong sesuai ukuran foto yang akan digunakan, diberi space kira-kira lebarnya 5 cm untuk ruang menyusun korek apinya.bagian yang akan ditempel foto diberi garis batas supaya bisa mengatur penyusunan korek apinya. Bentuk penyusunan bervariasi tergantung kreativitas masing-masing. karena masih anak-anak maka pembuatannya disederhanakan supaya mudah diikuti.
Pembuatan prakarya ini juga selain melatih kreativitas juga melatih kemampuan berhitung anak, karena anak disuruh menyusun korek api sesuai pola dan urutan jumlah korek api yang diinginkan, misalnya 5-5 atau 3-3 dengan pola yang dibolak-balik. Penambahan kertas warna-warni sendiri adalah idenya Ninis, katanya supaya seru dan cantik.Setelah selesai hasilnya kemudian ditempel di pintu lockernya masing-masing.
Selasa, 28 Desember 2010
Syamil belajar Taek Won Do
Syamil, putra kami yang satu ini anaknya lincah dan suka main 'berantem-beranteman' dengan abinya dan jahil dengan adiknya Ninis. Kami pikir untuk menyalurkan hobinya yang suka 'berantem' agar tersalurkan kepada hal yang lebih positif adalah mengajarinya bela diri. Selain itu juga sekalian juga memberikan terapi agar daya konsentrasi dan kesehatannya bisa lebih baik, mengingat Syamil agak sering sakit-sakitan.
Jadi sudah dua bulan ini Syamil kami masukan ke sekolah Taek won do di dekat rumah kami. Sayangnya jadwal latihannya malam hari dari jam 19.00 s/d 21.00 malam, dua kali sepekan. Namun memang dasarnya suka, dia tetap semangat melakukannya dan tidak sekalipun mengeluh. Syamil malah ingin suatu hari nanti bisa berprestasi seperti kawan seperguruannya yang lain yang pernah menjuarai turnamen. Mudah-mudahan ya sayang....amien
Syamil sedang latihan peregangan (split) dengan sabem nya
Bersama teman seperguruan Taek Won Do "Saptohoedojo"
Jadi sudah dua bulan ini Syamil kami masukan ke sekolah Taek won do di dekat rumah kami. Sayangnya jadwal latihannya malam hari dari jam 19.00 s/d 21.00 malam, dua kali sepekan. Namun memang dasarnya suka, dia tetap semangat melakukannya dan tidak sekalipun mengeluh. Syamil malah ingin suatu hari nanti bisa berprestasi seperti kawan seperguruannya yang lain yang pernah menjuarai turnamen. Mudah-mudahan ya sayang....amien
![]() |
Syamil sedang latihan peregangan (split) dengan sabem nya
Bersama teman seperguruan Taek Won Do "Saptohoedojo"
Label:
taek won do
Langganan:
Postingan (Atom)









