Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2011

Syamil belajar berkompetisi

Latihan menjelang pertandingan


Syamil sedang diberi pengarahan sebelum bertanding

Beraksi sebelum bertanding, wow kerennya anakku

Salah satu yang banyak dikhawatirkan orang-orang yang tidak setuju pada homeschooling adalah kurangnya daya kompetisi pada anak homeschooling. Hari ini syamil membuktikan bahwa ia juga siap berkompetisi yang artinya berusaha sekuat tenaga untuk menang namun juga siap menerima kekalahan. Karakter seorang juara adalah sportifitas dan pantang menyerah. Hal itu yang tentunya aku tanamkan pada anak lelakiku.


Kemarin hari Sabtu 14 Mei 2011, Syamil pertama kalinya mengikuti kejuaraan Takwondo yang diselenggarakan klubnya. Sejak pagi Syamil sudah datang ke tempat pertandingan dan mempersiapkan diri untuk bertanding. Selaku orangtua kami menekankan pada Syamil bahwa ia tidak harus menang tapi wajib berusaha sebaik mungkin. Akhirnya ketika tiba giliran untuk bertanding, lawan tandingnya tidak hadir di arena. Akhirnya dengan sangat mengejutkan Syamil dinyatakan menang W.O atas tim lawan. Kami sebenarnya kurang senang karena tidak sempat melihat syamil beraksi. Akhirnya kami harus menunggu partai semi final untuk bertanding kembali, karena jarak rumah dengan tempat bertanding sangat dekat maka kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat dahulu.

Tiba-tiba Sabem Fidho mengirimkan SMS untuk segera ke tempat pertandingan. Tadinya aku kira saatnya Syamil bertanding untuk Semi final. Ternyata rencana berubah total, tim lawan yang sudah dinyatakan kalah W.O, melakukan protes dan menuntut untuk bertanding ulang, alasannya karena sang sabem lawan salah lihat bagan pertandingan, sehingga lawan Syamil malah bertanding dengan lawan yang salah. Akhirnya aku menyetujui tuntutan tim lawan untuk bertanding ulang. Syamil juga harus diberi pengertian bahwa medali perunggu yang tadinya sudah dipastikan sudah digenggaman bisa melayang.


Akhirnya tiba giliran tanding ulang bagi syamil, hanya dalam 30 detik syamil dengan mudah dikalahkan lawan, terlihat sekali syamil tidak siap dan kaget dengan serangan lawan yang bertubi-tubi, Syamil hanya sempat menendang beberapa kali, namun tidak menghasilkan angka. Angka 7-0 menjadi kekalahan telak bagi Syamil. Terlihat sekali kekecewaan terbersit diwajahnya, matanya terlihat berkaca-kaca, samping memegangi kepalanya yang katanya agak pusing di kick lawan.

Ah tidak apa-apa sayang, ini adalah kompetisi awal bagimu, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Menerima kekalahan dengan lapangdada dan terus semangat untuk berjuang terus, insya Allah suatu saat kamu akan meraih kemenangan.


Lagipula aku mengikutsertakan Syamil dalam olahraga Taekwondo ini adalah terutama untuk mengasah konsentrasi dan fisiknya yang lemah dan mudah sakit. Sangat terasa sekali setelah lebih dari 6 bulan Syamil lebih bisa konsentrasi dan lebih Fit dan tidak sering sakit-sakitan seperti dulu. Jadi menjadi atlit atau berprestasi bukan tujuanku untuk syamil mengikuti olahraga taekwondo. Melihatnya semangat dan menyukai kegiatan olahraga beladiri saja sudah membuatku senang bukan main. So that’s not my corncern, win or lose is not a big deal…..

Menerima kekalahan itu lebih membutuhkan banyak kesabaran dan kebesaran hati. Semoga pelajaran hari ini bisa membuatmu menjadi manusia yang selalu berbesar hati dan bersabar ketika menerima kekalahan, bersyukur dan tidak sombong ketika kamu mendapat kemenangan, dan selalu berusaha pantang menyerah memberikan yang terbaik. Kita wajib berusaha tapi tidak wajib untuk berhasil, karena manusia wajib berikhtiar namun hasilnya adalah mutlak ketetapan Allah.

Rabu, 26 Januari 2011

Belajar membuat burger di Wendy's

Hari ini, tanggal 26 Januari, anak anak mengikuti kegiatan tematik yang diadakan lembaga kursus Bahasa Inggrisnya One Learning Centre (OLC), tempat Syamil dan Ninis les bahasa inggris. Oleh OLC Anak anak diajak mengunjungi salah satu gerai fastfood di Lippo Karawaci yang menjual makanan sejenis burger, fried chicken, dll. Kegiatan disana meliputi tour kitchen dan how to making wendy’s burger.

Setelah mendapatkan pengarahan panitia dari pihak Wendys dan OLC, anak-anak, secara bergiliran masuk ke dapur untuk melihat-lihat proses penyimpanan dan pembuatan makanan. Menurut anak-anak, didapur mereka melihat peralatan memasak yang besar-besar. Kemudian melihat lemari pendingin tempat penyimpanan makanan. Mereka juga melihat proses membuat roti bun, cara memasak daging burger dan bahan pelengkap lainnya.

Setelah itu anak-anak belajar membuat burger sendiri, mereka masing-masing diberi jatah satu buah bun atau roti bulat yang sudah dialasi oleh wrap paper, kemudian anak-anak diberi petunjuk cara membuatnya mulai dari mengoles mayonnaise, tomato sauce, mustard dan diberi 2 buah pickle atau acar mentimun, onion atau bawang Bombay, irisan tomat dan kemudian diberi irisan daging burger dan terakhir lembaran keju. Setelah selesai, anak-anak dapat menikmati burger buatannya sendiri.























Syamil dan Ninis senang sekali, meski mereka juga pernah membuat burger sendiri dirumah, namun pengalaman membuatnya bersama-sama teman-temannya, tentu rasanya berbeda. Ninis sampai melahap habis burger buatannya. Syamil yang tidak terlalu suka burger juga akhirnya melahapnya meski ada sedikit tersisa karena kekenyangan katanya. Usai acara, anak-anak dibagikan kenang-kenangan berupa lunch box dari Wendy’s. Mereka senang sekali hari ini, ditambah lagi sehabis acara ini kita akan menonton film Yogi Bear. Yess makin lengkap deh senangnya……

Senin, 24 Januari 2011

Belajar konsep uang

Syamil dan Ninis sudah terbiasa diberi uang jajan dan mengerti bahwa 1000 itu recehan dan 50.000 atau 100.000 adalah uang yang nilainya cukup besar. Syamil sendiri ketika masih sekolah dulu, biasa saya beri uang saku Rp.3000-Rp.5000 perhari. Sedang Ninis paling besar hanya Rp.2000. Kini setelah Homeschooling, uang jajan tersebut masih berlaku namun diberikan setelah menjalankan kewajibannya terlebih dahulu.

Syamil ketika masih sekolah seringkali  menghabiskan uang jajannya untuk mainan atau jajanan yang tidak jelas, kini mulai belajar menabung. Meski tabungannya hanya ‘kuat’ beberapa hari saja lalu dengan cepat dibelikan mainan lagi, tapi nggak masalah, Toh itu haknya kan. Sedangkan Ninis sepertinya memang  belum tertarik minta uang jajan tiap hari.

Aku memang sudah membiasakan kepada anak-anak untuk mengenal nilai uang dan nilai suatu benda. Dari mulai ribuan, ratusan ribu hingga jutaan. Jadi mereka misalnya mengerti nilai harga sepatunya atau tasnya sendiri termasuk murah atau mahal. Atau mereka juga mengerti ketika saya meminta mereka untuk berbelanja ke warung depan rumah membeli suatu barang dengan uang yang nilainya cukup besar berarti harus ada kembaliannya, meski belum mengerti jumlahnya secara detail.

Pada Syamil, saya hanya memberi pelajaran penjumlahan, pengurangan dan kelipatan. Karena syamil kebetulan bertanya apasih maksudnya “dua kali lipat” itu (dalam konsep uang)?. Tidak sulit menjelaskannya karena kami belajar langsung dengan menggunakan uang koin dan kertas agar lebih kongkrit. Nanti setelah paham betul barulah aku nanti memberinya soal-soal yang sifatnya abstrak atau sekedar deretan angka2 dibuku latihannya.

Jadi santai sajalah…yang terpenting dari ini semua, belajar konsep uang bukan hanya belajar nilai suatu mata uang, tapi juga belajar menghargai dan mempergunakan uang dengan bijaksana dan tentunya mendapatkannya juga harus dengan cara yang halal dan diridhoi Allah. Agar kelak Anak-anakku bisa menjadi manusia yang berahlak yang meski berharta namun tidak lupa untuk selalu beramal dengan hartanya. Karena menyadari harta dunia adalah hanya titipan Nya semata. Amien……

Belajar arah mata angin

Sehabis shalat maghrib sore tadi, saya iseng-iseng bercerita pada Syamil mengenai arah kiblat yang mengarah ke barat menurut arah mata angin. Saya kemudian mencoba mengetes pengetahuannya tentang arah mata angin yang pernah dipelajarinya disekolah di semester ganjil kemarin, hasilnya....blablass angine.. eh ilmunya,eh nggak ngerti sama sekali. Padahal gurunya pernah memberi tugas menggambar empat penjuru mata angin seperti kompas, lalu dilaminating segala.

Nah kalo begitu aku coba memberi tahunya lagi sambil mempraktekkan gerakan-gerakan tangan, hadap kanan-kiri berulang ulang. Patokan yang saya gunakan yaitu arah kiblat biar mudah diingat, Jadi bila kiblat didepan berarti barat, dibelakang berarti timur, sebelah kanan utara, sebelah kiri selatan. Aku contohkan sambil menggerakan tangan kedepan, belakang kanan dan kiri. Menghadap kanan kiri dan belakang. 

Kemudian aku jadikan tebak-tebakan seru, misalnya bila kamu menghadap utara sebelah kirimu berarti arah…..barat!!!! Syamil dan Ninis berebut menjawab sambil tertawa-tawa…. Wah ternyata mengajari sambil bercanda itu lebih efektif dan menyenangkan yaa…anak-anak juga tidak terasa bertambah ilmunya.

Belajar membuat coklat

      Setelah bulan Desember yang lalu anak-anak membuat kue sus, yang meski enak namun tidak layak dijual, alhasil kuenya jadi di konsumsi sendiri. Nah bulan januari ini, aku dan anak-anak mencoba membuat coklat praline dan lollipop. Resepnya saya dapat dari tutorial membuat coklat di YouTube, sangat mudah untuk dibuat bahkan bagi anak-anak sekalipun. Namun memang masih harus dibimbing, karena namanya memasak yah… tetap saja beresiko karena harus bekerja bersentuhan dengan yang panas-panas alias api kompor. Jadi tetap riskan dan butuh pengarahan. 
   Syamil dan ninis sejak awal antusias sekali, bahkan Ninis minta ikut ke toko kue untuk membeli bahan-bahan adonan dan memilih cetakan jenis dan coklat yang akan digunakan.
   Bahan-bahan yang digunakan adalah coklat blok coumpond, berbagai jenis yaitu coklat, susu, strawberry dan melon. Cetakan praline dan lolipop, stik lollipop, pipping bag, selai blueberry, kismis. Mangkuk kertas dan plastic pembungkus.

    Cara membuatnya : Lelehkan coklat diatas panci yang berisi air panas, setelah meleleh, tuang diatas cetakan dengan menggunakan pippping bag agar tidak berantakan. Tuang sedikit dahulu, masukan ke lemari es agar cepat beku 5 menit, kemudian diberi filling selai blueberry atau kismis dan tuang coklat sisanya sampai penuh. Segera masukan ke lemari es agar memberi kesan mengkilap. Diamkan 5 menit. Keluarkan dari cetakan, kemas dengan mangkuk khusus coklat, lalu bungkus dengan plastik. Siap deh di jual..eh dimakan dulu deh. Hehehe. Untuk pembuatan lollipop, ngga terlalu berbeda, Cuma ngga dikasih filling saja namun di beri stik, bentuknya lucu-lucu dan bisa dikreasikan berwarna-warni. Cuma bagi pemula seperti saya dan anak-anak butuh latihan supaya hasilnya bagus dan rapih. Tapi lumayanlah masih pantes kok dijual.


                                                             

                 Ninis dan coklat

    Ninis sukaaaa banget coklat buatannya, sampai habis 5 buah coklat. Syamil yang sebenarnya ga suka coklat jadi suka juga, katanya buatan sendiri rasanya lebih enak sih.. nah besok mulai jualan ah, mungkin juga sebagian coklat akan dititipkan ke warung depan. Harganya ngga mahal-mahal karena aku bukan cari untung cuma Rp.1500 untuk praline dan Rp.2000 untuk lollipop. Tapi mudah-mudahan hal sederhana ini bisa menjadi pengalaman buat anak-anak dalam mengajarinya berkreasi dan sekaligus mengasah jiwa wirausahanya sejak dini.

Sabtu, 15 Januari 2011

Belajar matematika dengan IXL Math

Matematika biasanya adalah pelajaran yang paling tidak disukai dan ditakuti anak sekolah. Alasannya klisenya karena sulit dan bikin kepala nyut-nyutan, apalagi kalo guru yang mengajarnya killer atau tidak mampu transfer of learning alias ga becus ngajarnya, jadilah tambah alergi karena susah buat ngerti. Apalagi buat murid yang otaknya pas-pasan atau yang memang ga berbakat sama pelajaran eksakta.  Saya sendiri termasuk orang yang sangat anti dengan pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka. Padahal matematika itu sangat penting dan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita.

Karena itu saya ingin anak-anak saya menyukai matematika dan Homeschooling adalah  metode yang sangatlah tepat buat menghilangkan ke 'angkeran' matematika buat anak-anak. Untuk belajar matematika biasanyasaya menggunakan metode tematik sambil praktek, misalnya menghitung uang dengan menyuruhnya ke warung membeli sesuatu lalu menghitung harga barang dan uang kembalian, belajar tentang  jenis2 alat ukur dengan langsung menimbang badan masing2 lalu mencari selisihnya, menimbang adonan kue, mengukur panjang dengan cara mengukur panjang meja, luas kamar dan cara2 lainnya.

Selain tematik praktis, untuk mendukung belajar anak-anak saya juga berlangganan IXL Math melalui internet. Yaitu cara belajar matematika berupa latihan2 soal2 matematika berbahasa inggris yang sangat menarik sesuai dengan tingkatan kelas dan kemampuan anak. Belajar cara seperti ini rupanya sangat disukai Syamil dan Ninis, bahkan mereka sampai pernah rebutan komputer, hehehe aneh menurut saya....matematika gitu lho.. kok rebutan. Tapi saya senang saya telah berhasil menghilangkan potensi alergi yang sifatnya herediter terhadap matematika kepada anak-anak saya.

Dalam seminggu saja anak-anak sudah mampu menyelesaikan lebih dari 100 soal matematika berbahasa inggris itu, tentu belajarnya saya dampingi karena ternyata banyak juga istilah matematika berbahasa inggris yang saya saja baru ngeh, jadinya juga saya ikut belajar dan jadi ikut-ikutan senang sama matematika. semangat homeschooling lagi-lagi memberikan banyak hal positif bagi cara kami memaknai belajar keluarga kami

Ninis belajar bahasa inggris Online

Ninis sangat menyukai bahasa inggris, sejak berusia 4 tahun saya masukan Ninis ke tempat kursus bahasa inggris bersama-sama Syamil. senang sekali melihat semangatnya berangkat kursus dan kecepatannya menguasai banyak kosa kata dari nama-nama binatang, warna, bagian tubuh, numbers dan lain-lain dengan baik. Bahkan miss Vivin guru lesnya sering memuji kalau Ninis berbakat dalam bahasa inggris.

Tidak terasa hampir dua tahun Ninis kursus dan tampaknya mulai bosan dan malas-malasan, bukan bosan dengan bahasa inggrisnya tapi ternyata Ninis kurang suka dengan gurunya yang sekarang. yang menurutnya suka memarahinya, bila Ninis menulis agak lambat. Memang Ninis dalam menulis agak cenderung lebih lama dibanding teman-temannya. puncaknya ketika ujian kenaikan level 4, Ninis pulangnya cemberut dan hampir menangis karena pekerjaannya belum selesai. Saya tentu tidak akan memaksanya tetap kursus bila dia sudah tidak nyaman belajarnya.

Akhirnya saya pikir tidak ada salahnya untuk merubah cara belajar bahasa inggrisnya dengan cara Online. Apalagi Ninis sudah sangat terampil mengoperasikan komputer dan internet. Saya menggunakan Razkids a-z karena saya melihat cara belajarnya yang interaktif dengan suara native speaker, dan setiap kamis pagi sepekan sekali dilakukan voice chat dengan tutornya. Ninis senang sekali belajar dengan cara online, Kakaknya Syamil sampai iri ingin ikutan juga.

Tahapan belajarnya adalah dengan mendengar dengan headset, membaca dengan dibantu microphone untuk merekam suaranya, dan menjawab kuis dengan pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan tadi. Belajar bisa bagaimana saja caranya, apalagi teknologi sudah maju tentu kita harus memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk belajar. Tentunya keuntungannya bukan hanya jadi pintar berbahasa inggris tapi juga semakin melek teknologi sejak dini.

Senin, 03 Januari 2011

Belajar membuat kue

Saya punya rencana kegiatan untuk anak-anak yang sifatnya rutin diadakan setiap bulan yaitu belajar menjadi enterpreneur. Ceritanya anak-anak akan ditugaskan untuk membuat sesuatu, bisa apa saja, bisa makanan atau mainan lalu hasilnya dijual. Nah kali ini untuk memulai hal itu saya dan anak-anak mencoba belajar  membuat kue sus, anak-anak saya libatkan dari menimbang terigu, mengaduk adonan, memasukkan telur hingga mengoles margarine ke loyang.

Cara membuatnya sangat mudah hingga tidak memerlukan waktu lama. Saat proses pembuatannya anak-anak juga sekalian bisa belajar matematika tentang ukuran berat (gram) saat menimbang tepung, dan volume (liter) saat mengukur besarnya susu cair yang akan digunakan dalam adonan.

Tapi....saat kue sudah jadi, ternyata tidak sesuai rencana nih, sebagian kue bantet alias kempes, hiks,...... berantakan deh rencana mau jualan karena kuenya tidak layak untuk dijual. ooh......ternyata ada kesalahan teknis, telur yang digunakan masih dingin karena baru dikeluarkan dari lemari es. Saya lupa kalau seharusnya telurnya didiamkan dahulu pada suhu kamar, barulah boleh digunakan untuk adonan. Tapi nggak apa-apa deh meski anak-anak sempat kecewa, lain waktu kita akan buat lagi kue yang lebih enak dan tentunya lebih teliti supaya hasilnya tidak gagal lagi. Meski demikian kuenya masih bisa dimakan kok, masih uenak he.hehe


Belajar tentang tumbuhan


Setelah mempelajari perkembangbiakan tumbuh-tumbuhan dengan mengerjakan work sheet sains yang saya buat untuk syamil, akhirnya saya mencoba mempraktekannya bersama anak-anak dengan belajar menanam bersama. saya memperlihatkan cara berkembangbiakan tumbuhan dengan cara alami dan buatan dengan cara tunas dan stek.


Syamil dan Ninis sangat bersemangat sekali melakukannya. meski harus sedikit berkotor-kotor dengan tanah, tapi mereka senang sekali. setelah selesai menanam, mereka kemudian menyiram tanamannya dan memberi nama pada potnya masing-masing. Sayangnya saya belum sempat memperlihatkan perkembangbiakan tumbuhan dengan cara cangkok dan okulasi karena saya sendiri tidak mengerti caranya. Saya berencana akan mengajak anak-anak ke tempat penjualan tanaman didekat rumah untuk sekalian belajar langsung kepada ahlinya.

Rabu, 29 Desember 2010

Belajar dari Timnas Garuda

Setelah semalam Timnas sepakbola kita berhasil "mengalahkan" Malaysia 2-1, rasanya legaaa banget meski kemenangan kita sangat Ironis karena kita tidak bisa menjadi kampiun di ajang AFF kali ini,  meski hanya kalah sekali saja dari enam  pertandingan. Namun saya sangat bersyukur dan berterimakasih pada Timnas yang tetap bersemangat berjuang dan memberikan permainan yang menghibur sekaligus mendebarkan bagi Indonesia.

Melihat fenomena euphoria masyarakat kita pada sepakbola saat Timnas masih tak terkalahkan, memang terkesan berlebihan dan justru membebani Timnas dengan sejuta pengharapan "harus menang". Segala "ritual" tidak penting yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh Timnas sebelum berangkat ke Malaysia seakan membuat stress tersendiri bagi Timnas dan dibuktikan dengan  kekalahan 3-0 di Stadion Bukit Jalil.

Dari Timnas kita belajar bahwa pengharapan yang cenderung jadi tuntutan yang berlebihan dan banyaknya  campur tangan  pihak-pihak yang sesungguhnya hanya bermuatan politis, hanya membuyarkan konsentrasi bermain dan mematikan kreatifitas timnas. Untunglah Timnas kita lekas bangkit dan kembali menunjukan semangat juangnya semalam.  Meskipun kita tidak bisa mengangkat piala, bangsa Indonesia akan terus cinta Timnas.

Kita bisa belajar dari Timnas bila dikaitkan dengan proses belajar anak kita. Harapan dan tuntutan orang tua yang berlebihan terhadap anak kita, tentu akan membebani jiwanya hingga bisa mematikan kreativitasnya, menghilangkan kegembiraannya dalam melewati proses belajarnya.  Bisa dibayangkan bila hal itu terjadi, mungkin anak kita tetap bisa mendapat nilai akademis yang memuaskan, karena tuntutan sekolah hanyalah sekedar nilai-nilai tes, yang kebanyakan terdiri hafalan-hafalan tanpa makna, yang buat sebagian anak sekolahan, "belajar" diakukan bila menjelang ulangan atau tes semesteran dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam).

Kerja keras Timnas di lima pertandingan yang dimenangkan sangatlah harus diapresiasi, janganlah hanya dengan satu kekalahan yang membuat piala AFF diraih Jiran kita, membuat  semua proses pertandingan dan keringat yang ditumpahkan Timnas jadi tidak berarti. Sama halnya dengan proses belajar anak kita, usahanya, kerja kerasnya jangan sekedar dinilai dari deretan angka-angka raportnya. Karena tidak sedikit anak sekolahan yang nilai raportnya bagus tapi kreativitasnya nol, atau bahkan hanya bisa menghafal pelajaran tapi tidak paham hingga mudah lupa tentang apa yang sudah dipelajarinya.

Karenanya biarlah anak kita belajar tanpa beban, tanpa paksaan dan tuntutan yang berlebihan  meski sebagai orangtua kita tetaplah harus membimbing dan menuntun mereka untuk tidak hanya sekedar "melewati" proses belajarnya, tapi juga anak bisa "menikmati" nya dengan gembira.

Sekali lagi "bravo Timnas", bermain  bola lah dengan gembira, nikmati setiap pertandingan  karena ini hanyalah permainan. Menang ataupun kalah sebagian juga karena keberuntungan, tetaplah semangat........

~saya bukan komentator bola dan bukan penulis, cuma pencinta timnas dan anak-anakku~ 

                                                                      Timnas Garuda

Sabtu, 25 Desember 2010

Belajar membatik di Rumah Batik Nusantara

Tanggal 23 Desember kemarin saya dan anak-anak, ikutan acara belajar membatik  yang diselenggarakan milis Sekolah Rumah dan komunitas homeschooling Berkemas. Inilah pertamakalinya saya berkenalan langsung dengan para praktisi HS dan HSer. Senang sekali rasanya bertemu mereka, mereka yang biasanya saya tatap di layar komputer, yang artikel-artikelnya banyak menginspirasi saya untuk meng HSkan anak-anak saya, sungguh saya kagum banget seperti ketemu selebriti idola gimana... gitu. 

Acaranya seru dan menyenangkan, rasanya perjalanan jauh dari Tangerang-Kali Malang yang hampir 3 jam tidak sia-sia. Tadinya sempat ragu karena jarak yang lumayan jauh dan saya tidak terbiasa bawa anak-anak naik bis jauh-jauh. Tapi Bismillah... nekad ajalah..eh ternyata alhamdulillah anak-anak suka dan tidak mengeluh sepanjang perjalanan pergi-pulang.

Acara intinya sendiri dimulai pukul 13.00, dimulai dengan penjelasan pengantar tentang proses membatik. Setelah itu, anak-anak  bisa langsung mulai proses belajarnya.

1. Menggambar pola
syamil dan ninis sedang menjiplak pola diatas kain

Kegiatan pertama yang dilakukan anak-anak adalah menggambar terlebih dulu pola batik di atas kain putih. banyak gambar-gambar yang sudah disediakan, baik motif batik maupun gambar sederhana seperti pesawat, ikan, kupu-kupu, dinosaurus, dan lain-lain. Anak-anak belajar menjiplak gambar pilihannya dengan pensil atau membuatnya sendiri tanpa menjiplak di atas kain.

2. Melukis dengan canting



   Syamil dan  Ninis sedang melukis dengan canting

Setelah pola gambar selesai, kain kemudian dijepit dengan penjepit  berbentuk lingkaran  agar memudahkan anak melukisnya. Setelah itu, mulailah proses membatik alias melukis dengan lilin yang dipanaskan. Di sini, anak-anak belajar mengikuti pola yang sudah mereka buat sebelumnya. eh ternyata susah lho nggak semudah yang kami kira, belum lagi kalau cantingnya macet atau bocor, lilinnya jadi berceceran dan gambarnya pun jadi agak berantakan. seperti yang dialami Ninis yang sempat ngambek karena cantingnya bocor. 


3. Diberi motif di pinggiran kain
Setelah selesai melukis motif dengan lilin, kain itu kemudian dibuatkan polanya di pinggirnya menggunakan parafin dengan alat kuas. Proses ini sebenarnya sama seperti melukis dengan lilin tadi. Hanya saja, sekarang dibuat dengan kuas.motifnya ada yang persegi, lingkaran dan bergelombang

4. Mencelup/mewarnai 
Tahapan selanjutnya adalah mewarnai. Sebelum kain dicelup ke pewarnai, bagian pinggir yang sudah dibuat dengan parafin tadi harus diremas-remas dahulu agar ada retakan sehingga nantinya bisa dimasuki warna dan membentuk pola yang bagus. Kain kemudian dimasukkan ke ember yang sudah diberi garam warna. Setelahnya dimasukkan dimasukkan air bersih untuk dibilas.

5. Merebus kain 
Proses selanjutnya yang dilakukan adalah  merebus kain hingga lilinnya larut dan luruh dari kain. Kain yang sudah selesai direbus itu kemudian dicuci dengan air dingin dan digosok-gosok dengan tangan untuk memastikan seluruh lilinnya lepas.

6. Mengeringkan kain
Tahapan terakhir adalah menjemur kain hingga kering. namun anak-anak tampaknya tidak sabar untuk beraksi dengan karya mereka. dalam keadaan masih basah mereka berfoto sama-sama.Proses yang dijalani anak-anak itu tentunya sangat sederhana dan memang sengaja disederhanakan. Namun tentu menjadi pengalaman yang sangat bermanfaat bagi mereka. 

Kegiatan ini tentu juga sangat menyenangkan buat saya selaku pendatang baru di HS. bertukar pikiran dengan para praktisi senior tentu membuat saya semakin merasa yakin dan tercerahkan. bahwa HS is the better way for education. There's no school like home! 


Syamil, Ninis dan Homeschooler lainnya sedang memamerkan hasil karya mereka