Baru 4 hari ini kami pindah ke rumah baru kami di Purwakarta. Kepindahan saya ke kota kecil ini saya putuskan awal tahun ini, karena harus mengikuti pekerjaan suami yang sudah 2 tahun dan settle down bekerja di perusahaan yang cukup mapan dan memberi kenyamanan bagi keluarga. Setelah hunting rumah, Akhirnya kami memilih sebuah rumah mungil di perumahan yang baru saja berdiri. rencananya saya dan keluarga akan menetap dan memulai hidup baru kita di kota kecil ini.
kepindahan kami tentu tidak terlalu ribet karena anak-anak homeschooling dan saya tidak harus ganti KTP. karena tempat tinggal kami di Tangerang tetap kami pertahankan dan setiap sebulan sekali kami menengoknya.
Ya Allah....semoga hijrah kami ke Purwakarta membawa barokah dan kebaikan bagi kami sekeluarga....Amien
Annisya adalah kependekan dari Anakku Ninis & Syamil, kami membuat blog ini sebagai catatan atau jurnal kegiatan keluarga kecil kami terutama kegiatan belajar kedua buah hati kami sejak kecil sebagai homeschooler hingga beranjak dewasa...bukan hanya anak2 kami tapi kami juga kami sekeluarga masih.senantiasa belajar menyikapi hidup yang fana dan berbekal untuk hidup yang lebih kekal..
Senin, 14 November 2011
Hidup baru di Purwakarta
Selasa, 20 September 2011
kidzania field trip
![]() |
| Tes untuk mendapatkan SIM |
![]() |
| Menjadi petugas pom bensin bareng Najma |
![]() |
| menyimak dengan serius saat jadi Agen CSI |
![]() |
| jadi Agen CSI |
![]() |
| jadi Polisi, sedang mendengar pengarahan dari komandan |
![]() |
| jadi karyawan chocolate factory |
Label:
field trip
Rabu, 13 Juli 2011
Jalan-jalan belajar ke BOBO Fair
![]() | |
| Ninis sedang belajar menggambar dan mewarnai |
![]() |
| syamil in action |
![]() |
| Ninis habis nempelin cita-citaku katanya jadi mau dokter |
![]() |
| syail mau jadi pilot seperti om nya |
![]() |
| melukis di atas media kaos,wah yang rapih dong nak.. |
![]() |
| serius banget nih... |
![]() |
| ninis gambar tokoh kartun kesukaannya Hello Kitty |
![]() |
| beraksi dengan karyanya |
![]() |
| ikutan lomba pasang puzzle lumayan dapat hadiah hiburan |
![]() | |||||||
| sedang memilih komposisi warna |
Hari minggu tanggal 3 Juli 2011 yang lalu, anak-anak mendadak ditelepon Om nya, yang ngajak jalan-jalan ke senayan tepatnya di Jakarta Convention Centre yang tengah menyelenggarakan BOBO Fair, tentu kesempatan emas ini tidak disia-siakan dong. Akhirnya bersama Om Rulli, Tante Leni, sepupu Najma dan Naura plus Nenek, saya dan anak-anak berangkat. Acaranya seru dan menyenangkan buat anak-anak, banyak oleh-oleh yang kita dapat dari sana karena disana banyak produsen yang memberi harga spesial beserta hadiah-hadiah yang seru buat anak-anak.
Senin, 16 Mei 2011
Sanggupkah? kegagalan homeschooling
by : Andini Rizky
Pada suatu hari, ada sebuah keluarga yang anaknya bermasalah dengan sekolah. Mendengar tentang homeschooling, mereka tertarik, dan mencobanya. OK deh, satu bulan dulu. Atau setahun dulu, kita coba, bagaimana hasilnya.
Betapa terkejutnya mereka, ternyata mulai dari mertua, orangtua, om tante, teman di kantor, sampai orang lewat pun serentak bangkit untuk menentang keputusan keluarga mereka.
Seru orang-orang itu setengah mengamuk,”Apa? Homeschooling? Bagaimana sosialisasinya? Memangnya anakmu artis? Mau jadi apa kalau sudah besar nanti? Jangan hancurkan masa depan anakmu!”
Setiap hari dikejar-kejar pertanyaan seperti ini, keluarga itu merasa tertekan. Apalagi karena mereka baru mulai homeschooling, bagaimana seharusnya menghadapinya, juga tidak tahu. Ibu menjadi murung, tidak bersemangat mengajar anaknya lagi. “Ah, buat apa capek-capek, tidak ada yang menghargai.”
Ayah di kantor, merasa tertekan ditertawakan rekan-rekan kerjanya. “Nih, anaknya dia nggak sekolah nih. Huahaha, mau jadi apa… Anak itu jangan terlalu diturutin. Nanti jadi mental tempe!”
Apalagi setiap kali bertemu kerabat, mereka selalu dinasihati, bisa berjam-jam lho, tentang pentingnya pendidikan dan sekolah. Ayah dan ibu tidak berani melawan karena rasanya tidak enak kalau dimusuhi keluarga besar. Kalau angkat bicara takut dibenci. Jadi keduanya diam saja sambil menunduk.
Sepertinya seluruh dunia berkonspirasi menyuruh mereka untuk berhenti homeschooling.
Mereka menjadi stres, terus-menerus sedih, dan marah-marah. Tahukah kamu kalau orangtua stres, anak juga jadi ‘nakal’ dan bertingkah? Oh, oh, kayaknya homeschooling-nya gagal nih. Anak ini bukannya menjadi percaya diri seperti kata blog Homeschooling Indonesia, malah jadi anak setan. Selang beberapa lama, kedua orangtua itu tak tahan lagi, dikembalikanlah si anak ini ke sekolah.
Ayah dan ibu itu menghela napas lega,”Ah, alhamdulillah. Anakku sudah sekolah, sekarang orang-orang akan kembali menerima keberadaanku.”
Anak, adalah cerminan orangtua. Orangtua yang mencari persetujuan orang lain, tidak bisa tidak, pasti membesarkan anak yang mencari persetujuan orang lain juga.
“Mama, aku senang, bisa sekolah lagi. Di sekolah aku banyak teman. Aku tidak diledeki anak-anak kampung lagi.”
Syukurlah. Semua berbahagia. Anak ini sudah sekolah. Sudah kembali ke jalan yang benar. Masalah-masalah dengan sekolah kembali lagi tetapi tidak apa-apa. Soalnya ternyata homeschooling itu nggak enak!
Homeschooling is not for wimps. Homeschooling bukan untuk orang-orang lemah yang mengejar pengakuan orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak berharga ketika tidak diterima orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak enak hati saat berbeda dengan orang lain.
Tidak hanya bagi anak, bagi orangtua pun, homeschooling merupakan sarana pembelajaran yang penting. Orangtua homeschooling harus belajar untuk berani menjadi diri sendiri, menerima kenyataan tidak semua orang akan menyetujui keputusan kita, menyadari bahwa kita tidak perlu pengakuan semua orang, dan belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda pendapat tanpa harus memusuhi.
Padahal ya bertahun-tahun kita sendiri dididik untuk menyenangkan hati semua orang. Bertahun-tahun kita dididik untuk memilih bergaul dengan orang-orang yang sama pemikirannya dengan kita. Sekarang kita memilih menjadi lain sendiri, menjadi minoritas. Sanggupkah kita?
Pada suatu hari, ada sebuah keluarga yang anaknya bermasalah dengan sekolah. Mendengar tentang homeschooling, mereka tertarik, dan mencobanya. OK deh, satu bulan dulu. Atau setahun dulu, kita coba, bagaimana hasilnya.
Betapa terkejutnya mereka, ternyata mulai dari mertua, orangtua, om tante, teman di kantor, sampai orang lewat pun serentak bangkit untuk menentang keputusan keluarga mereka.
Seru orang-orang itu setengah mengamuk,”Apa? Homeschooling? Bagaimana sosialisasinya? Memangnya anakmu artis? Mau jadi apa kalau sudah besar nanti? Jangan hancurkan masa depan anakmu!”
Setiap hari dikejar-kejar pertanyaan seperti ini, keluarga itu merasa tertekan. Apalagi karena mereka baru mulai homeschooling, bagaimana seharusnya menghadapinya, juga tidak tahu. Ibu menjadi murung, tidak bersemangat mengajar anaknya lagi. “Ah, buat apa capek-capek, tidak ada yang menghargai.”
Ayah di kantor, merasa tertekan ditertawakan rekan-rekan kerjanya. “Nih, anaknya dia nggak sekolah nih. Huahaha, mau jadi apa… Anak itu jangan terlalu diturutin. Nanti jadi mental tempe!”
Apalagi setiap kali bertemu kerabat, mereka selalu dinasihati, bisa berjam-jam lho, tentang pentingnya pendidikan dan sekolah. Ayah dan ibu tidak berani melawan karena rasanya tidak enak kalau dimusuhi keluarga besar. Kalau angkat bicara takut dibenci. Jadi keduanya diam saja sambil menunduk.
Sepertinya seluruh dunia berkonspirasi menyuruh mereka untuk berhenti homeschooling.
Mereka menjadi stres, terus-menerus sedih, dan marah-marah. Tahukah kamu kalau orangtua stres, anak juga jadi ‘nakal’ dan bertingkah? Oh, oh, kayaknya homeschooling-nya gagal nih. Anak ini bukannya menjadi percaya diri seperti kata blog Homeschooling Indonesia, malah jadi anak setan. Selang beberapa lama, kedua orangtua itu tak tahan lagi, dikembalikanlah si anak ini ke sekolah.
Ayah dan ibu itu menghela napas lega,”Ah, alhamdulillah. Anakku sudah sekolah, sekarang orang-orang akan kembali menerima keberadaanku.”
Anak, adalah cerminan orangtua. Orangtua yang mencari persetujuan orang lain, tidak bisa tidak, pasti membesarkan anak yang mencari persetujuan orang lain juga.
“Mama, aku senang, bisa sekolah lagi. Di sekolah aku banyak teman. Aku tidak diledeki anak-anak kampung lagi.”
Syukurlah. Semua berbahagia. Anak ini sudah sekolah. Sudah kembali ke jalan yang benar. Masalah-masalah dengan sekolah kembali lagi tetapi tidak apa-apa. Soalnya ternyata homeschooling itu nggak enak!
Homeschooling is not for wimps. Homeschooling bukan untuk orang-orang lemah yang mengejar pengakuan orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak berharga ketika tidak diterima orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak enak hati saat berbeda dengan orang lain.
Tidak hanya bagi anak, bagi orangtua pun, homeschooling merupakan sarana pembelajaran yang penting. Orangtua homeschooling harus belajar untuk berani menjadi diri sendiri, menerima kenyataan tidak semua orang akan menyetujui keputusan kita, menyadari bahwa kita tidak perlu pengakuan semua orang, dan belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda pendapat tanpa harus memusuhi.
Padahal ya bertahun-tahun kita sendiri dididik untuk menyenangkan hati semua orang. Bertahun-tahun kita dididik untuk memilih bergaul dengan orang-orang yang sama pemikirannya dengan kita. Sekarang kita memilih menjadi lain sendiri, menjadi minoritas. Sanggupkah kita?
Syamil belajar berkompetisi
![]() |
| Latihan menjelang pertandingan |
![]() |
| Syamil sedang diberi pengarahan sebelum bertanding |
![]() |
| Beraksi sebelum bertanding, wow kerennya anakku |
Salah satu yang banyak dikhawatirkan orang-orang yang tidak setuju pada homeschooling adalah kurangnya daya kompetisi pada anak homeschooling. Hari ini syamil membuktikan bahwa ia juga siap berkompetisi yang artinya berusaha sekuat tenaga untuk menang namun juga siap menerima kekalahan. Karakter seorang juara adalah sportifitas dan pantang menyerah. Hal itu yang tentunya aku tanamkan pada anak lelakiku.
Kemarin hari Sabtu 14 Mei 2011, Syamil pertama kalinya mengikuti kejuaraan Takwondo yang diselenggarakan klubnya. Sejak pagi Syamil sudah datang ke tempat pertandingan dan mempersiapkan diri untuk bertanding. Selaku orangtua kami menekankan pada Syamil bahwa ia tidak harus menang tapi wajib berusaha sebaik mungkin. Akhirnya ketika tiba giliran untuk bertanding, lawan tandingnya tidak hadir di arena. Akhirnya dengan sangat mengejutkan Syamil dinyatakan menang W.O atas tim lawan. Kami sebenarnya kurang senang karena tidak sempat melihat syamil beraksi. Akhirnya kami harus menunggu partai semi final untuk bertanding kembali, karena jarak rumah dengan tempat bertanding sangat dekat maka kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat dahulu.
Tiba-tiba Sabem Fidho mengirimkan SMS untuk segera ke tempat pertandingan. Tadinya aku kira saatnya Syamil bertanding untuk Semi final. Ternyata rencana berubah total, tim lawan yang sudah dinyatakan kalah W.O, melakukan protes dan menuntut untuk bertanding ulang, alasannya karena sang sabem lawan salah lihat bagan pertandingan, sehingga lawan Syamil malah bertanding dengan lawan yang salah. Akhirnya aku menyetujui tuntutan tim lawan untuk bertanding ulang. Syamil juga harus diberi pengertian bahwa medali perunggu yang tadinya sudah dipastikan sudah digenggaman bisa melayang.
Akhirnya tiba giliran tanding ulang bagi syamil, hanya dalam 30 detik syamil dengan mudah dikalahkan lawan, terlihat sekali syamil tidak siap dan kaget dengan serangan lawan yang bertubi-tubi, Syamil hanya sempat menendang beberapa kali, namun tidak menghasilkan angka. Angka 7-0 menjadi kekalahan telak bagi Syamil. Terlihat sekali kekecewaan terbersit diwajahnya, matanya terlihat berkaca-kaca, samping memegangi kepalanya yang katanya agak pusing di kick lawan.
Ah tidak apa-apa sayang, ini adalah kompetisi awal bagimu, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Menerima kekalahan dengan lapangdada dan terus semangat untuk berjuang terus, insya Allah suatu saat kamu akan meraih kemenangan.
Lagipula aku mengikutsertakan Syamil dalam olahraga Taekwondo ini adalah terutama untuk mengasah konsentrasi dan fisiknya yang lemah dan mudah sakit. Sangat terasa sekali setelah lebih dari 6 bulan Syamil lebih bisa konsentrasi dan lebih Fit dan tidak sering sakit-sakitan seperti dulu. Jadi menjadi atlit atau berprestasi bukan tujuanku untuk syamil mengikuti olahraga taekwondo. Melihatnya semangat dan menyukai kegiatan olahraga beladiri saja sudah membuatku senang bukan main. So that’s not my corncern, win or lose is not a big deal…..
Menerima kekalahan itu lebih membutuhkan banyak kesabaran dan kebesaran hati. Semoga pelajaran hari ini bisa membuatmu menjadi manusia yang selalu berbesar hati dan bersabar ketika menerima kekalahan, bersyukur dan tidak sombong ketika kamu mendapat kemenangan, dan selalu berusaha pantang menyerah memberikan yang terbaik. Kita wajib berusaha tapi tidak wajib untuk berhasil, karena manusia wajib berikhtiar namun hasilnya adalah mutlak ketetapan Allah.
Kamis, 05 Mei 2011
Komentar seru tentang kelebihan dan kekurangan homeschooling
Tulisan ini adalah komentar dari opini keliru tentang homeschooling di Yahoo! News Indonesia, klik disini. komentar menarik ini aku copas dari blognya Mbak Andini Rizky
*Baca juga tanggapan praktisi homeschooling di sana. Seru!
Berikut jawabanku di kolom komentar: ( By Andini)
Wahai Penulis, Anda dibayar mahal oleh Yahoo Indonesia, lalu kenapa Anda malas riset padahal keluarga homeschooling Indonesia banyak yang sudah bisa dihubungi lewat blog homeschooling mereka masing-masing?
Anda salah besar soal kekurangan homeschooling.
1. Kurangnya disiplin. Salah! Untuk homeschooling dituntut kedisiplinan yang tinggi dari dalam diri anak itu sendiri. Anak homeschooling akan lebih banyak berlatih disiplin dan berinisiatif daripada anak sekolah yang disuruh-suruh terus oleh gurunya.
2. Minimnya kompetisi. Salah! Banyak anak homeschooling yang memilih homeschooling karena ingin menang dalam kompetisi sesuai bakatnya, programming, olahraga, seni, spelling bee, robotik, dan sebagainya. Mereka tidak takut kompetisi karena mereka berada pada posisi yang menguntungkan untuk MENANG.
3. Belum ada standardisasi kurikulum. Justru kebaikan homeschooling karena bisa menyesuaikan kurikulum dengan keunikan tiap-tiap anak. Ketika anak homeschooling ikut ujian persamaan dari pemerintah, mereka pasti harus belajar mengikuti kurikulum nasional.
4. Sosialisasi. Kurang tantangan? Anda salah! Menjadi anak homeschooling lebih berat karena orang-orang sekitar akan melecehkan dan anak harus berani menjadi lain sendiri. Kalau ada anak orang lain yang berani melakukan bullying seperti yang kerap terjadi di sekolah, keluarga homeschooling akan melakukan tindakan penanganan yang wajar kita lakukan di masyarakat beradab, yaitu: melaporkan pada pihak berwajib, bukan menahan penderitaan sampai dia lulus sekolah. Anak-anak homeschooling akan menjadi agen perubahan bermental baja yang berani membela kebenaran dan keadilan, bukan orang-orang lemah yang terbiasa dan pasrah dengan kecurangan dan kekejian.
5. Masalah keuangan? Salah! Keluarga homeschooling menghemat uang pangkal, SPP, seragam, dan lain-lain. Yang semuanya bisa dialihkan untuk membeli buku-buku yang lebih penting untuk pendidikannya, atau biaya homestay ke luar negeri sehingga mereka bisa menjelajah dunia kalau mau. Orangtua homeschooling punya kekuasaan penuh untuk menentukan biaya pendidikan anaknya. Mereka tidak perlu mengeluh betapa mahalnya biaya pendidikan seperti orangtua lain yang pilih sekolah.
Menurutku kekurangan homeschooling yang sesungguhnya adalah: selalu ada pengkritik kurang info seperti ini, dan keluarga homeschooling terpaksa meladeni mereka dalam hidup sehari-hari. Tidak terasa berat selama kita tidak mencari persetujuan orang lain dan tetap fokus pada tujuan memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak.
*Baca juga tanggapan praktisi homeschooling di sana. Seru!
Berikut jawabanku di kolom komentar: ( By Andini)
Wahai Penulis, Anda dibayar mahal oleh Yahoo Indonesia, lalu kenapa Anda malas riset padahal keluarga homeschooling Indonesia banyak yang sudah bisa dihubungi lewat blog homeschooling mereka masing-masing?
Anda salah besar soal kekurangan homeschooling.
1. Kurangnya disiplin. Salah! Untuk homeschooling dituntut kedisiplinan yang tinggi dari dalam diri anak itu sendiri. Anak homeschooling akan lebih banyak berlatih disiplin dan berinisiatif daripada anak sekolah yang disuruh-suruh terus oleh gurunya.
2. Minimnya kompetisi. Salah! Banyak anak homeschooling yang memilih homeschooling karena ingin menang dalam kompetisi sesuai bakatnya, programming, olahraga, seni, spelling bee, robotik, dan sebagainya. Mereka tidak takut kompetisi karena mereka berada pada posisi yang menguntungkan untuk MENANG.
3. Belum ada standardisasi kurikulum. Justru kebaikan homeschooling karena bisa menyesuaikan kurikulum dengan keunikan tiap-tiap anak. Ketika anak homeschooling ikut ujian persamaan dari pemerintah, mereka pasti harus belajar mengikuti kurikulum nasional.
4. Sosialisasi. Kurang tantangan? Anda salah! Menjadi anak homeschooling lebih berat karena orang-orang sekitar akan melecehkan dan anak harus berani menjadi lain sendiri. Kalau ada anak orang lain yang berani melakukan bullying seperti yang kerap terjadi di sekolah, keluarga homeschooling akan melakukan tindakan penanganan yang wajar kita lakukan di masyarakat beradab, yaitu: melaporkan pada pihak berwajib, bukan menahan penderitaan sampai dia lulus sekolah. Anak-anak homeschooling akan menjadi agen perubahan bermental baja yang berani membela kebenaran dan keadilan, bukan orang-orang lemah yang terbiasa dan pasrah dengan kecurangan dan kekejian.
5. Masalah keuangan? Salah! Keluarga homeschooling menghemat uang pangkal, SPP, seragam, dan lain-lain. Yang semuanya bisa dialihkan untuk membeli buku-buku yang lebih penting untuk pendidikannya, atau biaya homestay ke luar negeri sehingga mereka bisa menjelajah dunia kalau mau. Orangtua homeschooling punya kekuasaan penuh untuk menentukan biaya pendidikan anaknya. Mereka tidak perlu mengeluh betapa mahalnya biaya pendidikan seperti orangtua lain yang pilih sekolah.
Menurutku kekurangan homeschooling yang sesungguhnya adalah: selalu ada pengkritik kurang info seperti ini, dan keluarga homeschooling terpaksa meladeni mereka dalam hidup sehari-hari. Tidak terasa berat selama kita tidak mencari persetujuan orang lain dan tetap fokus pada tujuan memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak.
Rabu, 04 Mei 2011
field trip ke monas
Tanggal 30 April 2011 kemarin kami melakukan field trip ke Monas, seingatku hanya 2 kali aku mengunjungi monas seumur hidupku itupun waktu aku masih sekolah SD dan SMP saat studi tour. kita berangkat menggunakan angkutan umum bis kota, namun ketika tiba dijakarta hujan deras mengguyur dan akhirnya kita melanjutkan perjalanan menggunakan busway hingga stasiun kebon sirih. hujan kembali menderas , tadinya kita berencana untuk langsung ke monas akhirnya kita menuju Megaria untuk mengisi perut dengan bernostalgia dengan ayam bakarnya. wah jadi inget waktu kuliah dulu.
setelahhujan reda, perut sudah terisi dan menunaikan shalat dhuhur, kami melanjutkan perjalanan ke Monas.
Tidak banyak berubah dari monas terutama interior /bagian dalam nya, diorama masih seperti dulu, kecuali taman diluar monas yang kini sangat terawat dan asri, hanya saja banyaknya pedagang asongan cukup mengganggu. Aku senang sekali bisa mengajak anak-anakku melihat-lihat diorama sambil sedikit banyak kuceritakan secara singkat cerita dalam diorama itu. syamil dan ninis tampak sangat antusias dan menyimak ceritaku dia juga tampak penasaran dan banyak bertanya.
Ketika kami ingin menuju puncak monas, waduh...ngantri boo. karena kebetulan hari ini week end, jadi sedang banyak2nya pengunjung. daripada harus ngantri berjam-jam akhirnya kita memilih beristirahat di pelataran monas, kemudian berkeliling dengan menyewa speda tandem. Dengan membayar Rp.15 ribu untuk 30 menit berkeliling monas, lumayanlah kebetulan cuaca sore ini cerah meski sebelumnya hujan deras. asyik anak-anak enjoy banget.
Setelah puas berkeliling monas saatnya kita menunaikan shalat ashar. karena monas letaknya bersebelahan dengan masjid Istiqlal maka kita shalat disana. Agak gondok dan kesel juga sih karena sempat nyasar nyari kamar kecil di masjid seluas Istiqlal yang konon terbesar di asia tenggara, udah gitu semua pintu wc terkunci lagi, akhirnya aku nekad aja pipis di pancuran disamping kamar kecil. mumpung sepi.hehehe
eh karena aku ga bawa mukena bingung deh cari2 mukena pinjaman yang biasanya disediakan gratis di masjid. Eh ada ibu2 yang aku kira berbaik hati mau meminjamkan mukenanya, taunya minta imbalan meski katanya seikhlasnya. ditempat penitipan sepatu/sendal juga gitu... seikhlasnya. ga papalah berbagi rezeki.
Setelah selesai shalat kita berencana mencoba es krim Ragusa yang kesohor itu, letaknya di belakang masjid. Tapi penuh banget, jadi batal deh, malah jadi beli makanan nggak jelas dan mahal pula..uhh
Hari mulai sore, badan mulai capek...akhirnya kita back to Tangerang. anak-anak senang banget udah dapat pengalaman menyenangkan hari ini.
setelahhujan reda, perut sudah terisi dan menunaikan shalat dhuhur, kami melanjutkan perjalanan ke Monas.
Tidak banyak berubah dari monas terutama interior /bagian dalam nya, diorama masih seperti dulu, kecuali taman diluar monas yang kini sangat terawat dan asri, hanya saja banyaknya pedagang asongan cukup mengganggu. Aku senang sekali bisa mengajak anak-anakku melihat-lihat diorama sambil sedikit banyak kuceritakan secara singkat cerita dalam diorama itu. syamil dan ninis tampak sangat antusias dan menyimak ceritaku dia juga tampak penasaran dan banyak bertanya.
Ketika kami ingin menuju puncak monas, waduh...ngantri boo. karena kebetulan hari ini week end, jadi sedang banyak2nya pengunjung. daripada harus ngantri berjam-jam akhirnya kita memilih beristirahat di pelataran monas, kemudian berkeliling dengan menyewa speda tandem. Dengan membayar Rp.15 ribu untuk 30 menit berkeliling monas, lumayanlah kebetulan cuaca sore ini cerah meski sebelumnya hujan deras. asyik anak-anak enjoy banget.
Setelah puas berkeliling monas saatnya kita menunaikan shalat ashar. karena monas letaknya bersebelahan dengan masjid Istiqlal maka kita shalat disana. Agak gondok dan kesel juga sih karena sempat nyasar nyari kamar kecil di masjid seluas Istiqlal yang konon terbesar di asia tenggara, udah gitu semua pintu wc terkunci lagi, akhirnya aku nekad aja pipis di pancuran disamping kamar kecil. mumpung sepi.hehehe
eh karena aku ga bawa mukena bingung deh cari2 mukena pinjaman yang biasanya disediakan gratis di masjid. Eh ada ibu2 yang aku kira berbaik hati mau meminjamkan mukenanya, taunya minta imbalan meski katanya seikhlasnya. ditempat penitipan sepatu/sendal juga gitu... seikhlasnya. ga papalah berbagi rezeki.
Setelah selesai shalat kita berencana mencoba es krim Ragusa yang kesohor itu, letaknya di belakang masjid. Tapi penuh banget, jadi batal deh, malah jadi beli makanan nggak jelas dan mahal pula..uhh
Hari mulai sore, badan mulai capek...akhirnya kita back to Tangerang. anak-anak senang banget udah dapat pengalaman menyenangkan hari ini.
| Berpose di depan gedung Bank Indonesia |
| Didepan Monas |
| Melihat-lihat diorama sambil bercerita |
| menuju puncak monas, meski akhirnya gagal karena antrean yang membludak |
| Salah satu diorama yang menggambarkan tentang derita para romusha pada saat penjajahan jepang |
| Saat teks proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta |
| Keliling monas dengan sepeda tandem, asyik banget |
| kring kring goes goes... |
| Berpose didepan masjid Istiqlal |
| Syamil nebeng di depan bareng supir bajaj |
| Ninis menikmati pengalaman naik bajaj dekat supir |
Label:
field trip,
monas
Sabtu, 09 April 2011
Perayaan maulid nabi Muhammad SAW
![]() |
| Ninis memakai baju setelan pink, syamil berpeci kuning sedang bersenandung shalawat |
![]() |
| mengucapkan salam sebelum dan sesudah shalawat |
![]() |
| Selesai tampil, Ninis tertawa senang, doi memang seneng tampil |
Selain homeschooling, kesibukan anak-anakku sehari-hari adalah kursus bahasa Inggris dan mengaji. Tentu semua orangtua menginginkan anak-anaknya belajar, tidak saja ilmu dunia namun juga ilmu akhirat. Harapan orangtua manapun pasti ingin buah hatinya pandai dan shaleh/shaleha. Sebagai umat muslim tentu bisa membaca alqur'an adalah keharusan, disamping pengetahuan agama yang dapat menjadi pedoman hidup bagi kita.
Sebelum homeschooling, anak-anak biasa mengaji dirumah dengan memanggil guru ngaji. Karena saat itu aku pikir anak-anak tentu sangat lelah karena beraktifitas sekolah dan kursus hingga pelajaran mengaji akhirnya dilakukan dengan memanggil guru ke rumah. Setelah menjalani homeschooling, anak-anak belajar siang atau malam hari, hingga sore hari digunakan untuk kursus dan mengaji di Masjid yang dijadikan TPA (Taman Pendidikan AlQuran) dekat rumah. Kursus bahasa inggris dan mengaji merupakan belajar wajib bagi anak-anakku karena disaat itulah waktu bagi anak-anakku bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. jadi meski tidak sekolah, anak-anakku tidak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan sebayanya.
Saat perayaan Maulid Nabi tempo hari, anak-anak TPA, termasuk Syamil dan Nisrina didaulat untuk maju ke depan melatunkan senandung shalawat dan asmaul husna, juga pembacaan ayat-ayat Al Quran. Anak-anak senang dan gembira, apalagi setelah turun panggung mereka mendapatkan bingkisan makanan ringan yang dinikmati bersama-sama.
Selasa, 05 April 2011
Ijasah dan sertifikat penting ? yang penting keahlian dong!!! (Curhat colongan)
Memiliki Ijazah apalagi kesarjanaan adalah sebuah kebanggaan bagiku terutama buat orangtuaku, gimana ngga keren, aku memiliki dua lembar ijazah, sarjana psikologi dan ijazah profesi psikolog. Selama 6 tahun lebih aku berjibaku dengan keringat dan air mata untuk meraih gelar kesarjanaan tersebut. Baru sekarang aku sadari sesadar-sadarnya bahwa psikologi bukanlah bidang yang benar-benar kuminati. Meski demikian nilaiku cukup baik dan masa kuliah kulewati dengan lancar. Yah aku hanya sekedar tertarik tapi tidak punya passion yang membuatku mencintai profesiku ini.
Aku ingat saat itu aku ingin sekali masuk fakultas sastra Inggris, atau paling tidak akademi bahasa asing, karena aku suka menulis dan membaca cerpen atau novel. Namun ortu tercinta dengan setengah memohon agar aku memilih jalur kesarjanaan dan akhirnya pilihanku adalah psikologi, itupun aku pilih karena tidak banyak berhubungan dengan pelajaran yang berkaitan dengan angka-angka yang aku benci..
Aku juga sangat menyukai bidang tata rias rambut dan make up, bahkan sejak SD aku sering main dandan2an dengan teman2 dan aku yang senang hati mendandani teman2. Saat SMP bahkan aku sudah bisa memotong rambut secara otodidak. Pokoknya senang banget deh dan rasanya puas banget melihat hasil karyaku yang kata orang cukup bagus padahal aku tidak pernah kursus lho.
Aku lulus kuliah profesi psikolog dengan IPK yang cukup baik 3.30, namun Ijasah sarjanaku "hanya terpakai" untuk bekerja selama 1,5 tahun saja, karena aku memilih resign dari pekerjaanku dan memilih mengurus anak pertamaku yang baru aku lahirkan. Entah ilham dari mana, tiba2 terlintas begitu saja keinginan untuk berwira usaha aja ah.., untunglah Allah memberikan jalan bagiku untuk mewujudkan keinginanku yang terpendam selama ini yaitu menggeluti bidang tata rias wajah dan rambut. Akhirnya menjelang setahun usia anak pertamaku, aku mulai membuka usaha salon kecantikan. Dengan modal minimalis dan kenekatan, karena aku hanya kursus kecantikan 2 bulan saja ditambah seminar dan workshop singkat, aku merasa percaya diri untuk menjadi pengusaha salon rumahan.
Kini sudah hampir 8 tahun usaha salon ku memang berjalan lancar, meski tidak ada kenaikan omset yang signifikan, dikarenakan saat ini prioritasku adalah keluarga, maka usaha salonku cenderung jalan ditempat, namun aku sangat menikmati profesiku. Dengan penghasilan 2-3 juta perbulan lumayanlah buatku, tanpa harus bekerja keluar rumah, berpanas-panas di jalan, pergi pagi pulang malam, mengeluarkan ongkos transport dan makan siang, aku bisa mendampingi anak-anakku 24 jam, dan selalu ada disaat mereka membutuhkanku.
Lalu gimana nasib ijazah sarjanaku dan Sertifikat Izin Praktek Psikolog ku ? hmmm tersimpan manis di lemariku, yaaah....nggak rugi juga sih aku kuliah, karena justru aku mendapatkan jodohku di kampus, dan paling tidak setahun sekali aku kebanjiran job untuk mengadakan psikotes bagi anak2 TK. Meski pekerjaan itu tidak terlalu aku sukai, tapi lumayanlah...asal ga sering2, beteeee abis....mending nyalon ah... hehe..
Makanya aku akan membebaskan pilihan bagi anak-anaku kelak terhadap profesi pilihannya yang sungguh-sungguh diminatinya. Aku berkaca pada diriku, lihat nih....justru sertifikat kursus2 singkat kecantikan yang kini selama 8 tahun menghidupiku dan membuatku merasa berarti dan bermanfaat bagi orang lain. Bukan dari Ijasah sarjana dan profesi psikolog yang aku kejar bertahun-tahun lamanya dan menghabiskan tidak sedikit biaya. menyesal...? tidak juga sih, bagiku semua ilmu bermanfaat kok, namun aku ingin anak-anakku tidak mengalaminya. aku ingin anak2ku hanya mengejar ilmu yang benar-benar disukai dan menyokong kariernya kelak, be efective, be focus, be a specialist, than you'll be a winner, in every way you want to be .....jadi ijazah apa sertifikat? bagiku itu pilihan, sekedar ijazah tanpa keahlian nol besar, sertifikat tanpa keahlian juga sia-sia, kemauan belajar dan fokus pada bidang yang kita minati sangatlah cukup, semuanya hanya selembar kertas thok!,
Aku ingat saat itu aku ingin sekali masuk fakultas sastra Inggris, atau paling tidak akademi bahasa asing, karena aku suka menulis dan membaca cerpen atau novel. Namun ortu tercinta dengan setengah memohon agar aku memilih jalur kesarjanaan dan akhirnya pilihanku adalah psikologi, itupun aku pilih karena tidak banyak berhubungan dengan pelajaran yang berkaitan dengan angka-angka yang aku benci..
Aku juga sangat menyukai bidang tata rias rambut dan make up, bahkan sejak SD aku sering main dandan2an dengan teman2 dan aku yang senang hati mendandani teman2. Saat SMP bahkan aku sudah bisa memotong rambut secara otodidak. Pokoknya senang banget deh dan rasanya puas banget melihat hasil karyaku yang kata orang cukup bagus padahal aku tidak pernah kursus lho.
Aku lulus kuliah profesi psikolog dengan IPK yang cukup baik 3.30, namun Ijasah sarjanaku "hanya terpakai" untuk bekerja selama 1,5 tahun saja, karena aku memilih resign dari pekerjaanku dan memilih mengurus anak pertamaku yang baru aku lahirkan. Entah ilham dari mana, tiba2 terlintas begitu saja keinginan untuk berwira usaha aja ah.., untunglah Allah memberikan jalan bagiku untuk mewujudkan keinginanku yang terpendam selama ini yaitu menggeluti bidang tata rias wajah dan rambut. Akhirnya menjelang setahun usia anak pertamaku, aku mulai membuka usaha salon kecantikan. Dengan modal minimalis dan kenekatan, karena aku hanya kursus kecantikan 2 bulan saja ditambah seminar dan workshop singkat, aku merasa percaya diri untuk menjadi pengusaha salon rumahan.
Kini sudah hampir 8 tahun usaha salon ku memang berjalan lancar, meski tidak ada kenaikan omset yang signifikan, dikarenakan saat ini prioritasku adalah keluarga, maka usaha salonku cenderung jalan ditempat, namun aku sangat menikmati profesiku. Dengan penghasilan 2-3 juta perbulan lumayanlah buatku, tanpa harus bekerja keluar rumah, berpanas-panas di jalan, pergi pagi pulang malam, mengeluarkan ongkos transport dan makan siang, aku bisa mendampingi anak-anakku 24 jam, dan selalu ada disaat mereka membutuhkanku.
Lalu gimana nasib ijazah sarjanaku dan Sertifikat Izin Praktek Psikolog ku ? hmmm tersimpan manis di lemariku, yaaah....nggak rugi juga sih aku kuliah, karena justru aku mendapatkan jodohku di kampus, dan paling tidak setahun sekali aku kebanjiran job untuk mengadakan psikotes bagi anak2 TK. Meski pekerjaan itu tidak terlalu aku sukai, tapi lumayanlah...asal ga sering2, beteeee abis....mending nyalon ah... hehe..
Makanya aku akan membebaskan pilihan bagi anak-anaku kelak terhadap profesi pilihannya yang sungguh-sungguh diminatinya. Aku berkaca pada diriku, lihat nih....justru sertifikat kursus2 singkat kecantikan yang kini selama 8 tahun menghidupiku dan membuatku merasa berarti dan bermanfaat bagi orang lain. Bukan dari Ijasah sarjana dan profesi psikolog yang aku kejar bertahun-tahun lamanya dan menghabiskan tidak sedikit biaya. menyesal...? tidak juga sih, bagiku semua ilmu bermanfaat kok, namun aku ingin anak-anakku tidak mengalaminya. aku ingin anak2ku hanya mengejar ilmu yang benar-benar disukai dan menyokong kariernya kelak, be efective, be focus, be a specialist, than you'll be a winner, in every way you want to be .....jadi ijazah apa sertifikat? bagiku itu pilihan, sekedar ijazah tanpa keahlian nol besar, sertifikat tanpa keahlian juga sia-sia, kemauan belajar dan fokus pada bidang yang kita minati sangatlah cukup, semuanya hanya selembar kertas thok!,
Selasa, 22 Maret 2011
ujian kenaikan sabuk
baris dulu sesuai kelompok warna sabuknya
mendengarkan pengarahan master sabeum sebelum ujian dimulai
Siap!....ujian dimulai
Tanggal 20 Maret kemarin, Pertamakalinya Syamil menghadapi ujian kenaikan tingkat pergantian sabuk dari sabuk putih ke sabuk kuning. Dengan diantar Abi ke tempat ujian yaitu di kawasan bandara Soetta. Syamil dengan semangat menghadapi ujian pertamannya. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar..Nak jangan pernsh mengendur semangatmu yahh terus maju dan berlatih sampai sabuk hitam seperti yang kamu cita-citakan...jadi anak yang pemberani dan tangguh!!! selalu jadi jagoan ummi yang tersayang...
Kamis, 03 Maret 2011
field trip ke kebun binatang ragunan
burung pelikan, ternyata besar juga yah...
waaa...kera mukanya luicu banget kayak siapa ya?
naik delman, keliling ragunan asyiiik...
ihhh abi kayaknya yang ketakutan tuh...anaknya sih santai aja hehe..
habis keliling, main mobiol-mobilan deh..
lihat rusa, Ninis maunya kasih makan daun..jangan ntar rusanya mencret lho..
hiiiy ular albino lagi makan tikus,syamil tapi ga takut tuh!
Rabu, 16 Februari 2011
Belajar membuat lapbook
![]() |
| Lapbook pertama Syamil |
Kemudian saya langsung mencoba membuat Lapbook untuk Syamil temanya adalah binatang dan Ninis temanya adalah binatang peliharaan. Awalnya saya Cuma mengumpulkan gambar-gambar tentang berbagai spesies binatang dan mengkategorikannya berdasarkan jenisnya, misalnya binatang apa saja yang termasuk mamalia, reptilia, unggas, ampibi, hewan air dan hewan peliharaan. Gambar2 binatangnya kami ambil dari internet dan di print lalu ditempelkan berdasarkan kategori masing-masing.
Hari berikutnya, Syamil membuat lapbook tentang Energi yang dibagi dari energy panas, gerak dan bunyi juga berbagai macam sumber energy, beserta contoh-contohnya. Ninis tidak mau kalah membuat lapbook mengenai Panca indera tentang kegunaan dan cara merawatnya. Mereka senang karena membuat lapbook itu sambil menggambar dan memotong-motong kertas yang merupakan hobinya.
Meski rumah jadi amburadul, tapi anak-anak suka dan merasa bangga dengan karya sederhana mereka, membuat lapbook itu jadi seperti belajar sambil berkarya…..
Point of no return (Tekadku untuk ber Homeschooling)
Sudah hampir sebulan lamanya aku tidak menulis artikel di blog ini, homeschooling anak-anakku berjalan meski sedikit tersendat, Karena aku mulai terjebak dengan metode school at home yang rasanya berat banget buat dijalankan. Memang saya sudah di warning oleh beberapa tulisan seniorku dalam homeschooling seperti mas Aar (Rumah inspirasi.com), yang mengatakan bahwa memindahkan konsep belajar ala sekolah ke rumah itu sangat berat, dan itu memang benar sekali…
Aku sendiri, jadi tidak lebih seperti ibu guru killer yang seringkali marah dan kesal pada anakku bila mengerjakan tugas latihan sambil main-main dan sambil mengerjakan ini itu. Hhhhhh..meski tingkat stressnya beda bila dibanding ketika mereka masih sekolah, lebih santai tapi tetap saja beraaat. Mungkin juga masa-masa awal ini merupakan masa deschooling bagi anak-anakku yang mengalami transisi dari kebiasaan sekolah kepada homeschooling.
Aku sepenuhnya sadar kok awal-awal dalam berHS tentu tidak mudah, aku dan anak-anakku masih mencari bentuk dan metode belajar yang pas dan nyaman buat kami. Karena saya dibesarkan dalam kultur sekolah, tentu yang saya tahu hanya cara belajar ala sekolah, meski sambil mencoba-coba dan mempertimbangkan metode lainnya juga sepeti unschooling, unit studies, Charlote Manson dll. Namun aku nampaknya masih kagok dan harus mulai terbiasa untuk terus mencobanya.
Tapi homeschooling adalah pilihanku, pilihan terbaik bagi anak-anakku. Hal ini tetap membuatku harus terus semangat menjalaninya, Alhamdullilah, suami dan orangtuaku juga mendukungku. Sulit pada awalnya manis pada akhirnya, aku yakin akan hal itu…There is point of no return, aku sudah berada pada suatu titik dimana tidak ada kata untuk kembali dan menyesali keputusanku ber homeschooling, tidak ada kata menyerah dan karena itu semua akan jadi set back bagi hidupku. Tekadku harus selalu diperbarui setiap kali semangatku mengendur. Ini baru awal, it just a beginning, masih panjang waktu terbentang dihadapan anak-anakku, semoga dalam prosesnya berjalan dengan memberikan jejak-jejak terbaik yang memberi makna hidup yang positif bagi mereka kelak. Semoga…Amin ya Rabb
Aku sendiri, jadi tidak lebih seperti ibu guru killer yang seringkali marah dan kesal pada anakku bila mengerjakan tugas latihan sambil main-main dan sambil mengerjakan ini itu. Hhhhhh..meski tingkat stressnya beda bila dibanding ketika mereka masih sekolah, lebih santai tapi tetap saja beraaat. Mungkin juga masa-masa awal ini merupakan masa deschooling bagi anak-anakku yang mengalami transisi dari kebiasaan sekolah kepada homeschooling.
Aku sepenuhnya sadar kok awal-awal dalam berHS tentu tidak mudah, aku dan anak-anakku masih mencari bentuk dan metode belajar yang pas dan nyaman buat kami. Karena saya dibesarkan dalam kultur sekolah, tentu yang saya tahu hanya cara belajar ala sekolah, meski sambil mencoba-coba dan mempertimbangkan metode lainnya juga sepeti unschooling, unit studies, Charlote Manson dll. Namun aku nampaknya masih kagok dan harus mulai terbiasa untuk terus mencobanya.
Tapi homeschooling adalah pilihanku, pilihan terbaik bagi anak-anakku. Hal ini tetap membuatku harus terus semangat menjalaninya, Alhamdullilah, suami dan orangtuaku juga mendukungku. Sulit pada awalnya manis pada akhirnya, aku yakin akan hal itu…There is point of no return, aku sudah berada pada suatu titik dimana tidak ada kata untuk kembali dan menyesali keputusanku ber homeschooling, tidak ada kata menyerah dan karena itu semua akan jadi set back bagi hidupku. Tekadku harus selalu diperbarui setiap kali semangatku mengendur. Ini baru awal, it just a beginning, masih panjang waktu terbentang dihadapan anak-anakku, semoga dalam prosesnya berjalan dengan memberikan jejak-jejak terbaik yang memberi makna hidup yang positif bagi mereka kelak. Semoga…Amin ya Rabb
Label:
homeschooling
Kamis, 27 Januari 2011
Masa depan : Portfolio bukan ijazah
Article by Sumardiono dari http://Rumahinspirasi.com
Ketika berbicara tentang homeschooling/unschooling, salah satu concern besar dari masyarakat yang muncul adalah mengenai ijazah.
“Kita tak mungkin bekerja tanpa ijazah. Itulah realitas di Indonesia. ” Begitu kurang lebih argumentasinya.
Yah… argumen itu mengandung kebenaran, walau tak sepenuhnya. Kalau bekerja artinya adalah menjadi pegawai di pabrik atau kantor, jawabannya sangat iya.
Tapi bagaimana kalau pekerjaannya adalah penulis, fotografer, penyanyi, musisi, blogger, pedagang, atau pebinis? Masih relevankah ijazah untuk bekerja? Atau, profesi-profesi itu dianggap hanya merupakan hobi atau tak cukup serius untuk dianggap sebagai pekerjaan?
Tak dapat dipungkiri, ijazah memang cara termudah untuk mengukur “credential” seseorang. Dengan menyebutkan sebagai lulusan tingkat A dari perguruan XYZ, seseorang mungkin dapat dikenali kredibilitasnya. Tapi, semakin lama ijazah saja tak lagi mencukupi.
Dibutuhkan informasi lain yang menunjukkan minat dan kualitas seseorang, yang menentukan kesesuaiannya dengan yang kualifikasi diminta. Dan di sanalah portofolio berada. Portofolio menunjukkan catatan ketertarikan (interest) dan minat (passion) seorang seseorang, yang terwujudkan dalam bentuk aksi dan output. Portofolio bukan hanya tentang yang diketahui, tetapi yang dilakukan.
Portofolio yang baik mengandung beberapa aspek, diantaranya:
kumpulan karya/output selama bertahun-tahun yang menunjukkan konsistensi dan perkembangan kualitas/kemampuan.
memiliki beragam bentuk multimedia, baik teks, grafik/gambar/foto, film.
memasukkan penilaian eksternal untuk mengurangi subjektivitas; misalnya: penghargaan, berita di media, bukti pekerjaan dari klien, dan sebagainya.
**
Jika pekerjaan maknanya adalah melamar ke perusahaan, mungkin jalan yang akan kita lihat dalam waktu dekat (near future) memang masih tentang ijazah. Ijazah memainkan peran penting, tetapi portofolio akan menjadi nilai tambah yang semakin diperhitungkan.
Tapi kalau berbicara tentang profesi-profesi mandiri (yang menjadi ciri era teknologi/informasi) dan profesi masa depan, portofolio dan kemampuan menghasilkan output menjadi sebuah hal yang tak bisa ditawar lagi. Portofolio memiliki nilai yang lebih daripada ijazah; apalagi ijazah yang hanya sekedar formalitas.
Tak diragukan.
Ketika berbicara tentang homeschooling/unschooling, salah satu concern besar dari masyarakat yang muncul adalah mengenai ijazah.
“Kita tak mungkin bekerja tanpa ijazah. Itulah realitas di Indonesia. ” Begitu kurang lebih argumentasinya.
Yah… argumen itu mengandung kebenaran, walau tak sepenuhnya. Kalau bekerja artinya adalah menjadi pegawai di pabrik atau kantor, jawabannya sangat iya.
Tapi bagaimana kalau pekerjaannya adalah penulis, fotografer, penyanyi, musisi, blogger, pedagang, atau pebinis? Masih relevankah ijazah untuk bekerja? Atau, profesi-profesi itu dianggap hanya merupakan hobi atau tak cukup serius untuk dianggap sebagai pekerjaan?
Tak dapat dipungkiri, ijazah memang cara termudah untuk mengukur “credential” seseorang. Dengan menyebutkan sebagai lulusan tingkat A dari perguruan XYZ, seseorang mungkin dapat dikenali kredibilitasnya. Tapi, semakin lama ijazah saja tak lagi mencukupi.
Dibutuhkan informasi lain yang menunjukkan minat dan kualitas seseorang, yang menentukan kesesuaiannya dengan yang kualifikasi diminta. Dan di sanalah portofolio berada. Portofolio menunjukkan catatan ketertarikan (interest) dan minat (passion) seorang seseorang, yang terwujudkan dalam bentuk aksi dan output. Portofolio bukan hanya tentang yang diketahui, tetapi yang dilakukan.
Portofolio yang baik mengandung beberapa aspek, diantaranya:
kumpulan karya/output selama bertahun-tahun yang menunjukkan konsistensi dan perkembangan kualitas/kemampuan.
memiliki beragam bentuk multimedia, baik teks, grafik/gambar/foto, film.
memasukkan penilaian eksternal untuk mengurangi subjektivitas; misalnya: penghargaan, berita di media, bukti pekerjaan dari klien, dan sebagainya.
**
Jika pekerjaan maknanya adalah melamar ke perusahaan, mungkin jalan yang akan kita lihat dalam waktu dekat (near future) memang masih tentang ijazah. Ijazah memainkan peran penting, tetapi portofolio akan menjadi nilai tambah yang semakin diperhitungkan.
Tapi kalau berbicara tentang profesi-profesi mandiri (yang menjadi ciri era teknologi/informasi) dan profesi masa depan, portofolio dan kemampuan menghasilkan output menjadi sebuah hal yang tak bisa ditawar lagi. Portofolio memiliki nilai yang lebih daripada ijazah; apalagi ijazah yang hanya sekedar formalitas.
Tak diragukan.
Label:
ijazah,
port folio
Rabu, 26 Januari 2011
Belajar membuat burger di Wendy's
Hari ini, tanggal 26 Januari, anak anak mengikuti kegiatan tematik yang diadakan lembaga kursus Bahasa Inggrisnya One Learning Centre (OLC), tempat Syamil dan Ninis les bahasa inggris. Oleh OLC Anak anak diajak mengunjungi salah satu gerai fastfood di Lippo Karawaci yang menjual makanan sejenis burger, fried chicken, dll. Kegiatan disana meliputi tour kitchen dan how to making wendy’s burger.
Setelah mendapatkan pengarahan panitia dari pihak Wendys dan OLC, anak-anak, secara bergiliran masuk ke dapur untuk melihat-lihat proses penyimpanan dan pembuatan makanan. Menurut anak-anak, didapur mereka melihat peralatan memasak yang besar-besar. Kemudian melihat lemari pendingin tempat penyimpanan makanan. Mereka juga melihat proses membuat roti bun, cara memasak daging burger dan bahan pelengkap lainnya.
Setelah itu anak-anak belajar membuat burger sendiri, mereka masing-masing diberi jatah satu buah bun atau roti bulat yang sudah dialasi oleh wrap paper, kemudian anak-anak diberi petunjuk cara membuatnya mulai dari mengoles mayonnaise, tomato sauce, mustard dan diberi 2 buah pickle atau acar mentimun, onion atau bawang Bombay, irisan tomat dan kemudian diberi irisan daging burger dan terakhir lembaran keju. Setelah selesai, anak-anak dapat menikmati burger buatannya sendiri.
Syamil dan Ninis senang sekali, meski mereka juga pernah membuat burger sendiri dirumah, namun pengalaman membuatnya bersama-sama teman-temannya, tentu rasanya berbeda. Ninis sampai melahap habis burger buatannya. Syamil yang tidak terlalu suka burger juga akhirnya melahapnya meski ada sedikit tersisa karena kekenyangan katanya. Usai acara, anak-anak dibagikan kenang-kenangan berupa lunch box dari Wendy’s. Mereka senang sekali hari ini, ditambah lagi sehabis acara ini kita akan menonton film Yogi Bear. Yess makin lengkap deh senangnya……
Setelah mendapatkan pengarahan panitia dari pihak Wendys dan OLC, anak-anak, secara bergiliran masuk ke dapur untuk melihat-lihat proses penyimpanan dan pembuatan makanan. Menurut anak-anak, didapur mereka melihat peralatan memasak yang besar-besar. Kemudian melihat lemari pendingin tempat penyimpanan makanan. Mereka juga melihat proses membuat roti bun, cara memasak daging burger dan bahan pelengkap lainnya.
Setelah itu anak-anak belajar membuat burger sendiri, mereka masing-masing diberi jatah satu buah bun atau roti bulat yang sudah dialasi oleh wrap paper, kemudian anak-anak diberi petunjuk cara membuatnya mulai dari mengoles mayonnaise, tomato sauce, mustard dan diberi 2 buah pickle atau acar mentimun, onion atau bawang Bombay, irisan tomat dan kemudian diberi irisan daging burger dan terakhir lembaran keju. Setelah selesai, anak-anak dapat menikmati burger buatannya sendiri.
Syamil dan Ninis senang sekali, meski mereka juga pernah membuat burger sendiri dirumah, namun pengalaman membuatnya bersama-sama teman-temannya, tentu rasanya berbeda. Ninis sampai melahap habis burger buatannya. Syamil yang tidak terlalu suka burger juga akhirnya melahapnya meski ada sedikit tersisa karena kekenyangan katanya. Usai acara, anak-anak dibagikan kenang-kenangan berupa lunch box dari Wendy’s. Mereka senang sekali hari ini, ditambah lagi sehabis acara ini kita akan menonton film Yogi Bear. Yess makin lengkap deh senangnya……
Langganan:
Komentar (Atom)




























