Senin, 16 Mei 2011

Sanggupkah? kegagalan homeschooling

by : Andini Rizky

Pada suatu hari, ada sebuah keluarga yang anaknya bermasalah dengan sekolah. Mendengar tentang homeschooling, mereka tertarik, dan mencobanya. OK deh, satu bulan dulu. Atau setahun dulu, kita coba, bagaimana hasilnya.

Betapa terkejutnya mereka, ternyata mulai dari mertua, orangtua, om tante, teman di kantor, sampai orang lewat pun serentak bangkit untuk menentang keputusan keluarga mereka.

Seru orang-orang itu setengah mengamuk,”Apa? Homeschooling? Bagaimana sosialisasinya? Memangnya anakmu artis? Mau jadi apa kalau sudah besar nanti? Jangan hancurkan masa depan anakmu!”

Setiap hari dikejar-kejar pertanyaan seperti ini, keluarga itu merasa tertekan. Apalagi karena mereka baru mulai homeschooling, bagaimana seharusnya menghadapinya, juga tidak tahu. Ibu menjadi murung, tidak bersemangat mengajar anaknya lagi. “Ah, buat apa capek-capek, tidak ada yang menghargai.”

Ayah di kantor, merasa tertekan ditertawakan rekan-rekan kerjanya. “Nih, anaknya dia nggak sekolah nih. Huahaha, mau jadi apa… Anak itu jangan terlalu diturutin. Nanti jadi mental tempe!”

Apalagi setiap kali bertemu kerabat, mereka selalu dinasihati, bisa berjam-jam lho, tentang pentingnya pendidikan dan sekolah. Ayah dan ibu tidak berani melawan karena rasanya tidak enak kalau dimusuhi keluarga besar. Kalau angkat bicara takut dibenci. Jadi keduanya diam saja sambil menunduk.

Sepertinya seluruh dunia berkonspirasi menyuruh mereka untuk berhenti homeschooling.

Mereka menjadi stres, terus-menerus sedih, dan marah-marah. Tahukah kamu kalau orangtua stres, anak juga jadi ‘nakal’ dan bertingkah? Oh, oh, kayaknya homeschooling-nya gagal nih. Anak ini bukannya menjadi percaya diri seperti kata blog Homeschooling Indonesia, malah jadi anak setan. Selang beberapa lama, kedua orangtua itu tak tahan lagi, dikembalikanlah si anak ini ke sekolah.

Ayah dan ibu itu menghela napas lega,”Ah, alhamdulillah. Anakku sudah sekolah, sekarang orang-orang akan kembali menerima keberadaanku.”

Anak, adalah cerminan orangtua. Orangtua yang mencari persetujuan orang lain, tidak bisa tidak, pasti membesarkan anak yang mencari persetujuan orang lain juga.

“Mama, aku senang, bisa sekolah lagi. Di sekolah aku banyak teman. Aku tidak diledeki anak-anak kampung lagi.”

Syukurlah. Semua berbahagia. Anak ini sudah sekolah. Sudah kembali ke jalan yang benar. Masalah-masalah dengan sekolah kembali lagi tetapi tidak apa-apa. Soalnya ternyata homeschooling itu nggak enak!

Homeschooling is not for wimps. Homeschooling bukan untuk orang-orang lemah yang mengejar pengakuan orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak berharga ketika tidak diterima orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak enak hati saat berbeda dengan orang lain.

Tidak hanya bagi anak, bagi orangtua pun, homeschooling merupakan sarana pembelajaran yang penting. Orangtua homeschooling harus belajar untuk berani menjadi diri sendiri, menerima kenyataan tidak semua orang akan menyetujui keputusan kita, menyadari bahwa kita tidak perlu pengakuan semua orang, dan belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda pendapat tanpa harus memusuhi.

Padahal ya bertahun-tahun kita sendiri dididik untuk menyenangkan hati semua orang. Bertahun-tahun kita dididik untuk memilih bergaul dengan orang-orang yang sama pemikirannya dengan kita. Sekarang kita memilih menjadi lain sendiri, menjadi minoritas. Sanggupkah kita?

Syamil belajar berkompetisi

Latihan menjelang pertandingan


Syamil sedang diberi pengarahan sebelum bertanding

Beraksi sebelum bertanding, wow kerennya anakku

Salah satu yang banyak dikhawatirkan orang-orang yang tidak setuju pada homeschooling adalah kurangnya daya kompetisi pada anak homeschooling. Hari ini syamil membuktikan bahwa ia juga siap berkompetisi yang artinya berusaha sekuat tenaga untuk menang namun juga siap menerima kekalahan. Karakter seorang juara adalah sportifitas dan pantang menyerah. Hal itu yang tentunya aku tanamkan pada anak lelakiku.


Kemarin hari Sabtu 14 Mei 2011, Syamil pertama kalinya mengikuti kejuaraan Takwondo yang diselenggarakan klubnya. Sejak pagi Syamil sudah datang ke tempat pertandingan dan mempersiapkan diri untuk bertanding. Selaku orangtua kami menekankan pada Syamil bahwa ia tidak harus menang tapi wajib berusaha sebaik mungkin. Akhirnya ketika tiba giliran untuk bertanding, lawan tandingnya tidak hadir di arena. Akhirnya dengan sangat mengejutkan Syamil dinyatakan menang W.O atas tim lawan. Kami sebenarnya kurang senang karena tidak sempat melihat syamil beraksi. Akhirnya kami harus menunggu partai semi final untuk bertanding kembali, karena jarak rumah dengan tempat bertanding sangat dekat maka kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat dahulu.

Tiba-tiba Sabem Fidho mengirimkan SMS untuk segera ke tempat pertandingan. Tadinya aku kira saatnya Syamil bertanding untuk Semi final. Ternyata rencana berubah total, tim lawan yang sudah dinyatakan kalah W.O, melakukan protes dan menuntut untuk bertanding ulang, alasannya karena sang sabem lawan salah lihat bagan pertandingan, sehingga lawan Syamil malah bertanding dengan lawan yang salah. Akhirnya aku menyetujui tuntutan tim lawan untuk bertanding ulang. Syamil juga harus diberi pengertian bahwa medali perunggu yang tadinya sudah dipastikan sudah digenggaman bisa melayang.


Akhirnya tiba giliran tanding ulang bagi syamil, hanya dalam 30 detik syamil dengan mudah dikalahkan lawan, terlihat sekali syamil tidak siap dan kaget dengan serangan lawan yang bertubi-tubi, Syamil hanya sempat menendang beberapa kali, namun tidak menghasilkan angka. Angka 7-0 menjadi kekalahan telak bagi Syamil. Terlihat sekali kekecewaan terbersit diwajahnya, matanya terlihat berkaca-kaca, samping memegangi kepalanya yang katanya agak pusing di kick lawan.

Ah tidak apa-apa sayang, ini adalah kompetisi awal bagimu, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Menerima kekalahan dengan lapangdada dan terus semangat untuk berjuang terus, insya Allah suatu saat kamu akan meraih kemenangan.


Lagipula aku mengikutsertakan Syamil dalam olahraga Taekwondo ini adalah terutama untuk mengasah konsentrasi dan fisiknya yang lemah dan mudah sakit. Sangat terasa sekali setelah lebih dari 6 bulan Syamil lebih bisa konsentrasi dan lebih Fit dan tidak sering sakit-sakitan seperti dulu. Jadi menjadi atlit atau berprestasi bukan tujuanku untuk syamil mengikuti olahraga taekwondo. Melihatnya semangat dan menyukai kegiatan olahraga beladiri saja sudah membuatku senang bukan main. So that’s not my corncern, win or lose is not a big deal…..

Menerima kekalahan itu lebih membutuhkan banyak kesabaran dan kebesaran hati. Semoga pelajaran hari ini bisa membuatmu menjadi manusia yang selalu berbesar hati dan bersabar ketika menerima kekalahan, bersyukur dan tidak sombong ketika kamu mendapat kemenangan, dan selalu berusaha pantang menyerah memberikan yang terbaik. Kita wajib berusaha tapi tidak wajib untuk berhasil, karena manusia wajib berikhtiar namun hasilnya adalah mutlak ketetapan Allah.

Kamis, 05 Mei 2011

Komentar seru tentang kelebihan dan kekurangan homeschooling

Tulisan ini adalah komentar dari opini keliru tentang homeschooling di Yahoo! News Indonesia, klik disini. komentar menarik ini aku copas dari blognya Mbak Andini Rizky

*Baca juga tanggapan praktisi homeschooling di sana. Seru!

Berikut jawabanku di kolom komentar: ( By Andini)
Wahai Penulis, Anda dibayar mahal oleh Yahoo Indonesia, lalu kenapa Anda malas riset padahal keluarga homeschooling Indonesia banyak yang sudah bisa dihubungi lewat blog homeschooling mereka masing-masing?

Anda salah besar soal kekurangan homeschooling.

1. Kurangnya disiplin. Salah! Untuk homeschooling dituntut kedisiplinan yang tinggi dari dalam diri anak itu sendiri. Anak homeschooling akan lebih banyak berlatih disiplin dan berinisiatif daripada anak sekolah yang disuruh-suruh terus oleh gurunya.

2. Minimnya kompetisi. Salah! Banyak anak homeschooling yang memilih homeschooling karena ingin menang dalam kompetisi sesuai bakatnya, programming, olahraga, seni, spelling bee, robotik, dan sebagainya. Mereka tidak takut kompetisi karena mereka berada pada posisi yang menguntungkan untuk MENANG.

3. Belum ada standardisasi kurikulum. Justru kebaikan homeschooling karena bisa menyesuaikan kurikulum dengan keunikan tiap-tiap anak. Ketika anak homeschooling ikut ujian persamaan dari pemerintah, mereka pasti harus belajar mengikuti kurikulum nasional.

4. Sosialisasi. Kurang tantangan? Anda salah! Menjadi anak homeschooling lebih berat karena orang-orang sekitar akan melecehkan dan anak harus berani menjadi lain sendiri. Kalau ada anak orang lain yang berani melakukan bullying seperti yang kerap terjadi di sekolah, keluarga homeschooling akan melakukan tindakan penanganan yang wajar kita lakukan di masyarakat beradab, yaitu: melaporkan pada pihak berwajib, bukan menahan penderitaan sampai dia lulus sekolah. Anak-anak homeschooling akan menjadi agen perubahan bermental baja yang berani membela kebenaran dan keadilan, bukan orang-orang lemah yang terbiasa dan pasrah dengan kecurangan dan kekejian.

5. Masalah keuangan? Salah! Keluarga homeschooling menghemat uang pangkal, SPP, seragam, dan lain-lain. Yang semuanya bisa dialihkan untuk membeli buku-buku yang lebih penting untuk pendidikannya, atau biaya homestay ke luar negeri sehingga mereka bisa menjelajah dunia kalau mau. Orangtua homeschooling punya kekuasaan penuh untuk menentukan biaya pendidikan anaknya. Mereka tidak perlu mengeluh betapa mahalnya biaya pendidikan seperti orangtua lain yang pilih sekolah.

Menurutku kekurangan homeschooling yang sesungguhnya adalah: selalu ada pengkritik kurang info seperti ini, dan keluarga homeschooling terpaksa meladeni mereka dalam hidup sehari-hari. Tidak terasa berat selama kita tidak mencari persetujuan orang lain dan tetap fokus pada tujuan memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak.

Rabu, 04 Mei 2011

field trip ke monas

Tanggal 30 April 2011 kemarin kami melakukan field trip ke Monas, seingatku hanya 2 kali aku mengunjungi monas seumur hidupku itupun waktu aku masih sekolah SD dan SMP saat studi tour. kita berangkat menggunakan angkutan umum bis kota, namun ketika tiba dijakarta hujan deras mengguyur dan akhirnya kita melanjutkan perjalanan menggunakan busway hingga stasiun kebon sirih. hujan kembali menderas , tadinya kita berencana untuk langsung ke monas akhirnya kita menuju Megaria untuk mengisi perut dengan bernostalgia dengan ayam bakarnya. wah jadi inget waktu kuliah dulu.

setelahhujan reda, perut sudah terisi dan menunaikan shalat dhuhur,  kami melanjutkan perjalanan ke Monas.
Tidak banyak berubah dari monas terutama interior /bagian dalam nya, diorama masih seperti dulu, kecuali taman diluar monas yang kini sangat terawat dan asri, hanya saja banyaknya pedagang asongan cukup mengganggu. Aku senang sekali bisa mengajak anak-anakku melihat-lihat diorama sambil sedikit banyak kuceritakan secara singkat cerita dalam diorama itu. syamil dan ninis tampak sangat antusias dan menyimak ceritaku dia juga tampak penasaran dan banyak bertanya.

Ketika kami ingin menuju puncak monas, waduh...ngantri boo. karena kebetulan hari ini week end, jadi sedang banyak2nya pengunjung. daripada harus ngantri berjam-jam akhirnya kita memilih beristirahat di pelataran monas, kemudian berkeliling dengan menyewa speda tandem. Dengan membayar Rp.15 ribu untuk 30 menit berkeliling monas, lumayanlah kebetulan cuaca sore ini cerah meski sebelumnya hujan deras. asyik anak-anak enjoy banget.

Setelah puas berkeliling monas saatnya kita menunaikan shalat ashar. karena monas letaknya bersebelahan dengan masjid Istiqlal maka kita shalat disana.  Agak gondok dan kesel juga sih karena sempat nyasar nyari kamar kecil di masjid seluas Istiqlal yang konon terbesar di asia tenggara, udah gitu semua pintu wc terkunci lagi, akhirnya aku nekad aja pipis di pancuran disamping kamar kecil. mumpung sepi.hehehe
eh karena aku ga bawa mukena bingung deh cari2 mukena pinjaman yang biasanya disediakan gratis di masjid. Eh ada ibu2 yang aku kira berbaik hati mau meminjamkan mukenanya, taunya minta imbalan meski katanya seikhlasnya. ditempat penitipan sepatu/sendal juga gitu... seikhlasnya. ga papalah berbagi rezeki.

Setelah selesai shalat kita berencana mencoba es krim Ragusa yang kesohor itu, letaknya di belakang masjid. Tapi penuh banget, jadi batal deh,  malah jadi beli makanan nggak jelas dan mahal pula..uhh
Hari mulai sore, badan mulai capek...akhirnya kita back to Tangerang.  anak-anak  senang banget udah dapat pengalaman menyenangkan hari ini.


Berpose di depan gedung Bank Indonesia

Didepan Monas     
 
Melihat-lihat diorama sambil bercerita

menuju puncak monas, meski akhirnya gagal karena antrean yang membludak
Salah satu diorama yang menggambarkan tentang derita para romusha pada saat penjajahan jepang

Saat teks proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta

Keliling monas dengan sepeda tandem, asyik banget
kring kring goes goes...

Berpose didepan masjid Istiqlal 


Syamil nebeng di depan bareng supir bajaj
Ninis menikmati pengalaman naik bajaj dekat supir