Senin, 16 Mei 2011

Syamil belajar berkompetisi

Latihan menjelang pertandingan


Syamil sedang diberi pengarahan sebelum bertanding

Beraksi sebelum bertanding, wow kerennya anakku

Salah satu yang banyak dikhawatirkan orang-orang yang tidak setuju pada homeschooling adalah kurangnya daya kompetisi pada anak homeschooling. Hari ini syamil membuktikan bahwa ia juga siap berkompetisi yang artinya berusaha sekuat tenaga untuk menang namun juga siap menerima kekalahan. Karakter seorang juara adalah sportifitas dan pantang menyerah. Hal itu yang tentunya aku tanamkan pada anak lelakiku.


Kemarin hari Sabtu 14 Mei 2011, Syamil pertama kalinya mengikuti kejuaraan Takwondo yang diselenggarakan klubnya. Sejak pagi Syamil sudah datang ke tempat pertandingan dan mempersiapkan diri untuk bertanding. Selaku orangtua kami menekankan pada Syamil bahwa ia tidak harus menang tapi wajib berusaha sebaik mungkin. Akhirnya ketika tiba giliran untuk bertanding, lawan tandingnya tidak hadir di arena. Akhirnya dengan sangat mengejutkan Syamil dinyatakan menang W.O atas tim lawan. Kami sebenarnya kurang senang karena tidak sempat melihat syamil beraksi. Akhirnya kami harus menunggu partai semi final untuk bertanding kembali, karena jarak rumah dengan tempat bertanding sangat dekat maka kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat dahulu.

Tiba-tiba Sabem Fidho mengirimkan SMS untuk segera ke tempat pertandingan. Tadinya aku kira saatnya Syamil bertanding untuk Semi final. Ternyata rencana berubah total, tim lawan yang sudah dinyatakan kalah W.O, melakukan protes dan menuntut untuk bertanding ulang, alasannya karena sang sabem lawan salah lihat bagan pertandingan, sehingga lawan Syamil malah bertanding dengan lawan yang salah. Akhirnya aku menyetujui tuntutan tim lawan untuk bertanding ulang. Syamil juga harus diberi pengertian bahwa medali perunggu yang tadinya sudah dipastikan sudah digenggaman bisa melayang.


Akhirnya tiba giliran tanding ulang bagi syamil, hanya dalam 30 detik syamil dengan mudah dikalahkan lawan, terlihat sekali syamil tidak siap dan kaget dengan serangan lawan yang bertubi-tubi, Syamil hanya sempat menendang beberapa kali, namun tidak menghasilkan angka. Angka 7-0 menjadi kekalahan telak bagi Syamil. Terlihat sekali kekecewaan terbersit diwajahnya, matanya terlihat berkaca-kaca, samping memegangi kepalanya yang katanya agak pusing di kick lawan.

Ah tidak apa-apa sayang, ini adalah kompetisi awal bagimu, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Menerima kekalahan dengan lapangdada dan terus semangat untuk berjuang terus, insya Allah suatu saat kamu akan meraih kemenangan.


Lagipula aku mengikutsertakan Syamil dalam olahraga Taekwondo ini adalah terutama untuk mengasah konsentrasi dan fisiknya yang lemah dan mudah sakit. Sangat terasa sekali setelah lebih dari 6 bulan Syamil lebih bisa konsentrasi dan lebih Fit dan tidak sering sakit-sakitan seperti dulu. Jadi menjadi atlit atau berprestasi bukan tujuanku untuk syamil mengikuti olahraga taekwondo. Melihatnya semangat dan menyukai kegiatan olahraga beladiri saja sudah membuatku senang bukan main. So that’s not my corncern, win or lose is not a big deal…..

Menerima kekalahan itu lebih membutuhkan banyak kesabaran dan kebesaran hati. Semoga pelajaran hari ini bisa membuatmu menjadi manusia yang selalu berbesar hati dan bersabar ketika menerima kekalahan, bersyukur dan tidak sombong ketika kamu mendapat kemenangan, dan selalu berusaha pantang menyerah memberikan yang terbaik. Kita wajib berusaha tapi tidak wajib untuk berhasil, karena manusia wajib berikhtiar namun hasilnya adalah mutlak ketetapan Allah.

Kamis, 05 Mei 2011

Komentar seru tentang kelebihan dan kekurangan homeschooling

Tulisan ini adalah komentar dari opini keliru tentang homeschooling di Yahoo! News Indonesia, klik disini. komentar menarik ini aku copas dari blognya Mbak Andini Rizky

*Baca juga tanggapan praktisi homeschooling di sana. Seru!

Berikut jawabanku di kolom komentar: ( By Andini)
Wahai Penulis, Anda dibayar mahal oleh Yahoo Indonesia, lalu kenapa Anda malas riset padahal keluarga homeschooling Indonesia banyak yang sudah bisa dihubungi lewat blog homeschooling mereka masing-masing?

Anda salah besar soal kekurangan homeschooling.

1. Kurangnya disiplin. Salah! Untuk homeschooling dituntut kedisiplinan yang tinggi dari dalam diri anak itu sendiri. Anak homeschooling akan lebih banyak berlatih disiplin dan berinisiatif daripada anak sekolah yang disuruh-suruh terus oleh gurunya.

2. Minimnya kompetisi. Salah! Banyak anak homeschooling yang memilih homeschooling karena ingin menang dalam kompetisi sesuai bakatnya, programming, olahraga, seni, spelling bee, robotik, dan sebagainya. Mereka tidak takut kompetisi karena mereka berada pada posisi yang menguntungkan untuk MENANG.

3. Belum ada standardisasi kurikulum. Justru kebaikan homeschooling karena bisa menyesuaikan kurikulum dengan keunikan tiap-tiap anak. Ketika anak homeschooling ikut ujian persamaan dari pemerintah, mereka pasti harus belajar mengikuti kurikulum nasional.

4. Sosialisasi. Kurang tantangan? Anda salah! Menjadi anak homeschooling lebih berat karena orang-orang sekitar akan melecehkan dan anak harus berani menjadi lain sendiri. Kalau ada anak orang lain yang berani melakukan bullying seperti yang kerap terjadi di sekolah, keluarga homeschooling akan melakukan tindakan penanganan yang wajar kita lakukan di masyarakat beradab, yaitu: melaporkan pada pihak berwajib, bukan menahan penderitaan sampai dia lulus sekolah. Anak-anak homeschooling akan menjadi agen perubahan bermental baja yang berani membela kebenaran dan keadilan, bukan orang-orang lemah yang terbiasa dan pasrah dengan kecurangan dan kekejian.

5. Masalah keuangan? Salah! Keluarga homeschooling menghemat uang pangkal, SPP, seragam, dan lain-lain. Yang semuanya bisa dialihkan untuk membeli buku-buku yang lebih penting untuk pendidikannya, atau biaya homestay ke luar negeri sehingga mereka bisa menjelajah dunia kalau mau. Orangtua homeschooling punya kekuasaan penuh untuk menentukan biaya pendidikan anaknya. Mereka tidak perlu mengeluh betapa mahalnya biaya pendidikan seperti orangtua lain yang pilih sekolah.

Menurutku kekurangan homeschooling yang sesungguhnya adalah: selalu ada pengkritik kurang info seperti ini, dan keluarga homeschooling terpaksa meladeni mereka dalam hidup sehari-hari. Tidak terasa berat selama kita tidak mencari persetujuan orang lain dan tetap fokus pada tujuan memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak.

Rabu, 04 Mei 2011

field trip ke monas

Tanggal 30 April 2011 kemarin kami melakukan field trip ke Monas, seingatku hanya 2 kali aku mengunjungi monas seumur hidupku itupun waktu aku masih sekolah SD dan SMP saat studi tour. kita berangkat menggunakan angkutan umum bis kota, namun ketika tiba dijakarta hujan deras mengguyur dan akhirnya kita melanjutkan perjalanan menggunakan busway hingga stasiun kebon sirih. hujan kembali menderas , tadinya kita berencana untuk langsung ke monas akhirnya kita menuju Megaria untuk mengisi perut dengan bernostalgia dengan ayam bakarnya. wah jadi inget waktu kuliah dulu.

setelahhujan reda, perut sudah terisi dan menunaikan shalat dhuhur,  kami melanjutkan perjalanan ke Monas.
Tidak banyak berubah dari monas terutama interior /bagian dalam nya, diorama masih seperti dulu, kecuali taman diluar monas yang kini sangat terawat dan asri, hanya saja banyaknya pedagang asongan cukup mengganggu. Aku senang sekali bisa mengajak anak-anakku melihat-lihat diorama sambil sedikit banyak kuceritakan secara singkat cerita dalam diorama itu. syamil dan ninis tampak sangat antusias dan menyimak ceritaku dia juga tampak penasaran dan banyak bertanya.

Ketika kami ingin menuju puncak monas, waduh...ngantri boo. karena kebetulan hari ini week end, jadi sedang banyak2nya pengunjung. daripada harus ngantri berjam-jam akhirnya kita memilih beristirahat di pelataran monas, kemudian berkeliling dengan menyewa speda tandem. Dengan membayar Rp.15 ribu untuk 30 menit berkeliling monas, lumayanlah kebetulan cuaca sore ini cerah meski sebelumnya hujan deras. asyik anak-anak enjoy banget.

Setelah puas berkeliling monas saatnya kita menunaikan shalat ashar. karena monas letaknya bersebelahan dengan masjid Istiqlal maka kita shalat disana.  Agak gondok dan kesel juga sih karena sempat nyasar nyari kamar kecil di masjid seluas Istiqlal yang konon terbesar di asia tenggara, udah gitu semua pintu wc terkunci lagi, akhirnya aku nekad aja pipis di pancuran disamping kamar kecil. mumpung sepi.hehehe
eh karena aku ga bawa mukena bingung deh cari2 mukena pinjaman yang biasanya disediakan gratis di masjid. Eh ada ibu2 yang aku kira berbaik hati mau meminjamkan mukenanya, taunya minta imbalan meski katanya seikhlasnya. ditempat penitipan sepatu/sendal juga gitu... seikhlasnya. ga papalah berbagi rezeki.

Setelah selesai shalat kita berencana mencoba es krim Ragusa yang kesohor itu, letaknya di belakang masjid. Tapi penuh banget, jadi batal deh,  malah jadi beli makanan nggak jelas dan mahal pula..uhh
Hari mulai sore, badan mulai capek...akhirnya kita back to Tangerang.  anak-anak  senang banget udah dapat pengalaman menyenangkan hari ini.


Berpose di depan gedung Bank Indonesia

Didepan Monas     
 
Melihat-lihat diorama sambil bercerita

menuju puncak monas, meski akhirnya gagal karena antrean yang membludak
Salah satu diorama yang menggambarkan tentang derita para romusha pada saat penjajahan jepang

Saat teks proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta

Keliling monas dengan sepeda tandem, asyik banget
kring kring goes goes...

Berpose didepan masjid Istiqlal 


Syamil nebeng di depan bareng supir bajaj
Ninis menikmati pengalaman naik bajaj dekat supir

Sabtu, 09 April 2011

Perayaan maulid nabi Muhammad SAW

Ninis memakai baju setelan pink, syamil berpeci kuning sedang bersenandung shalawat
                                           

mengucapkan salam sebelum dan sesudah shalawat
                                             

Selesai tampil, Ninis tertawa senang, doi memang seneng tampil
                                     

Selain homeschooling, kesibukan anak-anakku sehari-hari adalah kursus bahasa Inggris dan mengaji. Tentu semua orangtua menginginkan anak-anaknya belajar, tidak saja ilmu dunia namun juga ilmu akhirat. Harapan orangtua manapun pasti  ingin buah hatinya pandai dan shaleh/shaleha. Sebagai umat muslim tentu bisa membaca alqur'an adalah keharusan, disamping pengetahuan agama yang dapat menjadi pedoman hidup bagi kita.

Sebelum homeschooling, anak-anak biasa mengaji dirumah dengan memanggil guru ngaji. Karena saat itu aku pikir anak-anak tentu sangat lelah karena beraktifitas sekolah dan kursus hingga pelajaran mengaji akhirnya dilakukan dengan memanggil guru ke rumah. Setelah menjalani homeschooling, anak-anak belajar siang atau malam hari, hingga sore hari digunakan untuk kursus dan mengaji di Masjid yang dijadikan TPA (Taman Pendidikan AlQuran) dekat rumah. Kursus bahasa inggris dan mengaji merupakan belajar wajib bagi anak-anakku karena disaat itulah waktu bagi anak-anakku bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. jadi meski tidak sekolah, anak-anakku tidak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan sebayanya.

Saat perayaan Maulid Nabi tempo hari, anak-anak TPA,  termasuk Syamil dan Nisrina didaulat untuk maju ke depan melatunkan senandung shalawat dan asmaul husna, juga pembacaan ayat-ayat Al Quran. Anak-anak senang dan gembira, apalagi setelah turun panggung mereka mendapatkan bingkisan makanan ringan yang dinikmati bersama-sama.

Selasa, 05 April 2011

Ijasah dan sertifikat penting ? yang penting keahlian dong!!! (Curhat colongan)

Memiliki Ijazah apalagi kesarjanaan adalah sebuah kebanggaan bagiku terutama buat orangtuaku, gimana ngga keren, aku memiliki dua lembar ijazah, sarjana psikologi dan ijazah profesi psikolog. Selama 6 tahun lebih aku berjibaku dengan keringat dan air mata untuk meraih gelar kesarjanaan tersebut. Baru sekarang aku sadari sesadar-sadarnya bahwa psikologi bukanlah bidang yang benar-benar kuminati. Meski demikian nilaiku cukup baik dan masa kuliah kulewati dengan lancar. Yah aku hanya sekedar tertarik tapi tidak punya passion yang membuatku mencintai  profesiku ini.

Aku ingat saat itu aku ingin sekali masuk fakultas sastra Inggris, atau paling tidak akademi bahasa asing, karena aku suka menulis dan membaca cerpen atau novel. Namun ortu tercinta dengan setengah memohon agar aku memilih jalur kesarjanaan dan akhirnya pilihanku adalah psikologi, itupun aku pilih karena tidak banyak berhubungan dengan pelajaran yang berkaitan dengan angka-angka yang aku benci..
Aku juga sangat menyukai bidang tata rias rambut dan make up, bahkan sejak SD aku sering main dandan2an dengan teman2 dan aku yang senang hati mendandani teman2. Saat SMP bahkan aku sudah bisa memotong rambut secara otodidak. Pokoknya senang banget deh dan rasanya puas banget melihat hasil karyaku yang kata orang cukup bagus padahal aku tidak pernah kursus lho.

Aku lulus kuliah profesi psikolog dengan IPK yang cukup baik 3.30, namun Ijasah sarjanaku "hanya terpakai" untuk bekerja selama 1,5 tahun saja, karena  aku memilih resign dari pekerjaanku dan memilih mengurus anak pertamaku yang baru aku lahirkan. Entah ilham dari mana, tiba2 terlintas begitu saja keinginan untuk berwira usaha aja ah.., untunglah  Allah memberikan jalan bagiku untuk mewujudkan keinginanku yang terpendam selama ini yaitu menggeluti bidang tata rias wajah dan rambut. Akhirnya menjelang setahun usia anak pertamaku, aku mulai membuka usaha salon kecantikan. Dengan modal minimalis dan kenekatan, karena aku hanya kursus kecantikan 2 bulan saja ditambah seminar dan workshop singkat, aku merasa percaya diri untuk menjadi pengusaha salon rumahan.

Kini sudah hampir 8 tahun usaha salon ku memang berjalan lancar, meski tidak ada kenaikan omset yang signifikan, dikarenakan saat ini prioritasku adalah keluarga, maka usaha salonku cenderung jalan ditempat, namun aku sangat menikmati profesiku. Dengan penghasilan 2-3 juta perbulan lumayanlah buatku, tanpa harus bekerja keluar rumah, berpanas-panas di jalan, pergi pagi pulang malam, mengeluarkan ongkos transport dan makan siang, aku bisa mendampingi anak-anakku 24 jam, dan selalu ada disaat mereka membutuhkanku.

Lalu gimana nasib ijazah sarjanaku dan Sertifikat Izin Praktek Psikolog ku ? hmmm tersimpan manis di lemariku, yaaah....nggak rugi juga sih aku kuliah, karena justru aku mendapatkan jodohku di kampus, dan paling tidak setahun sekali aku kebanjiran job untuk mengadakan psikotes bagi anak2 TK. Meski pekerjaan itu tidak terlalu aku sukai, tapi lumayanlah...asal ga sering2, beteeee abis....mending nyalon ah... hehe..

Makanya aku  akan membebaskan pilihan bagi anak-anaku kelak terhadap  profesi pilihannya yang sungguh-sungguh diminatinya. Aku berkaca pada diriku, lihat nih....justru sertifikat kursus2 singkat kecantikan yang kini selama 8 tahun menghidupiku dan membuatku merasa berarti dan bermanfaat bagi orang lain. Bukan dari  Ijasah sarjana dan profesi psikolog yang aku kejar bertahun-tahun lamanya dan menghabiskan tidak sedikit biaya. menyesal...? tidak juga sih, bagiku semua ilmu bermanfaat kok, namun aku ingin anak-anakku tidak mengalaminya. aku ingin anak2ku hanya mengejar ilmu yang benar-benar disukai dan menyokong kariernya kelak, be efective, be focus, be a specialist, than you'll be a winner, in every way you want to be .....jadi ijazah apa sertifikat? bagiku itu pilihan, sekedar ijazah tanpa keahlian nol besar, sertifikat tanpa keahlian juga sia-sia, kemauan belajar dan fokus pada bidang yang kita minati sangatlah cukup, semuanya hanya selembar kertas thok!,

Selasa, 22 Maret 2011

ujian kenaikan sabuk

baris dulu sesuai kelompok warna sabuknya 

 
mendengarkan pengarahan master sabeum sebelum ujian dimulai 



Siap!....ujian dimulai 

Tanggal 20 Maret kemarin, Pertamakalinya Syamil menghadapi ujian kenaikan tingkat pergantian sabuk dari sabuk putih ke sabuk kuning.  Dengan diantar Abi  ke tempat ujian yaitu di kawasan bandara Soetta. Syamil dengan semangat menghadapi ujian pertamannya. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar..Nak jangan pernsh mengendur semangatmu yahh terus maju dan berlatih sampai sabuk hitam seperti yang kamu cita-citakan...jadi anak yang pemberani dan tangguh!!! selalu jadi jagoan ummi yang tersayang...

Kamis, 03 Maret 2011

field trip ke kebun binatang ragunan

burung pelikan, ternyata besar juga yah... 

 our happy family

waaa...kera mukanya luicu banget kayak siapa ya? 

naik delman, keliling ragunan asyiiik... 

ihhh abi kayaknya yang ketakutan tuh...anaknya sih santai aja hehe.. 

habis keliling, main mobiol-mobilan deh.. 
lihat rusa, Ninis maunya kasih makan daun..jangan ntar rusanya mencret lho.. 

hiiiy ular albino lagi makan tikus,syamil tapi ga takut tuh!