Senin, 27 Desember 2010

Mengapa Syamil harus homeschooling?

 Awalnya saya terkejut waktu Syamil putra sulung kami mengatakan tidak ingin sekolah lagi ketika ia masih duduk di kelas I SD. Alasannya pelajarannya sulit dan membosankan, belum lagi katanya teman-teman sekolahnya sering mengganggunya. Sungguh saat itu saya sangat murka sekaligus bingung, kok bisa, baru kelas satu SD sudah bosan sekolah. Akhirnya Syamil tetap sekolah karena saya rasa tidak ada cara lain untuk pintar dan berhasil selain disekolah.

Nilainya-nilainya tentu pas-pasan dan sangat sulit disuruh belajar dirumah. Tampaknya saya juga harus banyak mengulang pelajaran sekolahnya dirumah, karena seringkali Syamil tidak mengerti bila saya bertanya padanya mengenai pelajaran apa yang dipelajarinya hari ini. Ditanya PR pun rasanya ia tidak terlalu perduli dan cuek, hingga saya harus selalu bertanya kepada teman sekelasnya. Bila saya perhatikan buku catatannya tidak banyak yang ia catat. Belum lagi buku ulangan yang sering dibawanya kerumah karena tidak selesai. Walah...walahhhh

Sejak TK Syamil memang cenderung lambat dalam mengerjakan sesuatu, baik menulis maupun membaca. Saya merasa bersalah karena memang terlalu memaksakan Syamil untuk segera bisa baca-tulis, hingga menggunakan cara-cara agak keras dalam mengajarinya. Hasilnya Syamil justru stress dan malah mogok tidak mau belajar.

Waktu duduk di kelas I SD Syamil juga tidak suka menulis bila harus menyalin dari papan tulis. Ia lebih asyik bermain dengan mainan yang diam-diam dibawanya dari rumah, atau ngobrol dengan teman sebangkunya. Namun demikian Syamil tetap naik kelas karena menurut gurunya Syamil mampu mengikuti pelajaran meski tanggung jawab terhadap tugasnya masih sangat kurang.

Dikelas II SD nilainya mulai membaik, bahkan cukup baik karena wali kelasnya sangat corncern dan bisa mengerti kondisi syamil yang butuh perhatian lebih di kelas. Sang wali kelas ini sangat terbuka dan enak diajak berkomunikasi. Sang wali kelas juga bersedia memberikan les tambahan sepulang sekolah, Syamil juga terlihat semangat untuk sekolah, katanya "bu gurunya baik, enak ngajarnya", terbukti nilai Syamil juga meningkat hingga tidak ada satupun nilai 6 diraportnya.

Ketika naik kelas III motivasi belajar dan sekolahnya kembali mulai turun drastis, nilai-nilai ulangannya kembali  berantakan, dan sering terlibat perkelahian disekolah. Syamil mulai sering kena hukum gurunya, bahkan pernah suatu kali Syamil belum pulang sekolah padahal sudah jam 13.30 siang, ketika saya jemput kesekolahnya ternyata ia sedang dihukum, tidak boleh pulang hingga pukul 15.00 oleh guru keterampilannya  karena tidak membawa buku gambar, saya trenyuh namun tidak berani protes karena memang anak saya salah, tapi apa harus seberat itu?. Saya sampai harus membawakan makan siangnya dan menemaninya melewati hukuman tersebut. Tapi untunglah ada seorang guru yang melihat hal ini dan menyuruh kami untuk pulang saja dan mengabaikan hukuman sang guru keterampilan. Padahal sang guru keterampilan sendiri sudah pulang dan seakan lupa kalo ia sedang menghukum anak muridnya.

Hukuman demi hukuman sering diterima syamil dari dijewer, disetrap dan dilabeli sebagai anak nakal dan pemalas. Belum lagi beberapa orangtua murid sering mengadukan anaknya yang "dikerjai" Syamil  dari mulai ditonjok, dibikin benjol, atau sekedar dorong-dorongan. Saya jadi sering deg-degan setiap hari bila menjemputnya dari sekolah, takut menerima pengaduan tentang "kenakalan" Syamil.

Saya jadi lelah dan  bingung harus gimana lagi, beruntung saya terpikir akan Homeschooling dan mulai mencari informasi mengenai HS. Awalnya saya tidak terpikir sama sekali karena merasa tidak mampu dan tidak berani melakukannya, ditambah banyak mitos-mitos seputar HS yang negatif mengenai HS misalnya tentang Sosialisasi, kedisiplinan, kemandirian hingga legalitas yang ga jelas. Tentu saya tidak mau anak saya ga punya masa depan kan?. Namun saya tidak menyangka ternyata HS tidak seperti yang saya pikirkan, apalagi untuk anak yang unik seperti Syamil, rasanya hanya sayalah yang paling mengerti tentang dirinya. Saya mulai mempelajari sifat-sifat uniknya dan mencari cara belajar yang efektif untuknya.

Ah... anakku ternyata tidak nakal apalagi bodoh dan malas, ia hanya butuh perhatian dan kesabaran seorang guru yang mau mengerti dan setulus hati mencintainya. Guru yang paling bangga bila dirinya jadi orang sukses, guru yang tidak akan lelah dan menyerah untuk memberikan yang terbaik, Siapalagi guru itu kalau bukan ibunya? karena mana ada guru sekolah yang mau bertanggung jawab atas kegagalan anak muridnya.

Syamil ternyata tidak bisa diseragamkan cara belajarnya, Saya juga sempat curiga bila Syamil menderita ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder). Tapi Whatsoever... saya tidak takut akan hal itu banyak penderita ADHD yang bisa survive dan sukses dengan kekurangannya tersebut.  Intinya saya ingin Anakku bahagia dengan menikmati proses belajar dan melewati masa kecilnya dengan indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar