Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2010, banyak hal yang terjadi, baik pada diri saya pribadi, keluarga kecil saya, keluarga besar saya dan bangsa Indonesia yang saya cintai ini. Rasanya tidak perlu saya ungkap kaleidoskop 2010 kemarin, banyak yang mungkin sudah terlupakan atau bahkan yang sengaja ingin saya lupakan. Namun banyak juga yang ingin saya kenang dan saya lanjutkan sebagai kontinuitas kegiatan yang harusnya akan lebih baik lagi ditahun-tahun mendatang.
Salah satu hal terpenting yang terjadi di penghujung tahun ini adalah keputusan saya "mengambil" anak-anak saya dari sekolah, dan memaksimalkan peran saya sebagai orangtua yang mendidik dan membimbing mereka. Keberanian mendidik sendiri anak-anak, bukanlah hal yang terjadi begitu saja, saya perlu waktu berbulan-bulan untuk menumbuhkannya.
Berdiskusi dengan suami, mencari informasi melalui internet, berkomunikasi dengan praktisi yang lebih dulu terjun ke dunia homeschooling, bagi saya sudah cukup membekali saya. Agama saya sendiri bahkan menganjurkan bagi seorang ibu untuk menjadi madrasah (sekolah) bagi anak-anaknya. Karena itulah tugas sekaligus kewajiban seorang ibu yang paling mulia.
Harapan kami terhadap masa depan anak-anak kami tidak ingin terlalu muluk, kami hanya ingin agar kelak mereka menjadi orang yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Karena itu kami bertekad untuk membekali mereka dengan berbagai ilmu yang juga bermanfaat bagi kehidupan mereka, tidak hanya pelajaran-pelajaran sekolah, tapi yang terpenting adalah life skill dan kompetensi pada satu bidang pekerjaan yang haruslah mereka minati, agar mereka bisa menikmati dan mencintai profesi mereka karena memiliki "passion" didalamnya.
Mereka masih kecil untuk mengerti "passion" dalam pekerjaan? bagi kami tidak!, semenjak dini mereka kami akan perkenalkan pada berbagai jenis profesi dan kami harus peka terhadap bakat dan minat mereka. anak-anak memang cenderung akan berganti jawaban jika ditanyakan tentang cita-citanya, hari ini jadi dokter, besok jadi polisi, besok lagi jadi guru, itulah anak-anak. Namun pengenalan sejak dini terhadap beragam profesi justru akan membantu mereka mengenali bakat dan minatnya sendiri.
Tugas orangtua adalah memfasilitasi keingintahuan tanpa berusaha mengarahkan keinginan kita, karena merekalah kelak yang akan menjalani profesi tersebut sebagai jalan hidupnya. Learning to work, working to make a living, working with all of passion will do the best result.
Resolusi kami ditahun depan adalah semoga perjalanan Homeschooling kami yang kami canangkan di akhir tahun ini akan berjalan lancar dan diberi kemudahan oleh Allah SWT meski kami yakin pastilah kami akan menapaki jalan yang mungkin terjal berliku ditahun depan, but we'll take that chance.Insya Allah...
Happy homeschooling at new year!!!!
Annisya adalah kependekan dari Anakku Ninis & Syamil, kami membuat blog ini sebagai catatan atau jurnal kegiatan keluarga kecil kami terutama kegiatan belajar kedua buah hati kami sejak kecil sebagai homeschooler hingga beranjak dewasa...bukan hanya anak2 kami tapi kami juga kami sekeluarga masih.senantiasa belajar menyikapi hidup yang fana dan berbekal untuk hidup yang lebih kekal..
Jumat, 31 Desember 2010
Happy (Homeschooling) New Year 2011
Kamis, 30 Desember 2010
Anak bukanlah kertas kosong
Saya menyalin tulisan ini dari blognya praktisi Homeschooling keluarga Sumardiono di Rumahinspirasi.com. Isinya bagus, sekaligus mengubah mind set saya selama ini tentang pendidikan anak.Tabula rasa berasal dari bahasa Latin, artinya kertas kosong. Tabula rasa merujuk pada teori yang menyatakan bahwa anak-anak terlahir tanpa isi, dengan kata lain kosong. Teori ini dipengaruhi oleh pemikiran John Locke, dari abad 17.
Dari potongan singkat posting mbak Lea, yang adalah seorang guru, aku jadi tahu bahwa teori tabula rasa ini menjadi salah satu asumsi dasar dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah kita pada saat ini. Dengan asumsi bahwa anak adalah sebuah kertas kosong, maka tugas guru dan proses pendidikan adalah mengisi kertas kosong itu dengan informasi-informasi (pelajaran) yang penting bagi anak-anak.
**
Dalam pandangan pribadiku, teori yang memandang anak-anak sebagai sebuah kertas kosong adalah sangat reduktif. Hal ini mengakibatkan sentral proses belajar (pendidikan) terletak pada orang dewasa dan anak-anak dikondisikan pasif (karena mereka hanya sebuah kertas kosong yang harus diisi).
Pengetahuan tentang teori tabula rasa ini bagiku menjelaskan fenomena anak-anak sekolah yang pasif dan kegiatan utama guru yang fokusnya mengajar (mengisi kertas kosong). Keterlibatan anak tak dianggap terlalu penting, apalagi pendapat dan inisiatif anak. Kalaupun ada, semua itu hanya bersifat suplemen untuk kegiatan utama tadi, yaitu mengisi pada anak-anak.
Lebih repot lagi, pandangan tentang “kertas kosong” itu terbawa terus dalam pendidikan, walaupun siswa sudah setingkat SMA. Proses belajar tingkat SMA sama saja dengan tingkat SD, seperti menulisi kertas kosong dan anak-anak memperlakukan dirinya seperti kertas kosong (alias pasif). Itulah model belajar yang diketahui dan diyakini kebenarannya, baik oleh guru maupun siswa.
Terus, proses belajar dengan cara “menulisi kertas kosong” itu berlanjut hingga tingkat perguruan tinggi. Dosen mencari cara gampang yaitu hanya mengajar (knowledge transfer). Dosen malas untuk berdiskusi, mahasiswa juga tak mau repot melakukan riset dan belajar sebelum masuk kelas.
Lalu, sampai kapan “kertas kosong” itu berisi?
**
Bagiku, anak-anak adalah individu dengan segala sifatnya. Memang ada bagian individu pada anak-anak yang belum berkembang seperti orang dewasa. Tetapi, individu itu bukan kertas kosong yang pasif menerima apapun pengaruh dari lingkungannya.
Ketika kita memandang anak sebagai individu, itu akan membuat proses pendidikan yang kita lakukan berbeda dibandingkan jika kita memandang anak sebagai kertas kosong. Dengan memandang anak sebagai individu, kita lebih melibatkan anak dalam proses pendidikan untuk dirinya sendiri; kita mendengarkan dan memperhatikan pendapat mereka serta menjadikannya sebuah hal yang penting dalam proses pendidikan anak.
Karena sudut pandang itu, aku merasa lebih setuju dengan pandangan Robert T. Kiyosaki (yang kelihatannya berakar dari pemikiran Plato) yang menyatakan bahwa esensi pendidikan itu adalah mengeluarkan (potensi), bukan mengisi anak dengan potongan-potongan informasi.
Menurutku, pandangan itu lebih tepat. Dan pandangan seperti itulah yang menjadi salah satu spirit di dalam homeschooling kami.
Rabu, 29 Desember 2010
Surat terbuka Untuk Kapten Timnas
Saya menemukan sebuah surat terbuka terhadap timnas sepakbola yang bagus sekali untuk menjadi refleksi kita. Surat ini ditulis oleh ES Ito, seorang novelis penulis buku “Rahasia Meede”, dalam blognya: http://itonesia.com/. Semalam saya membaca surat terbuka ini dan berkaca-kaca saat membacanya, awalnya saya tidak berani menonton pertandingan final leg kedua setelah sebelumnya menelan kekecewaan mendalam pada pertandingan leg pertama di Malaysia.
Terimakasih E.S Ito, tulisanmu menggugah saya untuk melihat kegagalan Timnas kemarin dengan cara yang berbeda. Akhirnya saya berani menyaksikan pertandingan finalnya meski hanya melalui televisi, dan ikut bersorak gembira saat Timnas kita berhasil menggetarkan gawang Timnas Malaysia dengan 2-1. Bagi saya malam ini adalah "The Real Final" bagi Indonesia. Timnas is "The Real Champion" .
Surat untuk Firman Utina
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia.
Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka.
Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita.
Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita.
Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka.
Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal.
Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri.
Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan.
Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan,
kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat.
Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya.
Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita.
Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi,
karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka.
Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua,
bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian.
Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip.
Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya.
Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera.
Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu.
Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket.
Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola.
Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat.
Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas.
Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran.
Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada.
Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita.
Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik.
Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah.
Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar.
Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia,
bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi.
Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu,
sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan.
Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa,
sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan.
Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri.
Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa,
kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang.
Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa.
Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan.
Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan.
Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa.
Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola.
Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu.
Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara.
Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya.
Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan.
Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas.
Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan.
Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!
Terimakasih E.S Ito, tulisanmu menggugah saya untuk melihat kegagalan Timnas kemarin dengan cara yang berbeda. Akhirnya saya berani menyaksikan pertandingan finalnya meski hanya melalui televisi, dan ikut bersorak gembira saat Timnas kita berhasil menggetarkan gawang Timnas Malaysia dengan 2-1. Bagi saya malam ini adalah "The Real Final" bagi Indonesia. Timnas is "The Real Champion" .
Surat untuk Firman Utina
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia.
Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka.
Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita.
Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita.
Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka.
Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal.
Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri.
Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan.
Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan,
kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat.
Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya.
Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita.
Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi,
karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka.
Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua,
bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian.
Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip.
Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya.
Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera.
Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu.
Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket.
Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola.
Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat.
Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas.
Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran.
Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada.
Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita.
Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik.
Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah.
Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar.
Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia,
bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi.
Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu,
sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan.
Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa,
sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan.
Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri.
Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa,
kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang.
Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa.
Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan.
Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan.
Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa.
Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola.
Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu.
Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara.
Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya.
Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan.
Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas.
Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan.
Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!
Belajar dari Timnas Garuda
Setelah semalam Timnas sepakbola kita berhasil "mengalahkan" Malaysia 2-1, rasanya legaaa banget meski kemenangan kita sangat Ironis karena kita tidak bisa menjadi kampiun di ajang AFF kali ini, meski hanya kalah sekali saja dari enam pertandingan. Namun saya sangat bersyukur dan berterimakasih pada Timnas yang tetap bersemangat berjuang dan memberikan permainan yang menghibur sekaligus mendebarkan bagi Indonesia.
Melihat fenomena euphoria masyarakat kita pada sepakbola saat Timnas masih tak terkalahkan, memang terkesan berlebihan dan justru membebani Timnas dengan sejuta pengharapan "harus menang". Segala "ritual" tidak penting yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh Timnas sebelum berangkat ke Malaysia seakan membuat stress tersendiri bagi Timnas dan dibuktikan dengan kekalahan 3-0 di Stadion Bukit Jalil.
Dari Timnas kita belajar bahwa pengharapan yang cenderung jadi tuntutan yang berlebihan dan banyaknya campur tangan pihak-pihak yang sesungguhnya hanya bermuatan politis, hanya membuyarkan konsentrasi bermain dan mematikan kreatifitas timnas. Untunglah Timnas kita lekas bangkit dan kembali menunjukan semangat juangnya semalam. Meskipun kita tidak bisa mengangkat piala, bangsa Indonesia akan terus cinta Timnas.
Kita bisa belajar dari Timnas bila dikaitkan dengan proses belajar anak kita. Harapan dan tuntutan orang tua yang berlebihan terhadap anak kita, tentu akan membebani jiwanya hingga bisa mematikan kreativitasnya, menghilangkan kegembiraannya dalam melewati proses belajarnya. Bisa dibayangkan bila hal itu terjadi, mungkin anak kita tetap bisa mendapat nilai akademis yang memuaskan, karena tuntutan sekolah hanyalah sekedar nilai-nilai tes, yang kebanyakan terdiri hafalan-hafalan tanpa makna, yang buat sebagian anak sekolahan, "belajar" diakukan bila menjelang ulangan atau tes semesteran dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam).
Kerja keras Timnas di lima pertandingan yang dimenangkan sangatlah harus diapresiasi, janganlah hanya dengan satu kekalahan yang membuat piala AFF diraih Jiran kita, membuat semua proses pertandingan dan keringat yang ditumpahkan Timnas jadi tidak berarti. Sama halnya dengan proses belajar anak kita, usahanya, kerja kerasnya jangan sekedar dinilai dari deretan angka-angka raportnya. Karena tidak sedikit anak sekolahan yang nilai raportnya bagus tapi kreativitasnya nol, atau bahkan hanya bisa menghafal pelajaran tapi tidak paham hingga mudah lupa tentang apa yang sudah dipelajarinya.
Karenanya biarlah anak kita belajar tanpa beban, tanpa paksaan dan tuntutan yang berlebihan meski sebagai orangtua kita tetaplah harus membimbing dan menuntun mereka untuk tidak hanya sekedar "melewati" proses belajarnya, tapi juga anak bisa "menikmati" nya dengan gembira.
Sekali lagi "bravo Timnas", bermain bola lah dengan gembira, nikmati setiap pertandingan karena ini hanyalah permainan. Menang ataupun kalah sebagian juga karena keberuntungan, tetaplah semangat........
~saya bukan komentator bola dan bukan penulis, cuma pencinta timnas dan anak-anakku~
Timnas Garuda
Melihat fenomena euphoria masyarakat kita pada sepakbola saat Timnas masih tak terkalahkan, memang terkesan berlebihan dan justru membebani Timnas dengan sejuta pengharapan "harus menang". Segala "ritual" tidak penting yang seharusnya tidak perlu dilakukan oleh Timnas sebelum berangkat ke Malaysia seakan membuat stress tersendiri bagi Timnas dan dibuktikan dengan kekalahan 3-0 di Stadion Bukit Jalil.
Dari Timnas kita belajar bahwa pengharapan yang cenderung jadi tuntutan yang berlebihan dan banyaknya campur tangan pihak-pihak yang sesungguhnya hanya bermuatan politis, hanya membuyarkan konsentrasi bermain dan mematikan kreatifitas timnas. Untunglah Timnas kita lekas bangkit dan kembali menunjukan semangat juangnya semalam. Meskipun kita tidak bisa mengangkat piala, bangsa Indonesia akan terus cinta Timnas.
Kita bisa belajar dari Timnas bila dikaitkan dengan proses belajar anak kita. Harapan dan tuntutan orang tua yang berlebihan terhadap anak kita, tentu akan membebani jiwanya hingga bisa mematikan kreativitasnya, menghilangkan kegembiraannya dalam melewati proses belajarnya. Bisa dibayangkan bila hal itu terjadi, mungkin anak kita tetap bisa mendapat nilai akademis yang memuaskan, karena tuntutan sekolah hanyalah sekedar nilai-nilai tes, yang kebanyakan terdiri hafalan-hafalan tanpa makna, yang buat sebagian anak sekolahan, "belajar" diakukan bila menjelang ulangan atau tes semesteran dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam).
Kerja keras Timnas di lima pertandingan yang dimenangkan sangatlah harus diapresiasi, janganlah hanya dengan satu kekalahan yang membuat piala AFF diraih Jiran kita, membuat semua proses pertandingan dan keringat yang ditumpahkan Timnas jadi tidak berarti. Sama halnya dengan proses belajar anak kita, usahanya, kerja kerasnya jangan sekedar dinilai dari deretan angka-angka raportnya. Karena tidak sedikit anak sekolahan yang nilai raportnya bagus tapi kreativitasnya nol, atau bahkan hanya bisa menghafal pelajaran tapi tidak paham hingga mudah lupa tentang apa yang sudah dipelajarinya.
Karenanya biarlah anak kita belajar tanpa beban, tanpa paksaan dan tuntutan yang berlebihan meski sebagai orangtua kita tetaplah harus membimbing dan menuntun mereka untuk tidak hanya sekedar "melewati" proses belajarnya, tapi juga anak bisa "menikmati" nya dengan gembira.
Sekali lagi "bravo Timnas", bermain bola lah dengan gembira, nikmati setiap pertandingan karena ini hanyalah permainan. Menang ataupun kalah sebagian juga karena keberuntungan, tetaplah semangat........
~saya bukan komentator bola dan bukan penulis, cuma pencinta timnas dan anak-anakku~
Timnas Garuda
Hari pertama homeschooling
belajar apa saja yang disukai, belajar kapan saja yang diinginkan, belajar pada siapa saja yang mencerahkan"
~homeschoolers quote~
Bangun pas jam 12 siang setelah shalat dhuhur berjamaah n makan siang baru diterusin lagi belajarnya. Anak-anak semangat banget dan minta dikasih soal latihan. Memang sih ternyata belajar ala HS bisa sangat fleksibel dan disesuaikan dengan situasi, kalau emang ngantuk dan nggak mood ya mending di stop dulu deh .
Belajar kalau terpaksa percuma aja, nggak ada yang nemplok di otak. bisa dibayangin kalau disekolah ngantuk dan lagi bete, pasti pulang sekolah ga dapat apa-apa kecuali capek dan cuma buang energi. beginilah enaknya HS kita lebih merdeka memilih kapan kita ingin belajar dan apa yang mau kita pelajari.
Saya sengaja membuat jadwal pelajaran bebas minimal 2 mata pelajaran sehari yang bisa dipilih anak-anak. waktu belajar 4 jam sehari yang waktunya diatur pagi sore dan malam hari. Antara lain teori, praktek, diskusi dan latihan. pokoknya bebas tapi karena saya pakai kurikulum diknas jadi buku-buku menyesuaikan dengan KTSP 2006 yang saya beli di gramedia. Tapi saya tidak terlalu harus meyesuaikan dengan target kurikulum, tentu menyesuaikan dengan kecepatan belajar Syamil dan Ninis. Jadi bisa lebih lambat atau bahkan lebih cepat. Saya mempergunakan metode campuran antara school at home dan unschooling supaya tidak terlalu ketat dan menyenangkan bagi anak.
Hari ini Syamil belajar IPA dan Matematika sedangkan Ninis belajar Tematik. Untuk pelajaran IPA sepertinya saya harus mempraktekan tugas Sains mengenai pertumbuhan makluk hidup, jadi prakteknya besok setelah peralatan yang dibutuhkan tersedia. Semoga hari-hari selanjutnya bisa lebih teratur dan terprogram dengan baik.
Syamil dan Ninis sedang ngerjain tugas latihan mata pelajaran yang dipilihnya sendiri
Membuat pigura dari kertas kardus dan korek api
Hari ini Syamil dan Ninis membuat prakarya berupa pigura dari kertas kardus dan korek api. Idenya muncul ketika saya ingat masa SD dulu pernah membuatnya juga. Sebelum HS saya dan anak-anak sudah sering 'bikin-bikin' apa aja dari perhiasan dari manik-manik, origami, tempat pensil dari stik eskrim, kain flanel dsb. Biasanya ide-ide kreatif muncul karena inspirasi dari majalah, internet atau waktu liat-liat barang di pasar atau mall dan saya berpikir kalau saya juga bisa bikin barang itu sendiri.
Setelah Ninis belajar IPA dan Syamil belajar Matematika, untuk membuatnya kembali bersemangat maka saya mengajaknya membuat pigura dari kardus dan korek api. caranya mudah banget, bahannya cuma kertas kardus bekas, korek api, lem fox, cutter dan kertas warna (disini saya pakai kertas origami).
Mula-mula kardus dipotong sesuai ukuran foto yang akan digunakan, diberi space kira-kira lebarnya 5 cm untuk ruang menyusun korek apinya.bagian yang akan ditempel foto diberi garis batas supaya bisa mengatur penyusunan korek apinya. Bentuk penyusunan bervariasi tergantung kreativitas masing-masing. karena masih anak-anak maka pembuatannya disederhanakan supaya mudah diikuti.
Pembuatan prakarya ini juga selain melatih kreativitas juga melatih kemampuan berhitung anak, karena anak disuruh menyusun korek api sesuai pola dan urutan jumlah korek api yang diinginkan, misalnya 5-5 atau 3-3 dengan pola yang dibolak-balik. Penambahan kertas warna-warni sendiri adalah idenya Ninis, katanya supaya seru dan cantik.Setelah selesai hasilnya kemudian ditempel di pintu lockernya masing-masing.
Setelah Ninis belajar IPA dan Syamil belajar Matematika, untuk membuatnya kembali bersemangat maka saya mengajaknya membuat pigura dari kardus dan korek api. caranya mudah banget, bahannya cuma kertas kardus bekas, korek api, lem fox, cutter dan kertas warna (disini saya pakai kertas origami).
Mula-mula kardus dipotong sesuai ukuran foto yang akan digunakan, diberi space kira-kira lebarnya 5 cm untuk ruang menyusun korek apinya.bagian yang akan ditempel foto diberi garis batas supaya bisa mengatur penyusunan korek apinya. Bentuk penyusunan bervariasi tergantung kreativitas masing-masing. karena masih anak-anak maka pembuatannya disederhanakan supaya mudah diikuti.
Pembuatan prakarya ini juga selain melatih kreativitas juga melatih kemampuan berhitung anak, karena anak disuruh menyusun korek api sesuai pola dan urutan jumlah korek api yang diinginkan, misalnya 5-5 atau 3-3 dengan pola yang dibolak-balik. Penambahan kertas warna-warni sendiri adalah idenya Ninis, katanya supaya seru dan cantik.Setelah selesai hasilnya kemudian ditempel di pintu lockernya masing-masing.
Selasa, 28 Desember 2010
Syamil belajar Taek Won Do
Syamil, putra kami yang satu ini anaknya lincah dan suka main 'berantem-beranteman' dengan abinya dan jahil dengan adiknya Ninis. Kami pikir untuk menyalurkan hobinya yang suka 'berantem' agar tersalurkan kepada hal yang lebih positif adalah mengajarinya bela diri. Selain itu juga sekalian juga memberikan terapi agar daya konsentrasi dan kesehatannya bisa lebih baik, mengingat Syamil agak sering sakit-sakitan.
Jadi sudah dua bulan ini Syamil kami masukan ke sekolah Taek won do di dekat rumah kami. Sayangnya jadwal latihannya malam hari dari jam 19.00 s/d 21.00 malam, dua kali sepekan. Namun memang dasarnya suka, dia tetap semangat melakukannya dan tidak sekalipun mengeluh. Syamil malah ingin suatu hari nanti bisa berprestasi seperti kawan seperguruannya yang lain yang pernah menjuarai turnamen. Mudah-mudahan ya sayang....amien
Syamil sedang latihan peregangan (split) dengan sabem nya
Bersama teman seperguruan Taek Won Do "Saptohoedojo"
Jadi sudah dua bulan ini Syamil kami masukan ke sekolah Taek won do di dekat rumah kami. Sayangnya jadwal latihannya malam hari dari jam 19.00 s/d 21.00 malam, dua kali sepekan. Namun memang dasarnya suka, dia tetap semangat melakukannya dan tidak sekalipun mengeluh. Syamil malah ingin suatu hari nanti bisa berprestasi seperti kawan seperguruannya yang lain yang pernah menjuarai turnamen. Mudah-mudahan ya sayang....amien
![]() |
Syamil sedang latihan peregangan (split) dengan sabem nya
Bersama teman seperguruan Taek Won Do "Saptohoedojo"
Label:
taek won do
Berenang, wow paling suka!!!
Anak-anak paling semangat kalo diajak berenang, kadang nggak terasa sudah berjam-jam nyebur sampai kulitnya tambah item dan keriput, kalau umminya nggak ngomel belum mau udahan deh. Kami menjadwalkan kegiatan berenang sebulan sekali, maunya ntar ditambah setelah mulai ber HS jadi 2 kali sebulan. supaya anak-anak lebih punya kegiatan olahraga dan rekreasi.
Kebetulan Syamil sudah pandai berenang meski hanya 2 bulan saya kursuskan berenang. sebenarnya dia ingin juga serius di olahraga ini tapi saya tidak punya banyak waktu untuk mengantar dan menungguinya latihan, jadi belum kesampaian. Sedangkan Ninis belum bisa berenang karena belum berani untuk belajar, mungkin nanti bila sudah 7 tahun.

Syamil dan Ninis sedang berenang, udah kelihatan cape tapi nggak mau pulang juga
Kebetulan Syamil sudah pandai berenang meski hanya 2 bulan saya kursuskan berenang. sebenarnya dia ingin juga serius di olahraga ini tapi saya tidak punya banyak waktu untuk mengantar dan menungguinya latihan, jadi belum kesampaian. Sedangkan Ninis belum bisa berenang karena belum berani untuk belajar, mungkin nanti bila sudah 7 tahun.

Syamil dan Ninis sedang berenang, udah kelihatan cape tapi nggak mau pulang juga
Ninis juga ingin Homeschooling
Awalnya saya hanya merencanakan Homeschooling untuk Syamil, karena Ninis masih saya sekolahkan di TK B, namun berhubung usianya yang September kemarin sudah genap 6 tahun dan Ninis merasa sudah bisa membaca dan menulis dengan cukup baik, sedangkan pelajaran TKnya masih mengajarinya mengeja dan menebalkan huruf. tentu saja hal ini membuatnya menjadi bosan dan ingin cepat-cepat masuk SD.Saya mencobanya memberi soal-soal Calistung untuk anak SD kelas I, ternyata Ninis bisa menyelesaikannya dengan baik. Jadi saya berkeputusan untuk menyesuaikan pelajaran dengan kemampuan Ninis, dengan meng HS kannya juga. Tentu setelah menanyakan apakah ia setuju untuk sekolah dirumah, dan tidak akan bersekolah memakai seragam putih merah seperti yang dulu pernah diidam-idamkannya. Ia ternyata setuju dan senang sekali "nggak apa apa mi, aku ingin diajarin ummi aja, takut bu gurunya nanti galak kalo aku lama nulisnya". Kebetulan Ninis juga lambat dalam menulis, namun tulisannya bagus dan rapi walau masih ada satu dua huruf yang terbalik cara penulisannya.
Akhirnya, kenapa tidak....meng HS kan saja kedua anakku sekalian....
Label:
homeschooling,
ninis
Senin, 27 Desember 2010
30 Hal tentang homeschooling yang aku katakan di facebook
Tulisan ini saya temukan waktu main di blognya mbak Andini Rizki, seorang ibu tiga anak yang sarjana lulusan Jepang. Beliau simpatisan homeschooling namun tidak bisa mewujudkan mimpinya mengHS kan anak-anaknya karena berbeda pendapat dengan sang suami. Namun tulisan beliau inilah salah satunya yang membuat saya tercerahkan dan semakin yakin dengan HS.- Ada orang bilang ‘homeschooling melawan program pemerintah karena sekolah itu gratis’. Kalau misalnya pemerintah mau membagi-bagikan beras gratis, lalu aku bilang: keluarga kami tidak mau beras gratis itu karena kami lebih suka makan singkong, apakah kami jadi melawan program pemerintah? Nggak kan.
- Setelah menonton video ini, aku jadi berpikir: kayaknya anak-anak homeschooling harus bisa bikin web video atau videoblogging. Anak-anak sekolah juga. Tetapi saat sekolah masih lama lagi mempersiapkan dana, rencana, pendidikan guru, dan segala macam tetek bengeknya, keluarga homeschooling bisa langsung melakukannya.
- Selalu denger berita tawuran sekolah. Gak ada kan tawuran homeschooling.
- Oh… Anda meragukan apa bisa hidup tanpa ijazah? Kalau Anda pikir para orangtua itu cuma berteori, anak-anak mereka masih kecil… semoga Anda panjang umur untuk menyaksikan anak-anak homeschooling yang idealis tersebut sukses di masa depan.
- Selama aku homeschooling, aku merasa homeschooling itu mudah sekali. Karena aku tinggal perhatikan anakku, dia sukanya apa, ingin tau soal apa. Lalu itulah yg aku ajarkan. Karena dia berminat dan memang ingin bisa, dia jadi cepat bisa. Aku bangga. Dia juga bangga dan percaya diri karena bisa.
- Karena percaya diri dia jadi baik ke adik-adiknya, ramah, gaul ke semua orang,dan jadi sangat suka belajar hal baru. ~Testimoni Andini~
- Di seminar HS, aku terkesan waktu ada anak homeschooling binaan Bu Yayah Komariah, dari Bangka Belitung yang umur 16 thn udah kuliah di Univ. Islam Negeri Malang. Gayanya pede banget bicara di depan umum. Binar ya kalo gak salah namanya? Ternyata bisa aja kuliah di negeri pake ijazah Paket C, asal lulus ujian masuk. Lagipula kalo pinter bisa lebih cepet kuliah.
- Seorang ibu membela diri, anaknya sudah nggak sekritis dulu sejak masuk sekolah, karena setelah sekolah semua rasa ingin tahu si anak sudah terpuaskan. Ayo yang jujur, Bu, sudah terpuaskan atau sudah mati? (Segera dikoreksi oleh Bu Guru Lea, mudah-mudahan belum mati, masih bisa diselamatkan )
- Di Seminar Homeschooling, saat Bunda Neno Warisman bercerita ttg anaknya yang sedang merantau sendiri di Damaskus,
Ahmad (anak homeschooling, 8 tahun) nyeletuk,”Damaskus itu kan di Siria”. “Kamu pintar,” puji saya.
Jawab Ahmad,”Aku nggak pintar. Itu kan ada di buku.” Dan bukunya bahasa Jepang. (ngomongin anaknya Mbak Dian Rachma). - Tugasku sebagai guru adalah menghilangkan kebutuhanmu untuk seorang guru. ~Mario Teguh~
Loh itu kan semangat homeschooling? - Go get the skills you need
to get the job you crave
to live the life you’ve dreamed. ~Sam Davidson~
Ini targetku untuk diriku sendiri dan tentu saja anak-anakku. - Praktisi HS biasanya mengkritisi sekolah berdasarkan pengalaman pribadi dan dari kenyataan yang bisa dilihat dengan gamblang, sayangnya, non praktisi HS biasanya mengkritisi HS berdasarkan asumsi dan prasangka pribadi. ~Wietski Selaludihatimu~
- Kekurangan homeschooling tentang sosialisasi, anak homeschooling tidak cerdas, dan sebagainya, merupakan mitos yang tidak benar, dan kalau pun timbul masalah, orang tua punya kuasa untuk mencari solusinya. Tetapi kekurangan sekolah itu nyata, dan yang namanya sekolah memang begitu itu kondisinya. Sebagai orang tua kita cuma bisa pasrah dan menerima, atau keluar dari situ.
- Berbagai kajian menunjukkan “keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya meningkatkan nilai ujian, prestasi, dan mungkin juga perilaku baik”. Oleh karena itu, homeschooling, yang menyediakan lebih banyak keterlibatan orang tua, adalah pilihan yang TERBAIK.
Yes,to be a good parent, you have to sacrifice, but this is not a requirement of parenting, it is a requirement of being good at something. ~Robert Brault - Waktu Mbak Irmayanti Nugraha bilang,”Justru karena saya guru dan suami dosenlah, kami tidak menyekolahkan anak-anak”, para peserta Seminar Homeschooling menyambut dengan tepuk tangan meriah ;P
- Berita lawas dari Mbak Maria Magdalena. Siapa bilang homeschooling nggak bisa kuliah? Arsandi Akhmad, 21 tahun, misalnya. Mahasiswa semester keenam Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung ini sebelumnya homeschooler, begitu keluar dari kelas I di SMA 47 Jakarta. Dua tahun memilih sekolah di rumah, pada 2003 ia ikut ujian kesetaraan dan lulus. Ia mendaftar ke ITB dan diterima.
- Anak kamu yang tidak bisa bergaul dengan selain dengan teman seumur itu ya… artinya dia bermasalah sosialisasi KARENA SEKOLAH. Waspadalah dan lakukan sesuatu! Bukan waktunya kamu mencela-cela sosi alisasi anak homeschooling karena anak2 homeschooling lebih matang secara psikis, dan lebih heterogen lingkungan sosialisasinya.
- Emang betul, ada orang repot-repot ngirim pesan ke saya, kasian deh anak homeschooling, terlalu pinter, ngomongnya nggak nyambung ke anak-anak lain.
*Ha…?* - Jadi kekurangan sosialisasi anak homeschooling adalah: mereka gak tau kalau anak-anak sekolah itu malas-malas belajarnya dan gak berminat mendiskusikan ilmu pengetahuan di luar kelas. Eh, di kelas aja anak sekolah pada males kok…
- Aku pikir, bekerja tanpa tenggat itu lebih butuh disiplin diri yang tinggi daripada bekerja dengan tenggat. Begitu pula anak homeschooling yang belajar mandiri itu butuh disiplin diri yang lebih tinggi daripada jadi murid sekolah yang tinggal tunggu perintah. Dengan demikian, anak homeschooling lebih terlatih berdisiplin daripada anak sekolah. Kesimpulannya, siapa yang lebih punya disiplin diri setelah dewasa? Anak homeschooling, dong!
- Padahal kalau self-employed, gak punya bos, disiplin diri itu mutlak perlu. Kecuali kalau mau jadi anak buah selamanya ya gak butuh disiplin diri. Cuma butuh kepatuhan mutlak pada perintah atasan,dan kalau memang kamu maunya gitu, menjadikan anakmu sbg bawahan yg tunggu perintah terus, memang perlu sekali sekolah itu, aku mendukungmu. Good luck ya!
- Suami yang mendukung homeschooling pasti rajin membaca buku-buku bermutu.
- Pengeluaran untuk membeli buku-buku anak itu investasi yang lebih berhasil guna untuk masa depannya daripada beli buku pelajaran sekolah. Lagian siapa sih yang ingat pelajaran sekolah ketika sudah dewasa?
- Cari nafkah dari pekerjaan yang disukai aja… kita bisa jenuh dan sakit kepala. Apalagi kalau benci pekerjaannya. Aneh deh si ibu ini, masa anak harus sekolah supaya terbiasa dengan pekerjaan menyebalkan? Kalau menyebalkan, ya harus berhenti kerja dong. Jangan mau dibayar berapa pun untuk membenci hidup kita sendiri.
- Our schools draw children away from their natural artistic nature. They teach the emotionless, dry information that is useless for happiness, and for creating human connections. A high-school graduate may know the date Napoleon waged war (and forgets it soon,) but has no idea how to respond to a distressed friend or a crying child. He may know (temporarily) chemistry but has no idea who he himself is. He may even be good at sports, but has no emotional tools to deal with life, and very limited tools to express himself artistically. ~Naomi Aldort~
- Kesulitan homeschooling bagiku, daripada penerapan sehari-hari, ada pada keharusan menghadapi kecaman dari orang-orang sekitar. Aku senang melihat manfaat homeschooling terhadap kemampuan sosialisasi anakku maka aku menganggap tekanan dari luar itu sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan men jadi lebih dewasa.
- Lain kali bilang gini aja: “Anak elo aja kayak gitu… kok bawel ngurusin sosialisasi anak gue?!”
- Fakta:
Orang tua yang meributkan “masalah sosialisasi homeschooling“, anaknya sendiri mempunyai masalah sosialisasi yang mencolok. Perhatikan saja! - *Kalimat sakti pengusir orang iseng* Anak gue yang mau homeschooling, kenapa elo yang rese sih?!?!
Pendidikan adalah kemampuan mendengarkan hampir segala hal tanpa naik darah atau kehilangan percaya diri. ~Robert Frost~. - Kalau membaca berita tentang beredarnya video porno artis di sekolah lewat telepon genggam, sosialisasi anak homeschooling terasa jauh lebih baik kan?
Label:
facebook,
homeschooling
Mengapa Syamil harus homeschooling?
Awalnya saya terkejut waktu Syamil putra sulung kami mengatakan tidak ingin sekolah lagi ketika ia masih duduk di kelas I SD. Alasannya pelajarannya sulit dan membosankan, belum lagi katanya teman-teman sekolahnya sering mengganggunya. Sungguh saat itu saya sangat murka sekaligus bingung, kok bisa, baru kelas satu SD sudah bosan sekolah. Akhirnya Syamil tetap sekolah karena saya rasa tidak ada cara lain untuk pintar dan berhasil selain disekolah.
Nilainya-nilainya tentu pas-pasan dan sangat sulit disuruh belajar dirumah. Tampaknya saya juga harus banyak mengulang pelajaran sekolahnya dirumah, karena seringkali Syamil tidak mengerti bila saya bertanya padanya mengenai pelajaran apa yang dipelajarinya hari ini. Ditanya PR pun rasanya ia tidak terlalu perduli dan cuek, hingga saya harus selalu bertanya kepada teman sekelasnya. Bila saya perhatikan buku catatannya tidak banyak yang ia catat. Belum lagi buku ulangan yang sering dibawanya kerumah karena tidak selesai. Walah...walahhhh
Sejak TK Syamil memang cenderung lambat dalam mengerjakan sesuatu, baik menulis maupun membaca. Saya merasa bersalah karena memang terlalu memaksakan Syamil untuk segera bisa baca-tulis, hingga menggunakan cara-cara agak keras dalam mengajarinya. Hasilnya Syamil justru stress dan malah mogok tidak mau belajar.
Waktu duduk di kelas I SD Syamil juga tidak suka menulis bila harus menyalin dari papan tulis. Ia lebih asyik bermain dengan mainan yang diam-diam dibawanya dari rumah, atau ngobrol dengan teman sebangkunya. Namun demikian Syamil tetap naik kelas karena menurut gurunya Syamil mampu mengikuti pelajaran meski tanggung jawab terhadap tugasnya masih sangat kurang.
Dikelas II SD nilainya mulai membaik, bahkan cukup baik karena wali kelasnya sangat corncern dan bisa mengerti kondisi syamil yang butuh perhatian lebih di kelas. Sang wali kelas ini sangat terbuka dan enak diajak berkomunikasi. Sang wali kelas juga bersedia memberikan les tambahan sepulang sekolah, Syamil juga terlihat semangat untuk sekolah, katanya "bu gurunya baik, enak ngajarnya", terbukti nilai Syamil juga meningkat hingga tidak ada satupun nilai 6 diraportnya.
Ketika naik kelas III motivasi belajar dan sekolahnya kembali mulai turun drastis, nilai-nilai ulangannya kembali berantakan, dan sering terlibat perkelahian disekolah. Syamil mulai sering kena hukum gurunya, bahkan pernah suatu kali Syamil belum pulang sekolah padahal sudah jam 13.30 siang, ketika saya jemput kesekolahnya ternyata ia sedang dihukum, tidak boleh pulang hingga pukul 15.00 oleh guru keterampilannya karena tidak membawa buku gambar, saya trenyuh namun tidak berani protes karena memang anak saya salah, tapi apa harus seberat itu?. Saya sampai harus membawakan makan siangnya dan menemaninya melewati hukuman tersebut. Tapi untunglah ada seorang guru yang melihat hal ini dan menyuruh kami untuk pulang saja dan mengabaikan hukuman sang guru keterampilan. Padahal sang guru keterampilan sendiri sudah pulang dan seakan lupa kalo ia sedang menghukum anak muridnya.
Hukuman demi hukuman sering diterima syamil dari dijewer, disetrap dan dilabeli sebagai anak nakal dan pemalas. Belum lagi beberapa orangtua murid sering mengadukan anaknya yang "dikerjai" Syamil dari mulai ditonjok, dibikin benjol, atau sekedar dorong-dorongan. Saya jadi sering deg-degan setiap hari bila menjemputnya dari sekolah, takut menerima pengaduan tentang "kenakalan" Syamil.
Saya jadi lelah dan bingung harus gimana lagi, beruntung saya terpikir akan Homeschooling dan mulai mencari informasi mengenai HS. Awalnya saya tidak terpikir sama sekali karena merasa tidak mampu dan tidak berani melakukannya, ditambah banyak mitos-mitos seputar HS yang negatif mengenai HS misalnya tentang Sosialisasi, kedisiplinan, kemandirian hingga legalitas yang ga jelas. Tentu saya tidak mau anak saya ga punya masa depan kan?. Namun saya tidak menyangka ternyata HS tidak seperti yang saya pikirkan, apalagi untuk anak yang unik seperti Syamil, rasanya hanya sayalah yang paling mengerti tentang dirinya. Saya mulai mempelajari sifat-sifat uniknya dan mencari cara belajar yang efektif untuknya.
Ah... anakku ternyata tidak nakal apalagi bodoh dan malas, ia hanya butuh perhatian dan kesabaran seorang guru yang mau mengerti dan setulus hati mencintainya. Guru yang paling bangga bila dirinya jadi orang sukses, guru yang tidak akan lelah dan menyerah untuk memberikan yang terbaik, Siapalagi guru itu kalau bukan ibunya? karena mana ada guru sekolah yang mau bertanggung jawab atas kegagalan anak muridnya.
Syamil ternyata tidak bisa diseragamkan cara belajarnya, Saya juga sempat curiga bila Syamil menderita ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder). Tapi Whatsoever... saya tidak takut akan hal itu banyak penderita ADHD yang bisa survive dan sukses dengan kekurangannya tersebut. Intinya saya ingin Anakku bahagia dengan menikmati proses belajar dan melewati masa kecilnya dengan indah.
Nilainya-nilainya tentu pas-pasan dan sangat sulit disuruh belajar dirumah. Tampaknya saya juga harus banyak mengulang pelajaran sekolahnya dirumah, karena seringkali Syamil tidak mengerti bila saya bertanya padanya mengenai pelajaran apa yang dipelajarinya hari ini. Ditanya PR pun rasanya ia tidak terlalu perduli dan cuek, hingga saya harus selalu bertanya kepada teman sekelasnya. Bila saya perhatikan buku catatannya tidak banyak yang ia catat. Belum lagi buku ulangan yang sering dibawanya kerumah karena tidak selesai. Walah...walahhhh
Sejak TK Syamil memang cenderung lambat dalam mengerjakan sesuatu, baik menulis maupun membaca. Saya merasa bersalah karena memang terlalu memaksakan Syamil untuk segera bisa baca-tulis, hingga menggunakan cara-cara agak keras dalam mengajarinya. Hasilnya Syamil justru stress dan malah mogok tidak mau belajar.
Waktu duduk di kelas I SD Syamil juga tidak suka menulis bila harus menyalin dari papan tulis. Ia lebih asyik bermain dengan mainan yang diam-diam dibawanya dari rumah, atau ngobrol dengan teman sebangkunya. Namun demikian Syamil tetap naik kelas karena menurut gurunya Syamil mampu mengikuti pelajaran meski tanggung jawab terhadap tugasnya masih sangat kurang.
Dikelas II SD nilainya mulai membaik, bahkan cukup baik karena wali kelasnya sangat corncern dan bisa mengerti kondisi syamil yang butuh perhatian lebih di kelas. Sang wali kelas ini sangat terbuka dan enak diajak berkomunikasi. Sang wali kelas juga bersedia memberikan les tambahan sepulang sekolah, Syamil juga terlihat semangat untuk sekolah, katanya "bu gurunya baik, enak ngajarnya", terbukti nilai Syamil juga meningkat hingga tidak ada satupun nilai 6 diraportnya.
Ketika naik kelas III motivasi belajar dan sekolahnya kembali mulai turun drastis, nilai-nilai ulangannya kembali berantakan, dan sering terlibat perkelahian disekolah. Syamil mulai sering kena hukum gurunya, bahkan pernah suatu kali Syamil belum pulang sekolah padahal sudah jam 13.30 siang, ketika saya jemput kesekolahnya ternyata ia sedang dihukum, tidak boleh pulang hingga pukul 15.00 oleh guru keterampilannya karena tidak membawa buku gambar, saya trenyuh namun tidak berani protes karena memang anak saya salah, tapi apa harus seberat itu?. Saya sampai harus membawakan makan siangnya dan menemaninya melewati hukuman tersebut. Tapi untunglah ada seorang guru yang melihat hal ini dan menyuruh kami untuk pulang saja dan mengabaikan hukuman sang guru keterampilan. Padahal sang guru keterampilan sendiri sudah pulang dan seakan lupa kalo ia sedang menghukum anak muridnya.
Hukuman demi hukuman sering diterima syamil dari dijewer, disetrap dan dilabeli sebagai anak nakal dan pemalas. Belum lagi beberapa orangtua murid sering mengadukan anaknya yang "dikerjai" Syamil dari mulai ditonjok, dibikin benjol, atau sekedar dorong-dorongan. Saya jadi sering deg-degan setiap hari bila menjemputnya dari sekolah, takut menerima pengaduan tentang "kenakalan" Syamil.
Saya jadi lelah dan bingung harus gimana lagi, beruntung saya terpikir akan Homeschooling dan mulai mencari informasi mengenai HS. Awalnya saya tidak terpikir sama sekali karena merasa tidak mampu dan tidak berani melakukannya, ditambah banyak mitos-mitos seputar HS yang negatif mengenai HS misalnya tentang Sosialisasi, kedisiplinan, kemandirian hingga legalitas yang ga jelas. Tentu saya tidak mau anak saya ga punya masa depan kan?. Namun saya tidak menyangka ternyata HS tidak seperti yang saya pikirkan, apalagi untuk anak yang unik seperti Syamil, rasanya hanya sayalah yang paling mengerti tentang dirinya. Saya mulai mempelajari sifat-sifat uniknya dan mencari cara belajar yang efektif untuknya.
Ah... anakku ternyata tidak nakal apalagi bodoh dan malas, ia hanya butuh perhatian dan kesabaran seorang guru yang mau mengerti dan setulus hati mencintainya. Guru yang paling bangga bila dirinya jadi orang sukses, guru yang tidak akan lelah dan menyerah untuk memberikan yang terbaik, Siapalagi guru itu kalau bukan ibunya? karena mana ada guru sekolah yang mau bertanggung jawab atas kegagalan anak muridnya.
Syamil ternyata tidak bisa diseragamkan cara belajarnya, Saya juga sempat curiga bila Syamil menderita ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder). Tapi Whatsoever... saya tidak takut akan hal itu banyak penderita ADHD yang bisa survive dan sukses dengan kekurangannya tersebut. Intinya saya ingin Anakku bahagia dengan menikmati proses belajar dan melewati masa kecilnya dengan indah.
Label:
homeschooling,
Syamil
Minggu, 26 Desember 2010
Syamil belajar mengetik dengan MsWord
Belajar mengetik dengan komputer merupakan hal yang sangat penting bagi anak-anak. semenjak dini anak dibiasakan untuk bisa membuat tulisan atau hanya sekedar karangan pendek.Banyak tools di MS word yang mudah dipelajari dan diingat Syamil. tampaknya Syamil juga tidak kesulitan melakukannyanya, hanya saja cara mengetiknya masih agak lambat, maklum sebelas jari gitu loh...Tapi gak masalah lumayan untuk yang baru pertama kali belajar.
Biasanya sih syamil cuma main game dan klik-klik internet aja. Tapi bagi Syamil maupun Ninis komputer bukanlah barang yang asing, mereka sangat suka main komputer. Saya sengaja membelikannya sofware edugames Boby Bola. Muatan edukasinya bagus dan menyenangkan bagi anak-anak, dari matematika hingga belajar mengaji.
Tapi sayangnya syamil agak bosan, dan tidak menyelesaikan tugas mengetiknya. Alasannya hari ini minggu dan saatnya Free time learning, jadi besok aja diselesaikannya ya mi!..Ya udah lah nak, ga dipaksa kok itu memang komitmen ummi dalam ber homeschooling.
Biasanya sih syamil cuma main game dan klik-klik internet aja. Tapi bagi Syamil maupun Ninis komputer bukanlah barang yang asing, mereka sangat suka main komputer. Saya sengaja membelikannya sofware edugames Boby Bola. Muatan edukasinya bagus dan menyenangkan bagi anak-anak, dari matematika hingga belajar mengaji.
Tapi sayangnya syamil agak bosan, dan tidak menyelesaikan tugas mengetiknya. Alasannya hari ini minggu dan saatnya Free time learning, jadi besok aja diselesaikannya ya mi!..Ya udah lah nak, ga dipaksa kok itu memang komitmen ummi dalam ber homeschooling.
Homeschooling, keputusan yang melegakan
Alhamdulilah, akhirnya saya bisa juga buat blog sendiri ternyata gampang juga. maksud pembuatan blog ini sesungguhnya adalah untuk pencatatan port folio homeschooling kedua buah hati kami Syamil Muzhaffar dan Nisrina Qanita Fathin dan sarana curhat keluarga kami. Baru saja bulan ini saya dan suami mengambil keputusan terbesar bagi kelangsungan masa depan anak-anak kami dengan menyelenggarakan Pendidikan bagi mereka rumah alias Homeschooling/Home education (HS/HE).
Insya allah bukan sekadar ikut-ikutan tren apalagi mau dianggap keren.Karena biasanya orang-orang yang kami beritahu bahwa anak-anak kami homeschooling pasti langsung berkata, wah bayarnya berapa? mahal ya?. trus gimana ujiannya? sosialisasinya, penerapan disiplinya, emang bisa ngajar sendiri, bla,bla.bla.....kalau ditulis semua cape deh...
Belum lagi yang komentarnya sinis, emangnya anaknya bermasalah ya bu? kok anak mau diuji coba gitu sih, yang udah jelas ajalah pendidikan ya di sekolah! anak ya kita serahkan sama yang ahli aja lah yaitu Guru-guru disekolah, yang paling bikin keki ketika ada yang bilang ijazah paket A sama aja ijazah anak jalanan yang legalitasnya ga jelas. Ih sebenarnya kesel dan jengkel dengernya. tapi saya udah mempersiapkan mental dan jawaban bagi para mulut-mulut usil itu.
Sebenarnya yang terberat adalah ketika kakek dan neneknya menentang keinginan saya dan suami meng Homeschool kan anak-anak. tapi alhamdulillah saya yang sudah membekali diri dengan banyak membaca artikel2 mengenai HS dan mencetaknya setelah meringkas hal-hal penting yang sering diperdebatkan mengenai HS. Akhirnya orangtua saya pun merelakan cucu-cucu kesayangannya tidak belajar di sekolah.
Kemudian tepatnya 23 Desember yang lalu, saya resmi mengundurkan diri dengan menghadap kepala sekolah
dan diluar dugaan saya sang kepala sekolah ternyata cukup mendukung keputusan saya tersebut. Jadi ga masalah deh. So.... dengan mengucapkan Bismilahirahmanirahim kami sekeluarga melangkah menuju masa depan dengan tekad bulat untuk belajar bersama dan meraih mimpi kami meski tanpa sekolah.
Insya allah bukan sekadar ikut-ikutan tren apalagi mau dianggap keren.Karena biasanya orang-orang yang kami beritahu bahwa anak-anak kami homeschooling pasti langsung berkata, wah bayarnya berapa? mahal ya?. trus gimana ujiannya? sosialisasinya, penerapan disiplinya, emang bisa ngajar sendiri, bla,bla.bla.....kalau ditulis semua cape deh...
Belum lagi yang komentarnya sinis, emangnya anaknya bermasalah ya bu? kok anak mau diuji coba gitu sih, yang udah jelas ajalah pendidikan ya di sekolah! anak ya kita serahkan sama yang ahli aja lah yaitu Guru-guru disekolah, yang paling bikin keki ketika ada yang bilang ijazah paket A sama aja ijazah anak jalanan yang legalitasnya ga jelas. Ih sebenarnya kesel dan jengkel dengernya. tapi saya udah mempersiapkan mental dan jawaban bagi para mulut-mulut usil itu.
Sebenarnya yang terberat adalah ketika kakek dan neneknya menentang keinginan saya dan suami meng Homeschool kan anak-anak. tapi alhamdulillah saya yang sudah membekali diri dengan banyak membaca artikel2 mengenai HS dan mencetaknya setelah meringkas hal-hal penting yang sering diperdebatkan mengenai HS. Akhirnya orangtua saya pun merelakan cucu-cucu kesayangannya tidak belajar di sekolah.
Kemudian tepatnya 23 Desember yang lalu, saya resmi mengundurkan diri dengan menghadap kepala sekolah
dan diluar dugaan saya sang kepala sekolah ternyata cukup mendukung keputusan saya tersebut. Jadi ga masalah deh. So.... dengan mengucapkan Bismilahirahmanirahim kami sekeluarga melangkah menuju masa depan dengan tekad bulat untuk belajar bersama dan meraih mimpi kami meski tanpa sekolah.
Label:
homeschooling
Antara belajar dan bersekolah
Dunia pendidikan kita adalah dunia sekolah. Belajar selalu diidentikkan dengan sekolah. Yang dinamakan belajar itu yang bersekolah. Kalau tidak bersekolah berarti tidak belajar. Itulah pemahaman mainstream yang dianggap sebagai kebenaran pada saat ini.Akibatnya, makna belajar menjadi menyempit. Belajar diidentikkan dengan bagaimana sekolah diselenggarakan. Jadi, yang disebut belajar itu ada jam khususnya, antara jam 7-12. Belajar itu tentang mata pelajaran, kalau bukan tentang mata pelajaran bukan dinamakan belajar, tetapi sekedar hobi. Belajar itu harus duduk diam mendengarkan penjelasan guru; kalau menonton Great Migration di NGC atau mengoprek alat elektronik, itu bukan belajar tetapi hanya mengisi waktu luang. Belajar itu harus keluar rumah dan di gedung tertentu; kalau membuat masakan di rumah itu bukan belajar, tapi membantu pekerjaan orangtua.
Halah…. menyedihkan. Tapi begitulah kira-kira potret pandangan umum tentang belajar yang sudah dirancukan dengan sekolah.
**
Padahal, belajar jauh lebih luas maknanya daripada bersekolah. Sekolah hanyalah salah satu bentuk dan model belajar. Tetapi, belajar itu sendiri tak identik dengan sekolah. Yang wajib itu adalah belajar, bukan sekolah.
Oleh karena itu, tantangan besar kita adalah mengembalikan keluasan makna belajar. Belajar bisa apa saja (yang diminati), belajar bisa dilakukan di mana saja (yang disukai), belajar bisa terjadi kapan saja (diinginkan), belajar bisa dari siapa saja (yang mencerahkan).
Itulah pendidikan sepanjang hayat, kehidupan yang menjadi ruang belajar sekaligus proses belajar.
Bisakah kita?
articel by sumardiono (rumah inspirasi.com)
Sabtu, 25 Desember 2010
Belajar membatik di Rumah Batik Nusantara
Tanggal 23 Desember kemarin saya dan anak-anak, ikutan acara belajar membatik yang diselenggarakan milis Sekolah Rumah dan komunitas homeschooling Berkemas. Inilah pertamakalinya saya berkenalan langsung dengan para praktisi HS dan HSer. Senang sekali rasanya bertemu mereka, mereka yang biasanya saya tatap di layar komputer, yang artikel-artikelnya banyak menginspirasi saya untuk meng HSkan anak-anak saya, sungguh saya kagum banget seperti ketemu selebriti idola gimana... gitu.
Acaranya seru dan menyenangkan, rasanya perjalanan jauh dari Tangerang-Kali Malang yang hampir 3 jam tidak sia-sia. Tadinya sempat ragu karena jarak yang lumayan jauh dan saya tidak terbiasa bawa anak-anak naik bis jauh-jauh. Tapi Bismillah... nekad ajalah..eh ternyata alhamdulillah anak-anak suka dan tidak mengeluh sepanjang perjalanan pergi-pulang.
Acara intinya sendiri dimulai pukul 13.00, dimulai dengan penjelasan pengantar tentang proses membatik. Setelah itu, anak-anak bisa langsung mulai proses belajarnya.
1. Menggambar pola
syamil dan ninis sedang menjiplak pola diatas kain
Kegiatan pertama yang dilakukan anak-anak adalah menggambar terlebih dulu pola batik di atas kain putih. banyak gambar-gambar yang sudah disediakan, baik motif batik maupun gambar sederhana seperti pesawat, ikan, kupu-kupu, dinosaurus, dan lain-lain. Anak-anak belajar menjiplak gambar pilihannya dengan pensil atau membuatnya sendiri tanpa menjiplak di atas kain.
2. Melukis dengan canting

Syamil dan Ninis sedang melukis dengan canting
Setelah pola gambar selesai, kain kemudian dijepit dengan penjepit berbentuk lingkaran agar memudahkan anak melukisnya. Setelah itu, mulailah proses membatik alias melukis dengan lilin yang dipanaskan. Di sini, anak-anak belajar mengikuti pola yang sudah mereka buat sebelumnya. eh ternyata susah lho nggak semudah yang kami kira, belum lagi kalau cantingnya macet atau bocor, lilinnya jadi berceceran dan gambarnya pun jadi agak berantakan. seperti yang dialami Ninis yang sempat ngambek karena cantingnya bocor.
3. Diberi motif di pinggiran kain
Setelah selesai melukis motif dengan lilin, kain itu kemudian dibuatkan polanya di pinggirnya menggunakan parafin dengan alat kuas. Proses ini sebenarnya sama seperti melukis dengan lilin tadi. Hanya saja, sekarang dibuat dengan kuas.motifnya ada yang persegi, lingkaran dan bergelombang
4. Mencelup/mewarnai
Tahapan selanjutnya adalah mewarnai. Sebelum kain dicelup ke pewarnai, bagian pinggir yang sudah dibuat dengan parafin tadi harus diremas-remas dahulu agar ada retakan sehingga nantinya bisa dimasuki warna dan membentuk pola yang bagus. Kain kemudian dimasukkan ke ember yang sudah diberi garam warna. Setelahnya dimasukkan dimasukkan air bersih untuk dibilas.
5. Merebus kain
Proses selanjutnya yang dilakukan adalah merebus kain hingga lilinnya larut dan luruh dari kain. Kain yang sudah selesai direbus itu kemudian dicuci dengan air dingin dan digosok-gosok dengan tangan untuk memastikan seluruh lilinnya lepas.
6. Mengeringkan kain
Tahapan terakhir adalah menjemur kain hingga kering. namun anak-anak tampaknya tidak sabar untuk beraksi dengan karya mereka. dalam keadaan masih basah mereka berfoto sama-sama.Proses yang dijalani anak-anak itu tentunya sangat sederhana dan memang sengaja disederhanakan. Namun tentu menjadi pengalaman yang sangat bermanfaat bagi mereka.
Kegiatan ini tentu juga sangat menyenangkan buat saya selaku pendatang baru di HS. bertukar pikiran dengan para praktisi senior tentu membuat saya semakin merasa yakin dan tercerahkan. bahwa HS is the better way for education. There's no school like home!
Syamil, Ninis dan Homeschooler lainnya sedang memamerkan hasil karya mereka
Blog sebagai pencatatan jurnal dan port folio HS
Alhamdulillah, bisa juga ternyata saya bikin blog. Mudah dan simple. padahal tadinya saya ga PD dan ga yakin bisa ngeblog maklum rada gaptek. tapi karena keinginan kuat saya untuk buat pencatatan port folio anak-anakku selama mereka ber HS, jadilah saya nekad belajar internet. HS ternyata membawa hikmah buat saya karena menjadikan saya mau belajar lagi, baca-baca buku lagi dan mulai mengakrabi lagi komputer. Setelah sepuluh tahun lalu saya terakhir kalinya "bergaul" akrab dengan komputer saat pembuatan skripsi S1. Saya juga jadi banyak teman di dunia maya, dan banyak mendapat ilmu disana.
Mudah-mudahan saya bisa komit dengan blog ini, mengingat saya bukan orang yang hobi nulis dan curhat di internet. Tapi paling nggak saya punya kewajiban pada anak-anakku untuk mencatat dengan detail dan mendokumentasikan kegiatan belajar mereka disini.
Bismillahirahmanirahiim, Insya Allah saya dan suami diberi kemampuan, kesehatan dan komitmen dalam menjalani HS bersama anak-anak.Amien
Mudah-mudahan saya bisa komit dengan blog ini, mengingat saya bukan orang yang hobi nulis dan curhat di internet. Tapi paling nggak saya punya kewajiban pada anak-anakku untuk mencatat dengan detail dan mendokumentasikan kegiatan belajar mereka disini.
Bismillahirahmanirahiim, Insya Allah saya dan suami diberi kemampuan, kesehatan dan komitmen dalam menjalani HS bersama anak-anak.Amien
Label:
internet,
port folio
Horeee...akhirnya homeschooling juga!
Setelah banyak mencari informasi tentang homeschooling kemudian berpikir seribu kali, merenung, hingga berdebat dengan orang-orang menentang, akhirnya selepas semester ganjil ini, saya resmi 'mengeluarkan' anak-anak saya dari sekolah.Alhamdulillah tidak banyak pertanyaan khususnya dari kepala sekolah. beliau justru mengatakan bahwa ia sangat mendukung bila ada orangtua yang berkomitmen penuh mendidik anaknya sendiri. Karena sekolah hanya mampu mengambil separuh dari tanggung jawab terhadap pendidikan anak. selebihnya adalah tanggung jawab orangtua mendidik anaknya.Bagi saya, orangtualah yang porsinya jauh lebih besar ketimbang siapapun apalagi sekolah. Dari pengalaman saya , Syamil yang memang kebetulan memiliki hambatan dalam memusatkan konsentrasi saat belajar seringkali tidak mendapat apapun disekolah. hingga akhirnya saya sebagai orangtua juga yang 'babak belur' dirumah mengulang pelajaran. Alih-alih ngerti, Syamil malah tambah stress karena sudah bosan ditanya tentang pelajaran tadi. Akhirnya sayapun jadi ngoceh ga karu-karuan, ikutan stress.walahhh
Syamil dan ninis anak-anak yang unik cara belajarnya, mereka cenderung lebih senang diajak berdiskusi dan bermain dalam belajar. mereka juga lebih senang membaca buku-buku bergambar, main komputer dan outbond. sama sekali ga bisa belajar dengan cara yang kaku, disuruh menyalin catatan dari papan tulis, mendengarkan guru ceramah tentang pelajaran yang cenderung membosankan. Mereka sebenarnya sangat kritis dan memiliki keingintahuan yang besar terhadap segala sesuatu. Insya Allah ya nak, dengan HS, ummi bisa memfasilitasi belajar kalian agar dapat memenuhi segala hal yang ingin kalian ketahui untuk menjadi orang yang bermanfaat kelak. Amien
Horee...rasanya merdeka dan legaaaaa banget. homeschooling we are coming......!!!!!!
Label:
homeschooling
Langganan:
Komentar (Atom)













