Kamis, 27 Januari 2011

Masa depan : Portfolio bukan ijazah

Article by Sumardiono  dari  http://Rumahinspirasi.com

Ketika berbicara tentang homeschooling/unschooling, salah satu concern besar dari masyarakat yang muncul adalah mengenai ijazah.

“Kita tak mungkin bekerja tanpa ijazah. Itulah realitas di Indonesia. ” Begitu kurang lebih argumentasinya.

Yah… argumen itu mengandung kebenaran, walau tak sepenuhnya. Kalau bekerja artinya adalah menjadi pegawai di pabrik atau kantor, jawabannya sangat iya.

Tapi bagaimana kalau pekerjaannya adalah penulis, fotografer, penyanyi, musisi, blogger, pedagang, atau pebinis? Masih relevankah ijazah untuk bekerja? Atau, profesi-profesi itu dianggap hanya merupakan hobi atau tak cukup serius untuk dianggap sebagai pekerjaan?

Tak dapat dipungkiri, ijazah memang cara termudah untuk mengukur “credential” seseorang. Dengan menyebutkan sebagai lulusan tingkat A dari perguruan XYZ, seseorang mungkin dapat dikenali kredibilitasnya. Tapi, semakin lama ijazah saja tak lagi mencukupi.

Dibutuhkan informasi lain yang menunjukkan minat dan kualitas seseorang, yang menentukan kesesuaiannya dengan yang kualifikasi diminta. Dan di sanalah portofolio berada. Portofolio menunjukkan catatan ketertarikan (interest) dan minat (passion) seorang seseorang, yang terwujudkan dalam bentuk aksi dan output. Portofolio bukan hanya tentang yang diketahui, tetapi yang dilakukan.

Portofolio yang baik mengandung beberapa aspek, diantaranya:
kumpulan karya/output selama bertahun-tahun yang menunjukkan konsistensi dan perkembangan kualitas/kemampuan.
memiliki beragam bentuk multimedia, baik teks, grafik/gambar/foto, film.
memasukkan penilaian eksternal untuk mengurangi subjektivitas; misalnya: penghargaan, berita di media, bukti pekerjaan dari klien, dan sebagainya.

**

Jika pekerjaan maknanya adalah melamar ke perusahaan, mungkin jalan yang akan kita lihat dalam waktu dekat (near future) memang masih tentang ijazah. Ijazah memainkan peran penting, tetapi portofolio akan menjadi nilai tambah yang semakin diperhitungkan.

Tapi kalau berbicara tentang profesi-profesi mandiri (yang menjadi ciri era teknologi/informasi) dan profesi masa depan, portofolio dan kemampuan menghasilkan output menjadi sebuah hal yang tak bisa ditawar lagi. Portofolio memiliki nilai yang lebih daripada ijazah; apalagi ijazah yang hanya sekedar formalitas.

Tak diragukan.

Rabu, 26 Januari 2011

Belajar membuat burger di Wendy's

Hari ini, tanggal 26 Januari, anak anak mengikuti kegiatan tematik yang diadakan lembaga kursus Bahasa Inggrisnya One Learning Centre (OLC), tempat Syamil dan Ninis les bahasa inggris. Oleh OLC Anak anak diajak mengunjungi salah satu gerai fastfood di Lippo Karawaci yang menjual makanan sejenis burger, fried chicken, dll. Kegiatan disana meliputi tour kitchen dan how to making wendy’s burger.

Setelah mendapatkan pengarahan panitia dari pihak Wendys dan OLC, anak-anak, secara bergiliran masuk ke dapur untuk melihat-lihat proses penyimpanan dan pembuatan makanan. Menurut anak-anak, didapur mereka melihat peralatan memasak yang besar-besar. Kemudian melihat lemari pendingin tempat penyimpanan makanan. Mereka juga melihat proses membuat roti bun, cara memasak daging burger dan bahan pelengkap lainnya.

Setelah itu anak-anak belajar membuat burger sendiri, mereka masing-masing diberi jatah satu buah bun atau roti bulat yang sudah dialasi oleh wrap paper, kemudian anak-anak diberi petunjuk cara membuatnya mulai dari mengoles mayonnaise, tomato sauce, mustard dan diberi 2 buah pickle atau acar mentimun, onion atau bawang Bombay, irisan tomat dan kemudian diberi irisan daging burger dan terakhir lembaran keju. Setelah selesai, anak-anak dapat menikmati burger buatannya sendiri.























Syamil dan Ninis senang sekali, meski mereka juga pernah membuat burger sendiri dirumah, namun pengalaman membuatnya bersama-sama teman-temannya, tentu rasanya berbeda. Ninis sampai melahap habis burger buatannya. Syamil yang tidak terlalu suka burger juga akhirnya melahapnya meski ada sedikit tersisa karena kekenyangan katanya. Usai acara, anak-anak dibagikan kenang-kenangan berupa lunch box dari Wendy’s. Mereka senang sekali hari ini, ditambah lagi sehabis acara ini kita akan menonton film Yogi Bear. Yess makin lengkap deh senangnya……

Senin, 24 Januari 2011

Belajar konsep uang

Syamil dan Ninis sudah terbiasa diberi uang jajan dan mengerti bahwa 1000 itu recehan dan 50.000 atau 100.000 adalah uang yang nilainya cukup besar. Syamil sendiri ketika masih sekolah dulu, biasa saya beri uang saku Rp.3000-Rp.5000 perhari. Sedang Ninis paling besar hanya Rp.2000. Kini setelah Homeschooling, uang jajan tersebut masih berlaku namun diberikan setelah menjalankan kewajibannya terlebih dahulu.

Syamil ketika masih sekolah seringkali  menghabiskan uang jajannya untuk mainan atau jajanan yang tidak jelas, kini mulai belajar menabung. Meski tabungannya hanya ‘kuat’ beberapa hari saja lalu dengan cepat dibelikan mainan lagi, tapi nggak masalah, Toh itu haknya kan. Sedangkan Ninis sepertinya memang  belum tertarik minta uang jajan tiap hari.

Aku memang sudah membiasakan kepada anak-anak untuk mengenal nilai uang dan nilai suatu benda. Dari mulai ribuan, ratusan ribu hingga jutaan. Jadi mereka misalnya mengerti nilai harga sepatunya atau tasnya sendiri termasuk murah atau mahal. Atau mereka juga mengerti ketika saya meminta mereka untuk berbelanja ke warung depan rumah membeli suatu barang dengan uang yang nilainya cukup besar berarti harus ada kembaliannya, meski belum mengerti jumlahnya secara detail.

Pada Syamil, saya hanya memberi pelajaran penjumlahan, pengurangan dan kelipatan. Karena syamil kebetulan bertanya apasih maksudnya “dua kali lipat” itu (dalam konsep uang)?. Tidak sulit menjelaskannya karena kami belajar langsung dengan menggunakan uang koin dan kertas agar lebih kongkrit. Nanti setelah paham betul barulah aku nanti memberinya soal-soal yang sifatnya abstrak atau sekedar deretan angka2 dibuku latihannya.

Jadi santai sajalah…yang terpenting dari ini semua, belajar konsep uang bukan hanya belajar nilai suatu mata uang, tapi juga belajar menghargai dan mempergunakan uang dengan bijaksana dan tentunya mendapatkannya juga harus dengan cara yang halal dan diridhoi Allah. Agar kelak Anak-anakku bisa menjadi manusia yang berahlak yang meski berharta namun tidak lupa untuk selalu beramal dengan hartanya. Karena menyadari harta dunia adalah hanya titipan Nya semata. Amien……

Belajar arah mata angin

Sehabis shalat maghrib sore tadi, saya iseng-iseng bercerita pada Syamil mengenai arah kiblat yang mengarah ke barat menurut arah mata angin. Saya kemudian mencoba mengetes pengetahuannya tentang arah mata angin yang pernah dipelajarinya disekolah di semester ganjil kemarin, hasilnya....blablass angine.. eh ilmunya,eh nggak ngerti sama sekali. Padahal gurunya pernah memberi tugas menggambar empat penjuru mata angin seperti kompas, lalu dilaminating segala.

Nah kalo begitu aku coba memberi tahunya lagi sambil mempraktekkan gerakan-gerakan tangan, hadap kanan-kiri berulang ulang. Patokan yang saya gunakan yaitu arah kiblat biar mudah diingat, Jadi bila kiblat didepan berarti barat, dibelakang berarti timur, sebelah kanan utara, sebelah kiri selatan. Aku contohkan sambil menggerakan tangan kedepan, belakang kanan dan kiri. Menghadap kanan kiri dan belakang. 

Kemudian aku jadikan tebak-tebakan seru, misalnya bila kamu menghadap utara sebelah kirimu berarti arah…..barat!!!! Syamil dan Ninis berebut menjawab sambil tertawa-tawa…. Wah ternyata mengajari sambil bercanda itu lebih efektif dan menyenangkan yaa…anak-anak juga tidak terasa bertambah ilmunya.

Belajar membuat coklat

      Setelah bulan Desember yang lalu anak-anak membuat kue sus, yang meski enak namun tidak layak dijual, alhasil kuenya jadi di konsumsi sendiri. Nah bulan januari ini, aku dan anak-anak mencoba membuat coklat praline dan lollipop. Resepnya saya dapat dari tutorial membuat coklat di YouTube, sangat mudah untuk dibuat bahkan bagi anak-anak sekalipun. Namun memang masih harus dibimbing, karena namanya memasak yah… tetap saja beresiko karena harus bekerja bersentuhan dengan yang panas-panas alias api kompor. Jadi tetap riskan dan butuh pengarahan. 
   Syamil dan ninis sejak awal antusias sekali, bahkan Ninis minta ikut ke toko kue untuk membeli bahan-bahan adonan dan memilih cetakan jenis dan coklat yang akan digunakan.
   Bahan-bahan yang digunakan adalah coklat blok coumpond, berbagai jenis yaitu coklat, susu, strawberry dan melon. Cetakan praline dan lolipop, stik lollipop, pipping bag, selai blueberry, kismis. Mangkuk kertas dan plastic pembungkus.

    Cara membuatnya : Lelehkan coklat diatas panci yang berisi air panas, setelah meleleh, tuang diatas cetakan dengan menggunakan pippping bag agar tidak berantakan. Tuang sedikit dahulu, masukan ke lemari es agar cepat beku 5 menit, kemudian diberi filling selai blueberry atau kismis dan tuang coklat sisanya sampai penuh. Segera masukan ke lemari es agar memberi kesan mengkilap. Diamkan 5 menit. Keluarkan dari cetakan, kemas dengan mangkuk khusus coklat, lalu bungkus dengan plastik. Siap deh di jual..eh dimakan dulu deh. Hehehe. Untuk pembuatan lollipop, ngga terlalu berbeda, Cuma ngga dikasih filling saja namun di beri stik, bentuknya lucu-lucu dan bisa dikreasikan berwarna-warni. Cuma bagi pemula seperti saya dan anak-anak butuh latihan supaya hasilnya bagus dan rapih. Tapi lumayanlah masih pantes kok dijual.


                                                             

                 Ninis dan coklat

    Ninis sukaaaa banget coklat buatannya, sampai habis 5 buah coklat. Syamil yang sebenarnya ga suka coklat jadi suka juga, katanya buatan sendiri rasanya lebih enak sih.. nah besok mulai jualan ah, mungkin juga sebagian coklat akan dititipkan ke warung depan. Harganya ngga mahal-mahal karena aku bukan cari untung cuma Rp.1500 untuk praline dan Rp.2000 untuk lollipop. Tapi mudah-mudahan hal sederhana ini bisa menjadi pengalaman buat anak-anak dalam mengajarinya berkreasi dan sekaligus mengasah jiwa wirausahanya sejak dini.

Kamis, 20 Januari 2011

Anak Homeschooling Tidak Bisa Bersaing?

Anak homeschooling tidak terbiasa bersaing, dan ketiadaan pesaing (teman-teman sekelas yang harus dikalahkan) akan menjadikan mereka orang-orang lemah.

Benarkah itu?

Kenyataannya, di Amerika Serikat, kompetisi mengeja Spelling Bee seringkali dimenangkan oleh anak homeschooling, begitu pula berbagai kompetisi robotik, kompetisi matematika nasional, Geography Bee, dan banyak lagi. Termasuk kompetisi sains NASA (lihat artikel Rumah Inspirasi). Anak homeschooling diterima masuk ke universitas bergengsi seperti Stanford, Yale, Harvard, dan lain-lain dengan menerima beasiswa. Menjadi anak homeschooling bukan berarti tidak bisa bersaing.
Anak-anak homeschooling bersaing dalam bidang-bidang yang menjadi kekuatan mereka. Dan karena tidak perlu membuang waktu untuk tetek bengek lain, mereka bisa lebih bisa memfokuskan upaya dan kekuatannya untuk menang dalam persaingan yang mereka pilih itu. Dalam urusan persaingan, anak homeschooling jelas berada pada posisi yang lebih menguntungkan.
Motivasi untuk berjuang bagi anak homeschooling tidak datang dari kompetisi, melainkan dari hasrat dan semangat dalam diri mereka sendiri. Kenyataannya banyak anak homeschooling yang belajar pada tingkat 2-3 tahun di atas anak-anak seumur (bahkan lebih dari itu). Ini berkat pengajaran satu-lawan-satu yang terbukti efektif, penghargaan pada minat dan bakat anak itu sendiri, dan fleksibilitas dalam homeschooling.

by. Andini Rizky (Homeschooling Indonesia)

Merubah paradigma pendidikan

Article by Sumardiono (Rumah inspirasi.com)

Tak dapat dipungkiri, pendidikan telah berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia. Tetapi, ada problem besar di dalam sistem pendidikan kita. Itulah sebabnya, sebagian besar pemerintah melakukan reformasi pendidikan umum (public education).
Alasan untuk reformasi pendidikan itu yang pertama karena alasan ekonomi, untuk mengantarkan anak-anak agar dapat selaras dengan perekonomian abad 21, yang terus berevolusi dengan cepat dan semakin sulit diprediksi. Alasan kedua adalah karena faktor budaya, bagaimana tetap mempertahankan identitas budaya lokal di tengah terpaan globalisasi yang sangat dahsyat.
Di dalam model yang selama ini berjalan, dengan pendidikan anak-anak bekerja keras, lulus & mendapatkan ijazah, kemudian bekerja. Problemnya, anak-anak sekarang tidak terlalu percaya dengan rumus itu. Kelulusan dan ijazah tak menjamin pekerjaan.
Sir Ken Robinson, salah satu tokoh pendidikan dan penulis buku “The Element”, menyatakan bahwa salah satu sebab yang paling mendasar adalah karena sistem pendidikan yang berjalan saat ini dirancang dengan asumsi-asumsi pada masa lalu, yang tak lagi sesuai dengan kondisi saat ini.
Sistem pendidikan saat ini dirancang dalam kultur intelektual abad pencerahan dan sistem ekonomi yang dihasilkan oleh revolusi industri (sekitar abad 18). Pada saat itu, sistem pendidikan umum menjadi hal yang revolusioner karena sebelumnya belum pernah ada sistem pendidikan yang massal untuk masyarakat. Sistem baru ini dibayar dengan uang pajak, wajib bagi semua orang, dan disampaikan dengan gratis sehingga bisa menjangkau banyak orang.
**
Sistem pendidikan umum sangat menekankan pada kemampuan akademis, sehingga secara natural kemudian membagi manusia menjadi dua kategori: akademis dan non-akademis, orang cerdas dan kurang cerdas. Dan semuanya diukur dengan ukuran akademis. Akibatnya, banyak orang2 yang sebenarnya hebat, tetapi mereka merasa gagal karena mereka berbeda dari standar “kehebatan” yang ditentukan sistem pendidikan.
Sistem pendidikan ini dijalankan dengan model pabrik seperti pada revolusi industri. Proses dibagi dalam bagian yg terpisah (mata pelajaran), pendidikan dijalankan dalam sistem urutan/batch (kelas), dan outputnya adalah produk yang seragam, yang ditandai dengan waktu produksi (tahun kelulusan).
Nilai-nilai utama dari model ini adalah kesamaan (conformity) dan standardisasi. Itulah model seperti pabrik di abad pertengahan.
**
Menurut Sir Ken Robinson, model pendidikan yang sekarang ada tak mencukupi kebutuhan zaman. Kita membutuhkan transformasi paradigma tentang pendidikan untuk masa kini, sebab zaman kita berbeda dari zaman pertengahan.
Anak-anak yang besar masa kini adalah anak-anak digital. Mereka lahir dan tumbuh dengan barang digital dan multimedia yang ada di sekitar mereka, TV, papan reklame, VCD/DVD, Internet, gadget, yang membuat mereka sangat terekpos dengan multi-stimulan (otak, mata, telinga, animasi, fisik). Itu membuat sulit fokus dengan model pendidikan yang dijalankan dengan sistem tradisional di kelas yang cenderung membosankan bagi mereka. Jadi, sangat dimungkinkan anak2 digital ini akan dinilai sebagai penyandang ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) karena mereka sulit untuk memfokuskan diri pada model pengajaran yang membosankan di kelas.
Paradigma pendidikan baru harus menekankan pada “divergent thinking”, kapasitas untuk melakukan hal-hal kreatif. Divergent thinking meliputi kemampuan untuk melihat banyak kemungkinan jawaban untuk sebuah masalah tertentu, melihat banyak tafsir dan pemahaman atas sebuah pertanyaan, untuk berfikir literal (tak hanya liner dan konvergen), melihat banyak solusi tak hanya satu solusi.
Dalam sistem yang ada saat ini, kemampuan berfikir divergen itu tak berkembang pada anak. Bahkan, kemampuan divergen itu semakin turun seiring peningkatan usia dan tingkat pendidikan seseorang. Ketika anak semakin terdidik, jawaban itu semakin mengerucut pada hanya ada satu jawaban yang benar.
**
Tulisan di atas adalah ringkasan dan pemaknaan bebas dari presentasi Sir Ken Robinson tentang perubahan paradigma pendidikan.