Minggu, 02 Januari 2011

Mengapa harus Homeschooling?

Artikel by Andiny Rizky (Homeschooling-Indonesia.com)






Pertanyaan:

Sekolah itu sejelek-jelek apa pun, bagaimana pun tetap wajib.

Nanti setelah jam sekolah, orang tua boleh saja melengkapi pelajarannya dengan kegiatan membaca buku ensiklopedia bersama, bercakap-cakap bahasa Inggris, field trip ke museum, kursus berenang, bermain alat musik, dan sebagainya.

Kan bisa saja toh semua itu dilakukan tanpa anak harus keluar dari sekolah formal?

Jawaban:

Ya, memang bisa. Siapa bilang nggak bisa. Tetapi yang wajib itu belajar, bukan sekolah. Kewajiban orang tua itu menyediakan pendidikan untuk anak-anaknya. Bagaimana bentuk pendidikannya, itu adalah pilihan. Sekolah adalah pilihan. Homeschooling adalah pilihan.

Aku salut dan mendukung sekali orang tua yang mau melakukan hal-hal tersebut untuk pendidikan anaknya. Aku senang kalau ada orang tua yang tidak lepas tangan dan tetap sadar akan tanggung jawabnya mendidik anak-anaknya, meskipun sudah menyekolahkan mereka.

Kalau ada yang ingin aku tambahkan: semoga orang tua yang baik ini sadar bahwa sekolah bisa gagal, bisa berhasil, dalam mengembangkan potensi anak. Tidak ada jaminan sekolah pasti berhasil. Malah besar kemungkinan sekolah malah menjadi dalang dari perkembangan keyakinan diri yang negatif. Seperti kata seorang guru di blognya : murid-muridnya terlanjur percaya pada cap bodoh yang ditempelkan di jidat mereka sejak kecil. Rasa rendah diri dan merasa bodoh itu akan menghalangi mereka sampai dewasa.

Aku juga ingin bertanya, apakah mungkin orang tua bisa mengajar anak-anak di luar waktu sekolah, sedangkan setelah sekolah yang lama…, apalagi kalau full-day school, anak-anak pasti sudah capek, sudah muak belajar yang lain, apalagi ada tugas sekolah yang harus dikerjakan, ada ujian yang harus dipersiapkan dengan menghapal sampai ngelotok, bikin contekan, dan sebagainya. Di mana waktunya? Mana energinya? Apalagi banyak sekali anak-anak sekolah yang menjadikan belajar sebagai momok, kalau diajak mempelajari sesuatu di luar kelas, mereka menolak, dengan alasan: ah itu kan tidak keluar di ulangan. Betapa banyak anak-anak sekolah yang memperlihatkan reaksi alergi ketika ditanya ‘kamu belajar apa tadi di sekolah?’.

Sayang sekali, faktanya mayoritas orang tua bahkan tidak pernah meluangkan waktu untuk mempertimbangkan pengayaan apa pun di luar pendidikan sekolah formal untuk anak-anak mereka. Mereka tidak pusing-pusing memeriksa PR dan berbagai tugas sekolah lainnya, mereka tidak perduli anak-anaknya paham pelajaran sekolah apa tidak, mereka bahkan menghindari terlibat langsung dalam mendidik anak-anak mereka. Kalau anak-anak berbuat kenakalan, yang terlontar pertama kali dari orang tua semacam ini adalah,

“Ini anak bandel amat. Diajarin apa sih di sekolah? Gurunya siapa sih?”

Ketika ada masalah, yang bersalah adalah anaknya, atau gurunya, atau pengasuhnya. Sedangkan dia sebagai orang tua ‘tidak pernah bersalah’ karena dia sendiri tidak pernah berandil apa-apa.

Kenyataan seperti ini membuat bermunculannya orang tua yang dengan bangga memproklamirkan diri sebagai “praktisi homeschool paruh waktu” atau “afterschooler“(=orang tua yang melengkapi pendidikan anak di luar jam sekolah).

Bukan fenomena yang buruk. Aku setuju kalau jadi orang tua memang harus begitu.

Ketika orang tua yang perhatian tersebut menyadari bahwa sekolah lebih banyak dampak negatifnya bagi anak-anak mereka, semoga mereka cukup berpikir terbuka untuk mempertimbangkan opsi homeschooling.

Pertanyaan ‘kenapa harus homeschool?’ bisa juga aku kembalikan dengan balik bertanya ‘kenapa harus sekolah?’

Perlu diingat, keluarga yang memilih homeschool tidak membuat keputusan dengan ringan dan asal-asalan. Pernahkah berpikir betapa sulitnya menahan serangan konstan dari orang-orang terdekat yang tidak tahu homeschool tetapi berasumsi buruk tentang homeschool? Kan lebih gampang ikut arus. Lebih gampang tetap memasukkan anak-anak ke sekolah meskipun radar kita sebagai orang tua sudah merasakan ‘ada yang tidak beres’.

Kenapa harus sekolah? Kenapa menyerahkan begitu banyak kewenangan kepada sekolah? Begitu tahu sekolah berdampak negatif bagi anak sendiri, kenapa harus menyerah dan tidak berani menarik mereka keluar?

Martin Luther King Jr. berkata:

Pengecut bertanya – apakah ini aman?

Pencari untung bertanya – apakah ini politik?

Penjaga gengsi bertanya – apakah ini populer?

Tetapi hati nurani bertanya – apakah ini BENAR?

Ada waktu seseorang harus mengambil sikap

yang tidak aman, tidak politik, juga tidak populer;

melainkan karena BENAR.

Aku pilih homeschool karena yakin aku benar.

Kalau kamu juga yakin kamu benar, pilih saja sekolah, tidak masalah bagi aku.

Memang tidak semua orang bisa homeschooling karena tidak semua orang mau.

Aku percaya, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kalau sudah yakin dan bersedia melakukan yang perlu, semua orang tua bisa belajar bagaimana mengelola homeschool untuk anak sendiri.

Pada akhirnya kita sebagai orang tua memiliki tujuan yang sama: anak-anak dewasa yang beriman, cerdas, bahagia, dan membawa rahmat tidak hanya untuk dirinya juga orang lain. Sukses, begitulah. Mengapa tidak memperluas pengertian sukses dalam kepala kita masing-masing?

Sukyatno Nugroho adalah tukang es yang tidak sekolah. Sampai sekarang dia masih tukang es, tukang es yang mendirikan Es Teler 77 di seluruh Indonesia.

Sukses tidak harus lewat saluran sekolah. Tidak ada sekolah yang menjamin sukses. Tidak ada sekolah yang mau minta maaf dan bayar ganti rugi kalau murid-muridnya tidak sukses.

Sukses dijamin orang tua yang mencintai dan menyadari tanggung jawab atas pendidikan anak-anak mereka. Orang tua yang bukan sekedar ‘meluangkan waktu’ untuk anak-anak, tetapi ‘mendedikasikan waktu’ untuk mendidik anak-anak.###

2 komentar:

  1. thanks,,
    help me a lot for my topic ^^

    BalasHapus
  2. Maraknya bully, tawuran, perubahan system pendidikan, kasus-kasus materi pendidikan yang tidak sesuai dengan budi pekerti, stress pada anak serta kriminalitas di lingkungan sekolah, membuat ; Homeschooling dan Cyber school (sekolah online) menjadi pilihan bagi pendidikan anak saat ini. Pendidikan dan pengawasan anak menjadi lebih intensif dengan peran orang tua yang tidak dikekang oleh berbagai aturan dari sekolah. Siapa bilang Homeschooling itu Mahal. Kami menawarkan pendidikan Homeschooling dengan biaya yang SANGAT TERJANGKAU dan dapat di customized sesuai dengan bakat, minat dan visi dan misi orangtua.
    Cek website kami untuk keterangan : HOMESCHOOLING CYBERSCHOOL ANAK PANAH - www.anakpanah.sch.id atau hubungi 081113456 / 0811134530

    BalasHapus