Kamis, 27 Januari 2011

Masa depan : Portfolio bukan ijazah

Article by Sumardiono  dari  http://Rumahinspirasi.com

Ketika berbicara tentang homeschooling/unschooling, salah satu concern besar dari masyarakat yang muncul adalah mengenai ijazah.

“Kita tak mungkin bekerja tanpa ijazah. Itulah realitas di Indonesia. ” Begitu kurang lebih argumentasinya.

Yah… argumen itu mengandung kebenaran, walau tak sepenuhnya. Kalau bekerja artinya adalah menjadi pegawai di pabrik atau kantor, jawabannya sangat iya.

Tapi bagaimana kalau pekerjaannya adalah penulis, fotografer, penyanyi, musisi, blogger, pedagang, atau pebinis? Masih relevankah ijazah untuk bekerja? Atau, profesi-profesi itu dianggap hanya merupakan hobi atau tak cukup serius untuk dianggap sebagai pekerjaan?

Tak dapat dipungkiri, ijazah memang cara termudah untuk mengukur “credential” seseorang. Dengan menyebutkan sebagai lulusan tingkat A dari perguruan XYZ, seseorang mungkin dapat dikenali kredibilitasnya. Tapi, semakin lama ijazah saja tak lagi mencukupi.

Dibutuhkan informasi lain yang menunjukkan minat dan kualitas seseorang, yang menentukan kesesuaiannya dengan yang kualifikasi diminta. Dan di sanalah portofolio berada. Portofolio menunjukkan catatan ketertarikan (interest) dan minat (passion) seorang seseorang, yang terwujudkan dalam bentuk aksi dan output. Portofolio bukan hanya tentang yang diketahui, tetapi yang dilakukan.

Portofolio yang baik mengandung beberapa aspek, diantaranya:
kumpulan karya/output selama bertahun-tahun yang menunjukkan konsistensi dan perkembangan kualitas/kemampuan.
memiliki beragam bentuk multimedia, baik teks, grafik/gambar/foto, film.
memasukkan penilaian eksternal untuk mengurangi subjektivitas; misalnya: penghargaan, berita di media, bukti pekerjaan dari klien, dan sebagainya.

**

Jika pekerjaan maknanya adalah melamar ke perusahaan, mungkin jalan yang akan kita lihat dalam waktu dekat (near future) memang masih tentang ijazah. Ijazah memainkan peran penting, tetapi portofolio akan menjadi nilai tambah yang semakin diperhitungkan.

Tapi kalau berbicara tentang profesi-profesi mandiri (yang menjadi ciri era teknologi/informasi) dan profesi masa depan, portofolio dan kemampuan menghasilkan output menjadi sebuah hal yang tak bisa ditawar lagi. Portofolio memiliki nilai yang lebih daripada ijazah; apalagi ijazah yang hanya sekedar formalitas.

Tak diragukan.

Rabu, 26 Januari 2011

Belajar membuat burger di Wendy's

Hari ini, tanggal 26 Januari, anak anak mengikuti kegiatan tematik yang diadakan lembaga kursus Bahasa Inggrisnya One Learning Centre (OLC), tempat Syamil dan Ninis les bahasa inggris. Oleh OLC Anak anak diajak mengunjungi salah satu gerai fastfood di Lippo Karawaci yang menjual makanan sejenis burger, fried chicken, dll. Kegiatan disana meliputi tour kitchen dan how to making wendy’s burger.

Setelah mendapatkan pengarahan panitia dari pihak Wendys dan OLC, anak-anak, secara bergiliran masuk ke dapur untuk melihat-lihat proses penyimpanan dan pembuatan makanan. Menurut anak-anak, didapur mereka melihat peralatan memasak yang besar-besar. Kemudian melihat lemari pendingin tempat penyimpanan makanan. Mereka juga melihat proses membuat roti bun, cara memasak daging burger dan bahan pelengkap lainnya.

Setelah itu anak-anak belajar membuat burger sendiri, mereka masing-masing diberi jatah satu buah bun atau roti bulat yang sudah dialasi oleh wrap paper, kemudian anak-anak diberi petunjuk cara membuatnya mulai dari mengoles mayonnaise, tomato sauce, mustard dan diberi 2 buah pickle atau acar mentimun, onion atau bawang Bombay, irisan tomat dan kemudian diberi irisan daging burger dan terakhir lembaran keju. Setelah selesai, anak-anak dapat menikmati burger buatannya sendiri.























Syamil dan Ninis senang sekali, meski mereka juga pernah membuat burger sendiri dirumah, namun pengalaman membuatnya bersama-sama teman-temannya, tentu rasanya berbeda. Ninis sampai melahap habis burger buatannya. Syamil yang tidak terlalu suka burger juga akhirnya melahapnya meski ada sedikit tersisa karena kekenyangan katanya. Usai acara, anak-anak dibagikan kenang-kenangan berupa lunch box dari Wendy’s. Mereka senang sekali hari ini, ditambah lagi sehabis acara ini kita akan menonton film Yogi Bear. Yess makin lengkap deh senangnya……

Senin, 24 Januari 2011

Belajar konsep uang

Syamil dan Ninis sudah terbiasa diberi uang jajan dan mengerti bahwa 1000 itu recehan dan 50.000 atau 100.000 adalah uang yang nilainya cukup besar. Syamil sendiri ketika masih sekolah dulu, biasa saya beri uang saku Rp.3000-Rp.5000 perhari. Sedang Ninis paling besar hanya Rp.2000. Kini setelah Homeschooling, uang jajan tersebut masih berlaku namun diberikan setelah menjalankan kewajibannya terlebih dahulu.

Syamil ketika masih sekolah seringkali  menghabiskan uang jajannya untuk mainan atau jajanan yang tidak jelas, kini mulai belajar menabung. Meski tabungannya hanya ‘kuat’ beberapa hari saja lalu dengan cepat dibelikan mainan lagi, tapi nggak masalah, Toh itu haknya kan. Sedangkan Ninis sepertinya memang  belum tertarik minta uang jajan tiap hari.

Aku memang sudah membiasakan kepada anak-anak untuk mengenal nilai uang dan nilai suatu benda. Dari mulai ribuan, ratusan ribu hingga jutaan. Jadi mereka misalnya mengerti nilai harga sepatunya atau tasnya sendiri termasuk murah atau mahal. Atau mereka juga mengerti ketika saya meminta mereka untuk berbelanja ke warung depan rumah membeli suatu barang dengan uang yang nilainya cukup besar berarti harus ada kembaliannya, meski belum mengerti jumlahnya secara detail.

Pada Syamil, saya hanya memberi pelajaran penjumlahan, pengurangan dan kelipatan. Karena syamil kebetulan bertanya apasih maksudnya “dua kali lipat” itu (dalam konsep uang)?. Tidak sulit menjelaskannya karena kami belajar langsung dengan menggunakan uang koin dan kertas agar lebih kongkrit. Nanti setelah paham betul barulah aku nanti memberinya soal-soal yang sifatnya abstrak atau sekedar deretan angka2 dibuku latihannya.

Jadi santai sajalah…yang terpenting dari ini semua, belajar konsep uang bukan hanya belajar nilai suatu mata uang, tapi juga belajar menghargai dan mempergunakan uang dengan bijaksana dan tentunya mendapatkannya juga harus dengan cara yang halal dan diridhoi Allah. Agar kelak Anak-anakku bisa menjadi manusia yang berahlak yang meski berharta namun tidak lupa untuk selalu beramal dengan hartanya. Karena menyadari harta dunia adalah hanya titipan Nya semata. Amien……

Belajar arah mata angin

Sehabis shalat maghrib sore tadi, saya iseng-iseng bercerita pada Syamil mengenai arah kiblat yang mengarah ke barat menurut arah mata angin. Saya kemudian mencoba mengetes pengetahuannya tentang arah mata angin yang pernah dipelajarinya disekolah di semester ganjil kemarin, hasilnya....blablass angine.. eh ilmunya,eh nggak ngerti sama sekali. Padahal gurunya pernah memberi tugas menggambar empat penjuru mata angin seperti kompas, lalu dilaminating segala.

Nah kalo begitu aku coba memberi tahunya lagi sambil mempraktekkan gerakan-gerakan tangan, hadap kanan-kiri berulang ulang. Patokan yang saya gunakan yaitu arah kiblat biar mudah diingat, Jadi bila kiblat didepan berarti barat, dibelakang berarti timur, sebelah kanan utara, sebelah kiri selatan. Aku contohkan sambil menggerakan tangan kedepan, belakang kanan dan kiri. Menghadap kanan kiri dan belakang. 

Kemudian aku jadikan tebak-tebakan seru, misalnya bila kamu menghadap utara sebelah kirimu berarti arah…..barat!!!! Syamil dan Ninis berebut menjawab sambil tertawa-tawa…. Wah ternyata mengajari sambil bercanda itu lebih efektif dan menyenangkan yaa…anak-anak juga tidak terasa bertambah ilmunya.

Belajar membuat coklat

      Setelah bulan Desember yang lalu anak-anak membuat kue sus, yang meski enak namun tidak layak dijual, alhasil kuenya jadi di konsumsi sendiri. Nah bulan januari ini, aku dan anak-anak mencoba membuat coklat praline dan lollipop. Resepnya saya dapat dari tutorial membuat coklat di YouTube, sangat mudah untuk dibuat bahkan bagi anak-anak sekalipun. Namun memang masih harus dibimbing, karena namanya memasak yah… tetap saja beresiko karena harus bekerja bersentuhan dengan yang panas-panas alias api kompor. Jadi tetap riskan dan butuh pengarahan. 
   Syamil dan ninis sejak awal antusias sekali, bahkan Ninis minta ikut ke toko kue untuk membeli bahan-bahan adonan dan memilih cetakan jenis dan coklat yang akan digunakan.
   Bahan-bahan yang digunakan adalah coklat blok coumpond, berbagai jenis yaitu coklat, susu, strawberry dan melon. Cetakan praline dan lolipop, stik lollipop, pipping bag, selai blueberry, kismis. Mangkuk kertas dan plastic pembungkus.

    Cara membuatnya : Lelehkan coklat diatas panci yang berisi air panas, setelah meleleh, tuang diatas cetakan dengan menggunakan pippping bag agar tidak berantakan. Tuang sedikit dahulu, masukan ke lemari es agar cepat beku 5 menit, kemudian diberi filling selai blueberry atau kismis dan tuang coklat sisanya sampai penuh. Segera masukan ke lemari es agar memberi kesan mengkilap. Diamkan 5 menit. Keluarkan dari cetakan, kemas dengan mangkuk khusus coklat, lalu bungkus dengan plastik. Siap deh di jual..eh dimakan dulu deh. Hehehe. Untuk pembuatan lollipop, ngga terlalu berbeda, Cuma ngga dikasih filling saja namun di beri stik, bentuknya lucu-lucu dan bisa dikreasikan berwarna-warni. Cuma bagi pemula seperti saya dan anak-anak butuh latihan supaya hasilnya bagus dan rapih. Tapi lumayanlah masih pantes kok dijual.


                                                             

                 Ninis dan coklat

    Ninis sukaaaa banget coklat buatannya, sampai habis 5 buah coklat. Syamil yang sebenarnya ga suka coklat jadi suka juga, katanya buatan sendiri rasanya lebih enak sih.. nah besok mulai jualan ah, mungkin juga sebagian coklat akan dititipkan ke warung depan. Harganya ngga mahal-mahal karena aku bukan cari untung cuma Rp.1500 untuk praline dan Rp.2000 untuk lollipop. Tapi mudah-mudahan hal sederhana ini bisa menjadi pengalaman buat anak-anak dalam mengajarinya berkreasi dan sekaligus mengasah jiwa wirausahanya sejak dini.

Kamis, 20 Januari 2011

Anak Homeschooling Tidak Bisa Bersaing?

Anak homeschooling tidak terbiasa bersaing, dan ketiadaan pesaing (teman-teman sekelas yang harus dikalahkan) akan menjadikan mereka orang-orang lemah.

Benarkah itu?

Kenyataannya, di Amerika Serikat, kompetisi mengeja Spelling Bee seringkali dimenangkan oleh anak homeschooling, begitu pula berbagai kompetisi robotik, kompetisi matematika nasional, Geography Bee, dan banyak lagi. Termasuk kompetisi sains NASA (lihat artikel Rumah Inspirasi). Anak homeschooling diterima masuk ke universitas bergengsi seperti Stanford, Yale, Harvard, dan lain-lain dengan menerima beasiswa. Menjadi anak homeschooling bukan berarti tidak bisa bersaing.
Anak-anak homeschooling bersaing dalam bidang-bidang yang menjadi kekuatan mereka. Dan karena tidak perlu membuang waktu untuk tetek bengek lain, mereka bisa lebih bisa memfokuskan upaya dan kekuatannya untuk menang dalam persaingan yang mereka pilih itu. Dalam urusan persaingan, anak homeschooling jelas berada pada posisi yang lebih menguntungkan.
Motivasi untuk berjuang bagi anak homeschooling tidak datang dari kompetisi, melainkan dari hasrat dan semangat dalam diri mereka sendiri. Kenyataannya banyak anak homeschooling yang belajar pada tingkat 2-3 tahun di atas anak-anak seumur (bahkan lebih dari itu). Ini berkat pengajaran satu-lawan-satu yang terbukti efektif, penghargaan pada minat dan bakat anak itu sendiri, dan fleksibilitas dalam homeschooling.

by. Andini Rizky (Homeschooling Indonesia)

Merubah paradigma pendidikan

Article by Sumardiono (Rumah inspirasi.com)

Tak dapat dipungkiri, pendidikan telah berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia. Tetapi, ada problem besar di dalam sistem pendidikan kita. Itulah sebabnya, sebagian besar pemerintah melakukan reformasi pendidikan umum (public education).
Alasan untuk reformasi pendidikan itu yang pertama karena alasan ekonomi, untuk mengantarkan anak-anak agar dapat selaras dengan perekonomian abad 21, yang terus berevolusi dengan cepat dan semakin sulit diprediksi. Alasan kedua adalah karena faktor budaya, bagaimana tetap mempertahankan identitas budaya lokal di tengah terpaan globalisasi yang sangat dahsyat.
Di dalam model yang selama ini berjalan, dengan pendidikan anak-anak bekerja keras, lulus & mendapatkan ijazah, kemudian bekerja. Problemnya, anak-anak sekarang tidak terlalu percaya dengan rumus itu. Kelulusan dan ijazah tak menjamin pekerjaan.
Sir Ken Robinson, salah satu tokoh pendidikan dan penulis buku “The Element”, menyatakan bahwa salah satu sebab yang paling mendasar adalah karena sistem pendidikan yang berjalan saat ini dirancang dengan asumsi-asumsi pada masa lalu, yang tak lagi sesuai dengan kondisi saat ini.
Sistem pendidikan saat ini dirancang dalam kultur intelektual abad pencerahan dan sistem ekonomi yang dihasilkan oleh revolusi industri (sekitar abad 18). Pada saat itu, sistem pendidikan umum menjadi hal yang revolusioner karena sebelumnya belum pernah ada sistem pendidikan yang massal untuk masyarakat. Sistem baru ini dibayar dengan uang pajak, wajib bagi semua orang, dan disampaikan dengan gratis sehingga bisa menjangkau banyak orang.
**
Sistem pendidikan umum sangat menekankan pada kemampuan akademis, sehingga secara natural kemudian membagi manusia menjadi dua kategori: akademis dan non-akademis, orang cerdas dan kurang cerdas. Dan semuanya diukur dengan ukuran akademis. Akibatnya, banyak orang2 yang sebenarnya hebat, tetapi mereka merasa gagal karena mereka berbeda dari standar “kehebatan” yang ditentukan sistem pendidikan.
Sistem pendidikan ini dijalankan dengan model pabrik seperti pada revolusi industri. Proses dibagi dalam bagian yg terpisah (mata pelajaran), pendidikan dijalankan dalam sistem urutan/batch (kelas), dan outputnya adalah produk yang seragam, yang ditandai dengan waktu produksi (tahun kelulusan).
Nilai-nilai utama dari model ini adalah kesamaan (conformity) dan standardisasi. Itulah model seperti pabrik di abad pertengahan.
**
Menurut Sir Ken Robinson, model pendidikan yang sekarang ada tak mencukupi kebutuhan zaman. Kita membutuhkan transformasi paradigma tentang pendidikan untuk masa kini, sebab zaman kita berbeda dari zaman pertengahan.
Anak-anak yang besar masa kini adalah anak-anak digital. Mereka lahir dan tumbuh dengan barang digital dan multimedia yang ada di sekitar mereka, TV, papan reklame, VCD/DVD, Internet, gadget, yang membuat mereka sangat terekpos dengan multi-stimulan (otak, mata, telinga, animasi, fisik). Itu membuat sulit fokus dengan model pendidikan yang dijalankan dengan sistem tradisional di kelas yang cenderung membosankan bagi mereka. Jadi, sangat dimungkinkan anak2 digital ini akan dinilai sebagai penyandang ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) karena mereka sulit untuk memfokuskan diri pada model pengajaran yang membosankan di kelas.
Paradigma pendidikan baru harus menekankan pada “divergent thinking”, kapasitas untuk melakukan hal-hal kreatif. Divergent thinking meliputi kemampuan untuk melihat banyak kemungkinan jawaban untuk sebuah masalah tertentu, melihat banyak tafsir dan pemahaman atas sebuah pertanyaan, untuk berfikir literal (tak hanya liner dan konvergen), melihat banyak solusi tak hanya satu solusi.
Dalam sistem yang ada saat ini, kemampuan berfikir divergen itu tak berkembang pada anak. Bahkan, kemampuan divergen itu semakin turun seiring peningkatan usia dan tingkat pendidikan seseorang. Ketika anak semakin terdidik, jawaban itu semakin mengerucut pada hanya ada satu jawaban yang benar.
**
Tulisan di atas adalah ringkasan dan pemaknaan bebas dari presentasi Sir Ken Robinson tentang perubahan paradigma pendidikan.

Selasa, 18 Januari 2011

I'm not smarter than a 5th grader

Menonton salah satu kuis buatan televisi Amerika yang bertajuk "Are you smarter than a fifth grader", lucu juga. Disana orang-orang dewasa diadu dengan anak kelas lima yang diberikan pertanyaan2 dari pelajaran  SD. Tapi ternyata banyak orang dewasa yang kelimpungan menjawabnya, Alasannya pastilah sudah banyak  lupa!!. Tidak sedikit akhirnya peserta dewasa yang dengan legowo (atau pura-pura) mengakui bahwa dirinya tidak lebih pintar dari anak kelas lima SD. Ya iyalaaah.. soalnya dulu waktu masih SD andalannya cuma menghapal dan sekedar tahu tanpa memahami materi ilmu yang tengah dipelajari. Itu juga di intensifkan waktu mau ulangan atau mendekati ujian. hal itu tentu terus menerus berkelanjutan hingga jenjang SMP dan SMA bahkan ada juga lho yang sampai kuliah. Jangankan soal SD, ditanya soal2 materi pelajaran SMA saja pasti banyak yang langsung amnesia. hihi soalnya ceritanya aku juga gitu tuh...Lol.

Kalau sedang menemani anak sulungku yang kelas 3 saja, kadang aku juga dihadapkan oleh pertanyaan kritisnya yang membuat aku harus mengerutkan kening, contohnya ketika ia bertanya mengapa manusia itu harus punya emosi?, kenapa kalo capek bisa keluar keringat?,  apakah benar manusia itu dulunya kera ? kenapa sabun bisa menghilangkan minyak dan kotoran? nah lho...belum lagi waktu anakku yang kelas 1 SD bertanya tentang mengapa darah yang kering tidak lagi berwarna merah tapi coklat?, trus kenapa kecoa ga punya darah?, kenapa paus dan lumba2 kok tidak bisa disebut ikan tapi mamalia tapi bentuknya sama dengan ikan? banyak pertanyaan lainnya yang membuat saya memeras otak untuk mengingat jawabannya atau aku yang kelewat bloon atau mungkin juga memang ngga pernah diajarkan ya?. Tau ah bingung..ya udah satu-satunya yang bisa cepat kasih jawaban ya mbah google, untuk menghindari jawaban tolol "emang dari sononya gitu kali" hehehe...


Kesimpulannya adalah, banyak pelajaran yang aku pelajari di sekolah dulu udah menguap entah kemana, apalagi pelajaran matematika tentang sinus, cosinus, tangen, kemudian pelajaran kimia, fisika, biologi, bahasa daerah, stenografi.... ahhh. mestinya sih ga perlu gitu-gitu amat yah. kalo mau ngeles sih aku bilang gurunya ga banget ngajarnya, bosen, ngga berkesan dan ngga menarik. mendingan nongkrong di kantin atau ngobrol sama teman sebangku asal ga ketahuan guru. hehehe

Nah belajar intensifnya waktu mau ujian deh, sebulan mau ujian biasanya di drill sampe "ngelotok" siang malam, sampai "maaf"  ke WC pun saya bawa tuh buku, Ihhh xixixi. Trus sampe bela-belain bangun jam 3 pagi buat belajar. Selesai ujian, hapalannya mau lupa juga bodo amat ah, yang penting soal-soal ujian kujawab dengan baik, dan nilai raport tetap aman terkendali. Nah pas liburan, apalagi yang libur panjaang seperti libur lebaran, wah itu sih masa-masa  indah, karena aku ga perlu kesekolah dan jangan harap deh aku nyentuh buku pelajaran, alergi mendadak..Lol. Praktis pas masuk  sekolah lagi otak bener-bener fresh plus kosong melompong, kan  tinggal nunggu di isi ulang ama guru  hehe. Begitu terus deh, siklusnya sepanjang tahun-tahun aku bersekolah. eh ini aku aja yang kayak gini, apa hampir semua anak sekolah mengalami kayak aku yaa?....

Hal yang berkesan buat aku selama bersekolah hanya kegiatan esktrakurikuler yang pernah aku ikuti dulu misalnya pernah gabung dengan tim bola voli SD, gabung di band SMP sebagai vokalis (gini-gini pernah menang pop singer meski tingkat kecamatan), aktif di pengajian sekolah SMA. That's it.. and the rest? who care, it's forgetable. Makanya kalo saja aku ikutan kuis itu? aku mungkin akan mengakui I'm not smarter than a fifth grader...ih malu ah


Note : aku ga mau anakku kayak aku, yang hanya sekedar melewati masa belajar disekolah  namun tanpa bisa menikmatinya, That's why I choose homeschooling for my children...mengenai kegiatan berorganisasi bisa cari diluar sekolah banyak kok..

Senin, 17 Januari 2011

Homeschooling jadi bisnis?, jangan ah....

Orangtua homeschooling benar-benar membekali sendiri ilmu untuk anaknya, bukan sekedar dititipkan pada lembaga sekolah yang belum tentu menjamin kesuksesan masa depannya. Kalo ada yang bilang sekolah aja belum tentu sukses, gimana yang homeschooling? Hmmm…. tapi gimana bila logikanya dibalik, kalo sekolah aja belum tentu sukses kenapa nggak homeschooling aja? Karena homeschooling bisa lebih fokus pada minat anak untuk mengembangkan life skillnya. Costumized, disesuaikan dengan kondisi, minat, bakat dan cita-citanya.

Kebayang nggak, misalnya kita memakai pakaian yang kita pesan di tukang jahit profesional dibandingkan dengan membeli pakaian jadi hasil jahitan massal. Hasil jahitan yang dipesan khusus akan lebih enak dan pas dipakai dibadan kita kan? karena ukurannya disesuaikan dengan ukuran tubuh kita, begitu pula dengan design, motif dan kualitas bahan juga sesuai dengan yang kita inginkan. Sedangkan pakaian yang diproduksi massal, ada saja yang ngga pas, entah tangannya kepanjangan, lingkar dada terlalu sempit, motif kurang sreg, design yang ga banget, bahkan bahan yang kurang nyaman. Meski demikian baju yang dipesan khusus memang bisa lebih mahal tapi tidak mustahil bahkan jauh lebih murah. Begitu juga homeschooling bisa jadi mahal tapi juga bisa dibikin murah, tergantung masing-masing orangtua memaknai proses belajar itu sendiri.


Ada juga orang tua yang lebih nyaman bergabung dengan komunitas homeschooling yang mulai marak di Indonesia khususnya kota2 besar, tentunya komunitas HS yang biasanya berbentuk lembaga tersebut mematok biaya yang bervariasi, namun pada umumnya cukup mahal bahkan ada yang menguras kantong tiap bulannya. Bayangkan dari uang pangkal yang jumlahnya jutaan ditambah iuran bulanan yang jumlahnya ratusan ribu. Bahkan ada lembaga yang mengatasnamakan homeschooling tapi muridnya menggunakan seragam dan gedung sekolah, nah lho….apa bedanya dengan sekolah umum kalo begitu?.


Homeschooling kini memang mulai menjadi tren dan menjadi bisnis nan rancak, (kata orang padang). Lucunya, kalo bisa dibilang begitu, homeschooling sampai dijadikan franchise bisnis segala. Ada sih yang setuju, sah-sah aja kok. Tapi sepertinya bagi para praktisi homeschooling sejati, fenomena itu dianggap sangat menyedihkan, karena homeschooling jadi terasa kehilangan makna. Tidak heran banyak orang yang tidak paham homeschooling akan mengganggap homeschooling itu mahal dan hanya untuk kalangan tertentu. Bahkan banyak yang salah paham dengan banyaknya mitos2 menyesatkan mengenai homeschooler yang terkesan negatif dan memojokan.

Tapi sudahlah, kenyataannya banyak kesalahpahaman itu tidak terbukti, masalah bisnis? Ah biarlah, itu urusan mereka yang kurang percaya diri dan terlalu khawatir dengan legalitas HS. Makanya bisnis homeschooling jadi trend. Coba kalo mereka lebih percaya kemampuan diri dan anak , percaya pada legalitas HS dan tidak perlu takut hidup dengan semata-mata mengandalkan selembar ijazah, kita tidak perlu lembaga2 itu.
So parents….lets get costumize learning for our children!!! go homeschool..

Belajar terbiasa dengan homeschooling (I’ll get used to it, no regret)

Sudah hampir satu bulan aku menjalani homeschooling bersama anak-anak. Lumayan berat dan cukup melelahkan banget. Tapi sama sekali tidak menyesal karena anak-anak juga sejauh ini happy2  aja. Dipikir-pikir dulu sebelum anak-anak homeschooling, kegiatan aku sehari-hari yang rutin adalah menyiapkan anak-anak dan mengantar jemput anak sekolah.

Waktu anak sibuk disekolah ada jeda waktu sekitar 5 jam lebih, biasanya waktu tersebut aku gunakan untuk sarapan sambil ngopi, browsing, trus beres-beres rumah deh, nikmaaaat banget rasanya, rumah sepiiii…. tanpa anak-anak yang berisik dan suka mondar-mandir hingga rumah yang sedang dibereskan tidak kunjung selesai. Atau saat mengantar  anak ke sekolah aku kadang nongkrong di sana sambil ngobrol ngalor ngidul yang kebanyakan ga penting bahkan menjurus ngegosip. Saat ini praktis aku kehilangan masa-masa itu, kangen? Ah nggak tuh!!! Sumpah….

Pada dasarnya aku memang orang rumahan, lebih senang berada dirumah daripada kongkow2 ga jelas. Malah terus terang aku agak muak dengan sosialisasi ibu-ibu yang suka nongkrong menunggu anak-anak selesai sekolah. Bayangkan menunggu dari pukul 7 hingga tengah hari bukanlah waktu yang pendek . konon biasanya para ibu2 menunggu nak-anaknya sambil arisan, kongkow di salon, ngegosip di kantin atau bahkan ada yang jalan ke Mall. Penampilan mereka juga ngga seperti orang yang sekedar ngantar anak kesekolah tapi rapi jali seperti mau jalan ke mall. Maklumlah aku memang menyekolahkan anakku di sekolah yang tergolong favorit di kota ini. Ga heran yang bersekolah disini banyak dari mereka yang dari kalangan berada.

Sekarang aku praktis menghabiskan waktuku hampir 24 jam bersama anak-anak, kecuali hari-hari tertentu dimana anak-anak harus les,dan latihan. Rumah hampir tidak pernah terlihat rapih, belajar, dan beraktivitas bersama anak-anak sepanjang hari. Aku selalu ada ketika mereka membutuhkan aku,  kini bertambah lagi pekerjaan muliaku sebagai ibu yang mengabdikan jiwa,raga dan pikiranku untuk anak-anakku, untuk keluargaku. Kini harus lebih bertanggung jawab terhadap masa depan mereka. Bila ada pepatah  yang mengatakan bahwa membekali anak dengan  ilmu adalah lebih berharga dibanding harta, sesungguhnya hal itu selaras dengan semangat homeschooling bukan?.

Ngga apa-apa nak nanti juga ummi terbiasa, we’ll get used to it, we’ll get through it together……..with the homeschool spirit. I’m sure Allah help us…amien

Minggu, 16 Januari 2011

20 karakteristik anak homeschooling


Gambar diatas adalah contoh beberapa selebriti luar yang juga homechooler

Dari pengamatan seorang guru sekolah di blog The Innovative Educator tentang lulusan homeschooling yang dijumpainya. Aku membuat beberapa perubahan dalam terjemahan ini berdasarkan diskusi pada komentar blog tersebut.
  1. Mereka bahagia. 
  2. Mereka cinta belajar.
  3. Mereka didorong oleh minat.
  4. Mereka ingin orang-orang tahu bahwa sekolah bukan tempat terbaik untuk belajar cara bersosialisasi.
  5. Mereka memiliki karier yang mereka nikmati.
  6. Mereka artistik.
  7. Mereka kreatif.
  8. Mereka prihatin dan punya ketertarikan pada masalah lingkungan. 
  9. Mereka berpikir belajar di dunia nyata lebih otentik dan berharga daripada di dunia sekolah.
  10. Mereka berasal dari segala ras, bangsa, agama, dan status sosial.
  11. Mereka betul-betul mempertimbangkan/berpikir dulu apakah kuliah betul-betul pilihan terbaik untuk mereka, dan bukannya keniscayaan.
  12. Mereka tidak kesulitan masuk kuliah, dan banyak yang sudah kuliah sebelum usia 18. 
  13. Mereka menghargai beberapa aspek sekolah pada universitas, kalau mereka memutuskan untuk kuliah. 
  14. Mereka memperjuangkan diri mereka sendiri dan  hak mengatur kurikulum yang bermutu untuk dirinya sendiri di universitas. 
  15. Mereka secara khusus sangat bermotivasi, bersemangat, dan cerdas, dan senang disebut demikian, tetapi mereka merasa mereka tidak istimewa. Homeschooling/unschooling memberdayakan mereka menjadi seperti itu. 
  16. Mereka tidak memedulikan anggapan bahwa mereka tidak bisa berfungsi di dunia nyata. Tidak seperti berfungsi di dunia sekolah, belajar di dunia nyata telah mempersiapkan mereka untuk berfungsi di dunia nyata.
  17. Mereka tidak mengharapkan belajar hanya dari orangtua, orang dewasa, otoritas, atau guru. Mereka tahu bagaimana secara mandiri mengambil bahan dari banyak sumber daya untuk belajar dan penemuan. Orang dewasa hanyalah satu sumber. 
  18. Mereka sering membela diri dari kenyataan mereka di-homeschooling-kan, tetapi tahu bahwa kalau kamu tahu yang sebenarnya, kamu akan iri. 
  19. Mereka suka bertualang. Bagi sebagian, itu artinya petualangan lokal (dalam satu negara), dan bagi yang lainnya, petualangan dunia (luar negeri). 
  20. Mereka secara umum bersyukur bahwa mereka homeschooling/unschooling.
 (note : article by homeschooling-indonesia.com)

Sabtu, 15 Januari 2011

Belajar matematika dengan IXL Math

Matematika biasanya adalah pelajaran yang paling tidak disukai dan ditakuti anak sekolah. Alasannya klisenya karena sulit dan bikin kepala nyut-nyutan, apalagi kalo guru yang mengajarnya killer atau tidak mampu transfer of learning alias ga becus ngajarnya, jadilah tambah alergi karena susah buat ngerti. Apalagi buat murid yang otaknya pas-pasan atau yang memang ga berbakat sama pelajaran eksakta.  Saya sendiri termasuk orang yang sangat anti dengan pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka. Padahal matematika itu sangat penting dan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita.

Karena itu saya ingin anak-anak saya menyukai matematika dan Homeschooling adalah  metode yang sangatlah tepat buat menghilangkan ke 'angkeran' matematika buat anak-anak. Untuk belajar matematika biasanyasaya menggunakan metode tematik sambil praktek, misalnya menghitung uang dengan menyuruhnya ke warung membeli sesuatu lalu menghitung harga barang dan uang kembalian, belajar tentang  jenis2 alat ukur dengan langsung menimbang badan masing2 lalu mencari selisihnya, menimbang adonan kue, mengukur panjang dengan cara mengukur panjang meja, luas kamar dan cara2 lainnya.

Selain tematik praktis, untuk mendukung belajar anak-anak saya juga berlangganan IXL Math melalui internet. Yaitu cara belajar matematika berupa latihan2 soal2 matematika berbahasa inggris yang sangat menarik sesuai dengan tingkatan kelas dan kemampuan anak. Belajar cara seperti ini rupanya sangat disukai Syamil dan Ninis, bahkan mereka sampai pernah rebutan komputer, hehehe aneh menurut saya....matematika gitu lho.. kok rebutan. Tapi saya senang saya telah berhasil menghilangkan potensi alergi yang sifatnya herediter terhadap matematika kepada anak-anak saya.

Dalam seminggu saja anak-anak sudah mampu menyelesaikan lebih dari 100 soal matematika berbahasa inggris itu, tentu belajarnya saya dampingi karena ternyata banyak juga istilah matematika berbahasa inggris yang saya saja baru ngeh, jadinya juga saya ikut belajar dan jadi ikut-ikutan senang sama matematika. semangat homeschooling lagi-lagi memberikan banyak hal positif bagi cara kami memaknai belajar keluarga kami

Ninis belajar bahasa inggris Online

Ninis sangat menyukai bahasa inggris, sejak berusia 4 tahun saya masukan Ninis ke tempat kursus bahasa inggris bersama-sama Syamil. senang sekali melihat semangatnya berangkat kursus dan kecepatannya menguasai banyak kosa kata dari nama-nama binatang, warna, bagian tubuh, numbers dan lain-lain dengan baik. Bahkan miss Vivin guru lesnya sering memuji kalau Ninis berbakat dalam bahasa inggris.

Tidak terasa hampir dua tahun Ninis kursus dan tampaknya mulai bosan dan malas-malasan, bukan bosan dengan bahasa inggrisnya tapi ternyata Ninis kurang suka dengan gurunya yang sekarang. yang menurutnya suka memarahinya, bila Ninis menulis agak lambat. Memang Ninis dalam menulis agak cenderung lebih lama dibanding teman-temannya. puncaknya ketika ujian kenaikan level 4, Ninis pulangnya cemberut dan hampir menangis karena pekerjaannya belum selesai. Saya tentu tidak akan memaksanya tetap kursus bila dia sudah tidak nyaman belajarnya.

Akhirnya saya pikir tidak ada salahnya untuk merubah cara belajar bahasa inggrisnya dengan cara Online. Apalagi Ninis sudah sangat terampil mengoperasikan komputer dan internet. Saya menggunakan Razkids a-z karena saya melihat cara belajarnya yang interaktif dengan suara native speaker, dan setiap kamis pagi sepekan sekali dilakukan voice chat dengan tutornya. Ninis senang sekali belajar dengan cara online, Kakaknya Syamil sampai iri ingin ikutan juga.

Tahapan belajarnya adalah dengan mendengar dengan headset, membaca dengan dibantu microphone untuk merekam suaranya, dan menjawab kuis dengan pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan tadi. Belajar bisa bagaimana saja caranya, apalagi teknologi sudah maju tentu kita harus memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk belajar. Tentunya keuntungannya bukan hanya jadi pintar berbahasa inggris tapi juga semakin melek teknologi sejak dini.

Rabu, 05 Januari 2011

Homeschooling membuatku melek teknologi

Teknologi saat ini kemajuannya sangat cepat terutama teknologi informasi dengan maraknya pemakai internet dari mulai warnet-warnet dan penjualan smartphone yang laris manis. Adanya jejaring sosial didunia maya sampai dengan tragedi bocornya video porno artis juga tak bisa dilepaskan dari teknologi yang satu ini. Memang teknologi yang semakin canggih seperti pisau bermata dua yang disatu sisi bisa sangat membantu dan bermanfaat bagi kehidupan, sedangkan disisi yang lain juga bisa disalahgunakan untuk hal yang negatif. Tapi saya hanya ingin mengungkap sisi positif dari teknologi informasi ini khususnya dalam membantu kelancaran kegiatan homeschooling yang kami jalani.

Bagi anak-anak tentu internet sangat penting bagi pencarian informasi dan eksplorasi terhadap satu issue yang ingin diketahui, selain itu banyak open source yang bisa dimanfaatkan oleh anak-anak guna berlatih berbagai jenis kecakapan, dari bahasa inggris sampai belajar memasak. Bagi orangtua homeschooling bisa banyak mendapat berbagai informasi tentang artikel-artikel penunjang homeschooling anak-anaknya, hingga komunikasi sesama praktisi yang bergabung dalam jaringan komunitas homeschooling di milis Sekolah Rumah. Saya sendiri sangat terbantu dengan bergabung di milis ini karena banyak informasi dan sharing sesama anggota yang membuat saya merasa tidak menjadi "Alien" diantara mayoritas orangtua lain karena tidak menyekolahkan anak-anak saya.

Dalam proses perjalanan belajar anak-anaknya berhomeschooling biasanya orangtua memiliki blog untuk mencatat atau mendokumentasikan setiap aktivitas belajar sebagai portfolio atau hasil belajar anak-anaknya. Hal ini menjadi suatu tanggung jawab dan salah satu komitmen orangtua HSers agar proses pembelajaran dapat terdokumentasi dengan baik sebagai bukti bahwa anak-anak HS memang benar-benar dan sungguh-sungguh belajar. Hal ini dikarenakan  para  orangtua HS sangat menyadari bahwa membimbing anak-anak dalam HS adalah tanggungjawab mereka sepenuhnya.

Oleh karena itu saya merasa harus sangat berterimakasih kepada Allah karena telah mengenal homeschooling dan kini telah menjadi salah satu praktisinya. Meskipun homeschooling sudah mulai populer namun di Indonesia tetaplah masih rintisan karena mayoritas banyak yang belum mengerti benar dan banyaknya salah kaprah tentang homeschooling. makanya saya terkadang sering lebih baik tutup telinga dan tidak mau berdebat dengan orang yang belum-belum sudah anti dan berprasangka buruk dengan HS.

Berkat homeschooling lah kini disela waktu saya mengurusi urusan rumah tangga dan usaha salon kecantikan, waktu luang saya dihabiskan  untuk membuat perencanaan pembelajaran, worksheet dan membuat artikel di blog, yang saya dedikasikan untuk kepentingan belajar keluarga dan khususnya mencatat seluruh kegiatan belajar anak-anak sebagai port folio mereka. Mereka bangga, bahwa hasil belajarnya 'terdokumentasikan' bukan dengan sekedar deretan angka raport yang bisa saja dimanipulasi, namun dalam bentuk laporan, artikel, foto dan bahkan mungkin video, jadi hasilnya terasa nyata.

Akhirnya, saya ibunya yang lebih banyak menghabiskan waktu belajar bersama mereka, jadi lebih bersemangat lagi untuk kembali belajar apa saja,  dari mulai pelajaran sekolah, parenting, design grafis sampai nulis di blog. Jadi biarin  ibu-ibu gini, taunya ga cuma gosip artis dan facebookan doang. hehehe

Senin, 03 Januari 2011

Belajar membuat kue

Saya punya rencana kegiatan untuk anak-anak yang sifatnya rutin diadakan setiap bulan yaitu belajar menjadi enterpreneur. Ceritanya anak-anak akan ditugaskan untuk membuat sesuatu, bisa apa saja, bisa makanan atau mainan lalu hasilnya dijual. Nah kali ini untuk memulai hal itu saya dan anak-anak mencoba belajar  membuat kue sus, anak-anak saya libatkan dari menimbang terigu, mengaduk adonan, memasukkan telur hingga mengoles margarine ke loyang.

Cara membuatnya sangat mudah hingga tidak memerlukan waktu lama. Saat proses pembuatannya anak-anak juga sekalian bisa belajar matematika tentang ukuran berat (gram) saat menimbang tepung, dan volume (liter) saat mengukur besarnya susu cair yang akan digunakan dalam adonan.

Tapi....saat kue sudah jadi, ternyata tidak sesuai rencana nih, sebagian kue bantet alias kempes, hiks,...... berantakan deh rencana mau jualan karena kuenya tidak layak untuk dijual. ooh......ternyata ada kesalahan teknis, telur yang digunakan masih dingin karena baru dikeluarkan dari lemari es. Saya lupa kalau seharusnya telurnya didiamkan dahulu pada suhu kamar, barulah boleh digunakan untuk adonan. Tapi nggak apa-apa deh meski anak-anak sempat kecewa, lain waktu kita akan buat lagi kue yang lebih enak dan tentunya lebih teliti supaya hasilnya tidak gagal lagi. Meski demikian kuenya masih bisa dimakan kok, masih uenak he.hehe


Belajar tentang tumbuhan


Setelah mempelajari perkembangbiakan tumbuh-tumbuhan dengan mengerjakan work sheet sains yang saya buat untuk syamil, akhirnya saya mencoba mempraktekannya bersama anak-anak dengan belajar menanam bersama. saya memperlihatkan cara berkembangbiakan tumbuhan dengan cara alami dan buatan dengan cara tunas dan stek.


Syamil dan Ninis sangat bersemangat sekali melakukannya. meski harus sedikit berkotor-kotor dengan tanah, tapi mereka senang sekali. setelah selesai menanam, mereka kemudian menyiram tanamannya dan memberi nama pada potnya masing-masing. Sayangnya saya belum sempat memperlihatkan perkembangbiakan tumbuhan dengan cara cangkok dan okulasi karena saya sendiri tidak mengerti caranya. Saya berencana akan mengajak anak-anak ke tempat penjualan tanaman didekat rumah untuk sekalian belajar langsung kepada ahlinya.

Minggu, 02 Januari 2011

Mengapa harus Homeschooling?

Artikel by Andiny Rizky (Homeschooling-Indonesia.com)






Pertanyaan:

Sekolah itu sejelek-jelek apa pun, bagaimana pun tetap wajib.

Nanti setelah jam sekolah, orang tua boleh saja melengkapi pelajarannya dengan kegiatan membaca buku ensiklopedia bersama, bercakap-cakap bahasa Inggris, field trip ke museum, kursus berenang, bermain alat musik, dan sebagainya.

Kan bisa saja toh semua itu dilakukan tanpa anak harus keluar dari sekolah formal?

Jawaban:

Ya, memang bisa. Siapa bilang nggak bisa. Tetapi yang wajib itu belajar, bukan sekolah. Kewajiban orang tua itu menyediakan pendidikan untuk anak-anaknya. Bagaimana bentuk pendidikannya, itu adalah pilihan. Sekolah adalah pilihan. Homeschooling adalah pilihan.

Aku salut dan mendukung sekali orang tua yang mau melakukan hal-hal tersebut untuk pendidikan anaknya. Aku senang kalau ada orang tua yang tidak lepas tangan dan tetap sadar akan tanggung jawabnya mendidik anak-anaknya, meskipun sudah menyekolahkan mereka.

Kalau ada yang ingin aku tambahkan: semoga orang tua yang baik ini sadar bahwa sekolah bisa gagal, bisa berhasil, dalam mengembangkan potensi anak. Tidak ada jaminan sekolah pasti berhasil. Malah besar kemungkinan sekolah malah menjadi dalang dari perkembangan keyakinan diri yang negatif. Seperti kata seorang guru di blognya : murid-muridnya terlanjur percaya pada cap bodoh yang ditempelkan di jidat mereka sejak kecil. Rasa rendah diri dan merasa bodoh itu akan menghalangi mereka sampai dewasa.

Aku juga ingin bertanya, apakah mungkin orang tua bisa mengajar anak-anak di luar waktu sekolah, sedangkan setelah sekolah yang lama…, apalagi kalau full-day school, anak-anak pasti sudah capek, sudah muak belajar yang lain, apalagi ada tugas sekolah yang harus dikerjakan, ada ujian yang harus dipersiapkan dengan menghapal sampai ngelotok, bikin contekan, dan sebagainya. Di mana waktunya? Mana energinya? Apalagi banyak sekali anak-anak sekolah yang menjadikan belajar sebagai momok, kalau diajak mempelajari sesuatu di luar kelas, mereka menolak, dengan alasan: ah itu kan tidak keluar di ulangan. Betapa banyak anak-anak sekolah yang memperlihatkan reaksi alergi ketika ditanya ‘kamu belajar apa tadi di sekolah?’.

Sayang sekali, faktanya mayoritas orang tua bahkan tidak pernah meluangkan waktu untuk mempertimbangkan pengayaan apa pun di luar pendidikan sekolah formal untuk anak-anak mereka. Mereka tidak pusing-pusing memeriksa PR dan berbagai tugas sekolah lainnya, mereka tidak perduli anak-anaknya paham pelajaran sekolah apa tidak, mereka bahkan menghindari terlibat langsung dalam mendidik anak-anak mereka. Kalau anak-anak berbuat kenakalan, yang terlontar pertama kali dari orang tua semacam ini adalah,

“Ini anak bandel amat. Diajarin apa sih di sekolah? Gurunya siapa sih?”

Ketika ada masalah, yang bersalah adalah anaknya, atau gurunya, atau pengasuhnya. Sedangkan dia sebagai orang tua ‘tidak pernah bersalah’ karena dia sendiri tidak pernah berandil apa-apa.

Kenyataan seperti ini membuat bermunculannya orang tua yang dengan bangga memproklamirkan diri sebagai “praktisi homeschool paruh waktu” atau “afterschooler“(=orang tua yang melengkapi pendidikan anak di luar jam sekolah).

Bukan fenomena yang buruk. Aku setuju kalau jadi orang tua memang harus begitu.

Ketika orang tua yang perhatian tersebut menyadari bahwa sekolah lebih banyak dampak negatifnya bagi anak-anak mereka, semoga mereka cukup berpikir terbuka untuk mempertimbangkan opsi homeschooling.

Pertanyaan ‘kenapa harus homeschool?’ bisa juga aku kembalikan dengan balik bertanya ‘kenapa harus sekolah?’

Perlu diingat, keluarga yang memilih homeschool tidak membuat keputusan dengan ringan dan asal-asalan. Pernahkah berpikir betapa sulitnya menahan serangan konstan dari orang-orang terdekat yang tidak tahu homeschool tetapi berasumsi buruk tentang homeschool? Kan lebih gampang ikut arus. Lebih gampang tetap memasukkan anak-anak ke sekolah meskipun radar kita sebagai orang tua sudah merasakan ‘ada yang tidak beres’.

Kenapa harus sekolah? Kenapa menyerahkan begitu banyak kewenangan kepada sekolah? Begitu tahu sekolah berdampak negatif bagi anak sendiri, kenapa harus menyerah dan tidak berani menarik mereka keluar?

Martin Luther King Jr. berkata:

Pengecut bertanya – apakah ini aman?

Pencari untung bertanya – apakah ini politik?

Penjaga gengsi bertanya – apakah ini populer?

Tetapi hati nurani bertanya – apakah ini BENAR?

Ada waktu seseorang harus mengambil sikap

yang tidak aman, tidak politik, juga tidak populer;

melainkan karena BENAR.

Aku pilih homeschool karena yakin aku benar.

Kalau kamu juga yakin kamu benar, pilih saja sekolah, tidak masalah bagi aku.

Memang tidak semua orang bisa homeschooling karena tidak semua orang mau.

Aku percaya, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kalau sudah yakin dan bersedia melakukan yang perlu, semua orang tua bisa belajar bagaimana mengelola homeschool untuk anak sendiri.

Pada akhirnya kita sebagai orang tua memiliki tujuan yang sama: anak-anak dewasa yang beriman, cerdas, bahagia, dan membawa rahmat tidak hanya untuk dirinya juga orang lain. Sukses, begitulah. Mengapa tidak memperluas pengertian sukses dalam kepala kita masing-masing?

Sukyatno Nugroho adalah tukang es yang tidak sekolah. Sampai sekarang dia masih tukang es, tukang es yang mendirikan Es Teler 77 di seluruh Indonesia.

Sukses tidak harus lewat saluran sekolah. Tidak ada sekolah yang menjamin sukses. Tidak ada sekolah yang mau minta maaf dan bayar ganti rugi kalau murid-muridnya tidak sukses.

Sukses dijamin orang tua yang mencintai dan menyadari tanggung jawab atas pendidikan anak-anak mereka. Orang tua yang bukan sekedar ‘meluangkan waktu’ untuk anak-anak, tetapi ‘mendedikasikan waktu’ untuk mendidik anak-anak.###